13

4 1 0
                                        

Kabut di antara pepohonan semakin tebal saat sosok itu melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah seperti membusuk—rumput menghitam dan daun-daun berguguran sebelum sempat menyentuh tanah.
Mark mencengkeram batu hijau lebih erat.
“Apa… itu?”
Sosok itu akhirnya keluar dari balik kabut.
Bentuknya tinggi seperti manusia, tapi tubuhnya tertutup lilitan akar hitam yang bergerak pelan seperti hidup. Di beberapa bagian, terlihat seperti kayu retak yang menyala redup dari dalam—bukan merah seperti api, tapi ungu gelap seperti luka yang belum sembuh.
Wajahnya hampir tidak terlihat jelas… kecuali dua mata yang bersinar tajam dari dalam bayangan.
Rusa roh langsung mundur satu langkah.

Dia… sudah berubah lebih jauh dari yang kuduga…

Mark berbisik, “Kau kenal dia?”
Kuda putih menjawab pelan, suaranya terdengar tegang.

Dia bukan makhluk biasa.
Dia dulu… penjaga juga.

Mark tersentak. “Penjaga?”
Sosok itu berhenti beberapa langkah di depan mereka. Akar-akar di tubuhnya bergerak perlahan, seperti bernapas.
Lalu suara berat terdengar—bukan di telinga, tapi langsung di kepala.

Jadi… akhirnya muncul juga.

Mark merasa dingin sampai ke tulang.
“Apa yang kau mau…?”
Sosok itu menoleh sedikit, menatap batu hijau dan batu merah di tangan tokoh utama.

Batu elemen.
Serahkan.

Rusa roh menghentakkan kakinya ke tanah. Akar-akar pohon di sekitar mereka bergerak naik ke permukaan, seperti mencoba melindungi.

Pergilah, kata rusa roh pada mark. Dia bukan musuh yang bisa kau lawan sekarang.

Tapi sosok itu mengangkat tangannya perlahan.
Akar-akar hitam di tanah langsung menjalar lebih cepat, mematahkan akar pohon yang mencoba menghalangi.

Sudah terlambat.

Mark mundur selangkah. “Dia sebenarnya siapa?!”
Kuda putih menjawab pelan:

Dia dulunya penjaga elemen hutan… sebelum rusa roh ini.

Mark membelalakkan mata.
“Maksudmu… dia penjaga sebelumnya?!”
Rusa roh menundukkan kepalanya sedikit.

Dia dulu melindungi batu elemen… sampai suatu hari dia mencoba menguasai kekuatannya.

Sosok itu tertawa pelan—suara yang terdengar retak seperti kayu patah.

Menguasai?
Aku hanya mencoba menyelamatkan dunia… dengan caraku sendiri.

Tiba-tiba mata ungunya menyala lebih terang.

Dan sekarang… kekuatan itu kembali.
Dalam dirimu.

Akar-akar hitam mulai bergerak lebih cepat, merayap mendekat dari segala arah.
Kuda putih menghentakkan kaki depannya.
Dia datang untuk mengambil batu-batu itu… dan juga kekuatanmu.
Mark merasa simbol di tangannya mulai panas lagi.
“Kalau dia dapat semua batu… apa yang terjadi?”

Rusa roh menjawab pelan:
Dia tidak akan mengembalikan keseimbangan.
Dia akan memaksa semua elemen tunduk padanya.

Sosok itu melangkah lagi.
Lebih dekat sekarang.

Serahkan batu itu, katanya dingin.

Atau aku akan mengambilnya.

Sekarang jelas—
Yang datang bukan sekadar musuh biasa.
Dia adalah penjaga lama yang jatuh, seseorang yang dulu melindungi elemen… tapi sekarang ingin menguasainya.
Udara di dalam hutan terasa semakin berat. Akar-akar hitam terus merayap mendekat, memecah tanah dan melilit akar pohon yang lebih kecil. Kabut berputar pelan di sekitar mereka, seolah hutan itu sendiri sedang menahan napas.
Mark berdiri kaku, menggenggam batu hijau dan batu merah. Simbol di tangannya mulai bersinar lagi, kali ini lebih terang dari sebelumnya.
“Apa… kita harus melawan?” bisiknya.
Kuda putih menghentakkan kakinya pelan, tapi tidak maju.

warlord PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang