12

2 2 0
                                        

Batu merah itu melayang pelan di depan  mark, cahayanya berdenyut hangat seperti napas yang hidup. Udara di sekitarnya masih terasa panas, tapi tidak lagi membakar seperti sebelumnya. Makhluk api besar tadi tetap diam, kepalanya tertunduk seolah mengakui sesuatu.
Mark menelan ludah, lalu mengulurkan tangan perlahan.
“Aku… boleh mengambilnya?”
Begitu jarinya menyentuh batu merah itu—
Cahaya menyala terang.
Simbol di tangannya berubah merah menyala, lalu warna-warna lain ikut berputar di sekelilingnya. Kali ini tidak liar seperti sebelumnya. Cahaya itu bergerak lebih tenang, seolah mengikuti irama yang sama.
Tiba-tiba sebuah penglihatan muncul di benaknya.
Ia melihat sebuah gunung besar yang memuntahkan api. Langitnya gelap oleh abu. Sungai-sungai lava mengalir seperti urat bercahaya di permukaan tanah.
Lalu terdengar suara dalam pikirannya:

Api adalah kekuatan… tapi juga kehidupan.

Jangan biarkan ia menjadi kehancuran.

Sekejap kemudian penglihatan itu hilang.
Mark terhuyung sedikit, tapi tidak jatuh. Batu merah itu kini ada di tangannya, hangat tapi tidak menyakitkan.
Makhluk api di depannya perlahan retak. Cahaya merah di tubuhnya memudar, lalu tubuh besarnya runtuh menjadi batu-batu kecil yang tidak lagi bersinar.
Mark kaget. “Dia… kenapa?”
Kuda putih melangkah mendekat, matanya tenang.

Dia bukan mati, katanya pelan. Dia hanya kembali tidur. Tugasnya menjaga batu itu sudah selesai.

Mark memandang batu merah dan batu hijau di tangannya. Dua batu elemen… dan entah berapa banyak lagi yang harus ditemukan.
“Tadi katanya ada empat… berarti masih kurang dua lagi ya?”
Kuda putih menggeleng pelan.

Empat elemen utama, jawabnya. Tapi dunia tidak hanya punya empat.

Mark mengernyit. “Maksudnya?”
Namun sebelum kuda putih menjawab—
Tanah tiba-tiba bergetar lagi.
Bukan seperti sebelumnya. Kali ini lebih kuat.
Angin bertiup kencang dari segala arah. Debu dan abu berputar di udara seperti pusaran kecil. Batu hijau dan batu merah di tangan mark tiba-tiba bersinar bersamaan.
Lalu… keduanya menunjuk ke arah yang berbeda.
Mark membelalakkan mata. “Loh?! Kenapa arahnya beda?!”
Batu hijau memancarkan garis cahaya ke arah hutan lebat di sebelah kiri.
Batu merah memancarkan garis cahaya ke arah pegunungan di kejauhan.
Kuda putih tampak tegang.

Ini tidak bagus…

“Apa maksudmu?”
Biasanya batu elemen bangun satu per satu.
Kalau dua arah sekaligus… berarti sesuatu sedang membangunkan mereka.

Angin bertiup semakin kencang.
Untuk pertama kalinya, mark merasa perjalanan ini mungkin jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.
“Jadi… kita harus pilih salah satu dulu?”
Kuda putih terdiam sejenak, lalu menunduk sedikit.

Ya.

Dan pilihan itu mungkin akan mengubah perjalanan kita.

Mark melihat ke arah hutan… lalu ke arah gunung.
Hutan tampak gelap dan dalam.
Gunung tampak panas dan berbahaya.

Dua arah.

Dua elemen.

Satu pilihan.

Tiba-tiba simbol di tangannya berdenyut pelan… seolah menunggu keputusan.
Petualangan mereka sekarang bercabang—dan apa pun yang dipilih, pasti ada sesuatu yang menunggu di sana.
Mark berdiri diam di tengah dataran hitam itu. Tangannya masih menggenggam dua batu elemen—yang hijau dan yang merah—keduanya bersinar ke arah yang berbeda.
Ke kiri: hutan lebat, gelap, dan sunyi.
Ke depan: pegunungan tinggi dengan hawa panas yang terasa sampai ke kulit.
Angin bertiup pelan, membuat rambut dan pakaian mark bergerak pelan. Simbol di tangannya masih berdenyut, seolah ikut menunggu keputusan.
“Kalau kita pisah… gak mungkin, kan?” tanyanya pelan.
Kuda putih menggeleng.

warlord PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang