Manis dan beracun

219 26 10
                                        

Typo's

FLASHBACK  |

Kabar tentang Jean dan Nita merayap di aspal, menyusup ke setiap sudut markas hingga anak-anak Antariksa tahu siapa wanita yang berhasil menduduki kursi di samping sang Ketua. Ini adalah bulan ke enam bulan mereka merajut asmara, beriringan dengan bulan ke sembilan Antariksa berdiri kokoh—menjadi penguasa yang menancapkan taringnya di rimba jalanan.

Sesekali Nita turut hadir dalam lingkar perkumpulan Antariksa, membuat eksistensinya bukan lagi rahasia. 

Malam ini, di bawah langit malam Minggu, mereka larut dalam ritual klasik sepasang kekasih: menyusuri bibir pantai setelah puas berburu barang-barang mewah di mal dengan harga yang cukup membuat dahi orang kebanyakan pusing.

Jean memandang Nita dengan tatapan penuh pemujaan. Bagi Jean, gadis itu bak dewi yang turun dari singgasana langit malam—terlalu memukau dengan dress hitam sepaha yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Kecantikannya seperti sebuah hiperbola yang menjadi nyata, membuat Jeano bertekuk lutut, bucin habis-habisan tanpa sisa harga diri.

Alay sekali Jean.

"Kamu sayang aku?" tanya Nita, suaranya lembut mengalun bak nyanyian siren.

Jeano mengangguk mantap, tatapannya seolah menyembah gadis berambut cokelat itu. "Sayang banget, aku sayang banget sama kamu."

Nita menampilkan senyum manis—begitu manis sampai rasanya Jeano bisa melayang menembus awan saat itu juga. "Kamu bakal lakuin apa aja buat aku?"

"Apa pun."

"Berlutut!" perintah Nita singkat. Dan Jeano menurutinya. Si penguasa jalanan itu kini berlutut dengan kepala menengadah, seakan menyerahkan seluruh dunianya di bawah kaki sang gadis.

"If I ask for everything, would you do it for me?" tanya Nita, suaranya manja namun sarat tuntutan.

"Yeah, I'd do it. I'll do anything for you," sahut Jean, menyerahkan seluruh logikanya tanpa sisa.

"A Civic?"

"Sure."

"An apartment?"

"Of course, Babe."

"Kalau aku habisin semua uang jajan kamu? Kamu nggak apa-apa?"

"Just do it, Honey. I don't mind." Jean sudah kehilangan akal sehat. Logikanya tergadai oleh paras cantik di hadapannya.

Namun, ponsel di saku Jean tiba-tiba bergetar hebat. Perhatiannya terbelah setelah dering kedua memecah suasana, karena pada dering pertama ia terlalu terpaku pada Nita. Begitu nama Naufal muncul di layar, ia langsung mengangkatnya.

"Kenapa, Dek? Abang masih di luar."

"Pulang, Abang. Adek sendirian."

Hanya satu kalimat pendek, tapi cukup untuk membuat Jeano sontak bangkit berdiri. Gerakan itu memancing kerutan bingung bercampur kesal di wajah Nita. "Ayo pulang, Sayang. Aku anterin sekarang."

"Masih jam delapan, Jeano! Kebiasaan kamu kalau lagi main suka tiba-tiba pulang gini. Kita itu jarang ketemu, loh," protes Nita dengan nada meninggi.

"Jarang gimana, Sayang? Kita ketemu tiap hari, bahkan waktu istirahat pun kita bareng, kan?"

"Ya aku kangen. Beda rasanya kalau lagi berdua gini. Katanya tadi mau lakuin apa pun buat aku, mau kasih apa pun!"

"Naufal sendirian di rumah, Sayang." Jean tetap tak menaikkan nada suaranya; ucapannya tetap tenang dan lembut. "Ayo, aku antar pulang ya, Cantik?"

Nicholas FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang