-- Typo's --
Duduk di ruang TV selama lebih dari 3 jam, nonton Youtube Reman yang mana game-nya itu game favorit Naufal: Minecraft. Tangan kirinya terikat atau lebih tepatnya ditusuk jarum infus, sedangkan tangan kanannya fokus nyomotin snack.
Dipikir-pikir selama 3 jam ini, Naufal ngerasa kalau sekarang ini terlalu damai. Biasanya setiap pergerakan dia udah kaya adegan di film, alias pasti aja ada yang merhatiin. Meskipun sebenernya masih ngerasa diperhatiin, tapi ngga separah kemarin-kemarin.
Ngga tau kenapa? Feeling kali.
Beberapa kali dapet chat dari Faisal sama Bowo tentang perkembangan Antariksa juga Nevers. Tapi Naufal males ambil pusing sih. Dia lagi mikirin PR bahasa Inggris dari guru cantik tapi mulutnya buruk rupa itu.
Sepele sih, tapi ngga sepele karena susah nulis.
Padahal yang ditusuk tangan kiri, jir, bukan tangan kanan.
"Pacarmu berapa, ko? Kalau lebih dari dua, Papa tambahin uang jajannya setengah persen."
"Setengah persen itu seribu?" Naufal menoleh. Dari arah pintu ada kakak pertama sama si kakak ketiga. Jangan lupain bapaknya yang ada di antara kedua kakaknya itu.
Tapi Naufal lebih memilih buat lanjutin nonton YouTube sih.
"Maksudnya nambah 50% dari yang sekarang, atau 0,5% dari uang jajan sekarang?" Itu Haekal yang menimbrung dalam obrolan si sulung dan si kepala keluarga.
Papa Jeff sempat menimang sebentar, kemudian duduk di samping Naufal dan tangannya iseng nyomot ke dalam snack si bungsu. Tatapan maut kerasa angker macam lagi di rumah kosong, tapi Papa Jeff lebih milih mikir sambil nikmatin snack. Haekal sama Reyhan sebenarnya udah ketar-ketir, takut si bungsu ngamuk.
"Papa rencananya mau ngasih koko mobil papa yang warna biru it-"
"Emang Papa punya mobil warna biru ko?" Haekal makin kesini makin hobi motong percakapan, ya.
Reyhan ngangguk "Itu loh, Mazda CX-5 nya Papa."
"Lah, kapan belinya itu?"
"Entah, koko juga bingung tau-tau ada itu mobil di garasi."
"Itu papa beli di tempat lelang." Haekal sama Reyhan manut-manut, tiba tiba percakapan mereka berbacksound gergaji mesin di arah belakang. Itu udah pasti Jean yang lagi sibuk ngurus kandang ayam biadab (menurut Reyhan) itu.
Naufal berdiri dari sofa. Pandangan ketiga manusia lainnya langsung berfokus pada si bungsu. "Kemana?" Bahkan mereka nanya berbarengan udah kayak tanya jawab anak TK.
"Bikin makanan manis."
"Kenapa ngga beli aja?" Ini Papa Jeff dengan logika dompet tebalnya.
"Lebih enak bikin sendiri."
"Tanganmu loh, dek. Itu masih ada infus, biar aa aja yang bikin." Padahal dia tadi mikir gak bisa nulis karena lagi diinfus, tapi giliran makanan manis mendadak sembuh tu tangan.
"Koko aja deh yang bantu."
"Papa juga mau bantu."
Naufal bingung. Mereka ngomongnya berbarengan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nicholas Family
Short StoryIni adalah keluarga Nicholas, dengan si bungsu sebagai tahta tertinggi per Nicholas-an.
