ARA & ALLARIC

19 3 1
                                        

— PAGI BERIKUTNYA — MANSION FOR DEMONS

Matahari baru saja naik ketika mansion mulai terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada laporan darurat. Tidak ada rapat strategi. Hanya suara langkah pelayan yang berjalan pelan di koridor panjang.

Di ruang keluarga utama, Ara duduk di sofa besar dengan secangkir teh hangat di tangannya. Rambutnya masih sedikit berantakan setelah bangun tidur. Di depannya, suasana terasa berbeda.

Kenzo bersandar santai di kursi dengan satu tas kecil di lantai. Viren berdiri di dekat jendela sambil mengenakan jaket panjangnya. Zavier menutup tablet di tangannya. Dan Arki berdiri seperti biasa—diam, tenang, dengan aura yang selalu sulit ditebak.

Ara menatap mereka satu per satu. “Kalian mau pergi?” tanyanya pelan.

Kenzo tersenyum kecil. “Pergi, bukan kabur,” katanya santai. Arthur yang berdiri di belakang sofa langsung menyeringai. “Bedanya tipis.”

Kenzo mengangkat bahu. “Rumah kami juga masih ada. Masa ditinggal terus.”

Viren menoleh dari jendela, wajahnya tenang seperti biasanya. “Black Council sudah selesai. Untuk sementara dunia tidak akan bergerak.” Ia menatap Ara sebentar. “Artinya kami juga bisa pulang.”

Ara menunduk sedikit menatap tehnya. Bukan sedih. Hanya… terasa sepi sedikit.

Zavier memperhatikan itu. Ia berjalan mendekat lalu menepuk ringan kepala Ara. “Kami bukan menghilang.”

Ara mendongak. “Kalau ada masalah,” lanjutnya datar, “kau tahu harus menelepon siapa.”

Arthur tertawa kecil. “Ya, jangan sungkan. Ayah Kenzo bahkan mungkin datang duluan hanya karena bosan.”

Kenzo langsung melempar bantal kecil ke arahnya. “Diam kau.”

Arki akhirnya berjalan mendekat. Ia berhenti di depan Ara beberapa detik. Lalu tanpa banyak bicara, ia menaruh sebuah benda kecil di meja. Sebuah ponsel hitam sederhana.

Ara mengerutkan kening. “Apa ini?”

“Saluran langsung,” jawab Arki singkat.

Zavier menambahkan, “Tidak bisa dilacak. Tidak bisa disadap. Hanya tersambung ke kami berempat.”

Kenzo menyeringai. “Tekan satu tombol… dan kami datang.”

Viren menambahkan pelan, “Di mana pun.”

Ara menatap ponsel itu lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Baik.”

Beberapa detik ruangan kembali hening. Lalu Kenzo berdiri dan mengambil tasnya. “Kalau begitu kami pergi dulu sebelum Arthur mulai drama.”

Arthur langsung protes. “Hei!”

Zavier berjalan menuju pintu keluar. Viren mengikuti di belakangnya. Arki adalah yang terakhir berjalan menjauh.

Sagara berdiri di dekat tangga dengan tangan di saku, mengamati mereka. “Kalian yakin?” tanyanya tenang.

Kenzo menoleh sedikit. “Kau punya kami kapan saja.” Ia menunjuk ke arah Ara dengan dagunya. “Selama gadis itu masih di sini, kami tidak benar-benar pergi.”

Arthur menghela napas kecil. “Benar juga.”

Zavier membuka pintu besar mansion. Cahaya pagi langsung masuk. Sebelum keluar, Viren menoleh sekali lagi ke Ara. “Istirahatlah sebentar,” katanya lembut. “Dunia tidak akan runtuh hari ini.”

Ara tersenyum kecil. “Aku tahu.”

Kenzo melambaikan tangan santai. “Jangan buat masalah besar sebelum kami kembali.”

Alea Or KanaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang