Angin di atas bukit berhembus lebih kencang saat tiga garis cahaya masih melayang di udara. Mark menatapnya lama—pegunungan, lautan, dan reruntuhan kuno. Semuanya terasa penting… tapi waktunya tidak cukup untuk semuanya sekaligus.
Ia mengepalkan tangannya yang memegang batu elemen.
“Kalau penjaga lama itu sudah mulai ambil kekuatan para penjaga…” katanya pelan, “berarti dia pasti bakal cari yang paling kuat dulu.”
Kuda putih mengangguk pelan.
Benar.
Mark menatap garis cahaya yang menuju reruntuhan kuno. Garis itu berbeda—cahayanya lebih pucat, tapi terasa lebih dalam. Entah kenapa, melihatnya membuat dadanya terasa berat.
“Yang ini… terasa aneh.”
Karena itu bukan batu elemen biasa, jawab kuda putih. Itu mungkin tempat asal kontrak elemen pertama.
Mark mengangkat kepala cepat.
“Tempat asal…?”
Kalau ada yang tahu cara mengendalikan semua elemen… mungkin jawabannya ada di sana.
Mark terdiam. Kalau ia terus mencari batu satu per satu, penjaga lama bisa saja selalu selangkah lebih cepat. Tapi kalau ia tahu cara menggunakan kekuatannya dengan benar…
Mungkin ia bisa mengejar.
“Kita ke sana,” katanya akhirnya.
Begitu keputusan itu dibuat—
Garis cahaya menuju reruntuhan langsung bersinar lebih terang, seolah menyetujui pilihan itu. Dua garis lainnya perlahan meredup, meski tidak benar-benar hilang.
Mark naik ke punggung kuda putih.
“Kali ini kita gak cuma cari batu,” katanya.
“Kita cari jawaban.”
Kuda putih menghentakkan kakinya pelan.
Pegang erat.
Dan mereka pun berlari lagi.
Perjalanan kali ini lebih panjang.
Mereka melewati hutan yang semakin jarang, lalu dataran luas dengan rumput tinggi yang bergoyang seperti ombak. Langit perlahan berubah jingga, lalu ungu saat malam mulai turun.
Beberapa kali batu di tangan mark bergetar pelan—seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.
Akhirnya, saat bulan mulai naik—
Mereka melihatnya.
Di kejauhan, berdiri bangunan batu besar yang hampir runtuh. Pilar-pilar tinggi menjulang miring, sebagian sudah patah dan tertutup tanaman liar. Gerbang besarnya terbuka setengah, seperti mulut yang menganga dalam kegelapan.
Reruntuhan kuno.
Kuda putih melambat.
Tempat ini… masih hidup.
Mark turun perlahan.
“Reruntuhan kok hidup…”
Begitu ia melangkah mendekat—
Simbol di tangannya langsung menyala terang.
Angin berputar pelan di antara pilar-pilar. Debu-debu halus terangkat dari lantai batu yang retak. Bahkan batu hijau dan batu merah ikut bersinar lebih kuat dari sebelumnya.
Seolah mereka… pulang.
Mark menelan ludah.
“Kayaknya… tempat ini penting banget ya.”
Tiba-tiba terdengar suara batu bergeser.
Mark langsung menoleh.
“Apa itu?!”
Dari balik salah satu pilar yang runtuh, muncul cahaya samar. Bukan merah seperti api, bukan hijau seperti hutan—tapi putih kebiruan yang lembut.
Lalu terdengar suara.
Tua. Tenang. Dalam.
Sudah lama… sejak terakhir kali seseorang datang membawa semua elemen.
Mark membeku.
“Kau… siapa?”
Cahaya itu perlahan membentuk sosok samar—tidak sepenuhnya terlihat, seperti bayangan dari masa lalu.
Penjaga pertama.
Kuda putih langsung menundukkan kepalanya rendah.
Mark membelalakkan mata.
“Penjaga… pertama?”
Cahaya itu berdenyut pelan.
Dan kau… datang terlambat.
Mark utama berdetak lebih cepat.
“Terlambat untuk apa?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu penjaga pertama berkata:
Yang jatuh itu… sudah mulai mengumpulkan kekuatan.
Dan dia sedang menuju batu berikutnya.
Angin tiba-tiba berhembus masuk ke reruntuhan, membuat debu berputar di udara.
Perjalanan mark baru saja berubah lagi.
Sekarang bukan cuma tentang belajar kekuatan—
Tapi juga bersiap sebelum penjaga lama menjadi terlalu kuat untuk dihentikan.
Mark menatap sosok cahaya itu dengan gelisah. Kata-kata “kau datang terlambat” terus terngiang di kepalanya.
“Terlambat… maksudnya aku gagal?” tanyanya pelan.
Cahaya penjaga pertama berdenyut lembut, seolah mempertimbangkan jawabannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
warlord Prince
Fantasy"Akan ada 7 orang anak adam bersama satu , yang akan menghancurkan kegelapan yang terjadi di Eithiopia.Ditangan pangeran panglima perang sejarah baru Eithiopia berada."
