Typo's
FLASHBACK | Dua Tahun Lalu
Malam itu, di bawah cakrawala Jakarta yang jelaga, aspal bisu dengan temaram lampu jalanan yang sekarat adalah milik Antariksa. Itulah masa keemasan mereka; sebuah faksi motor yang baru seumur jagung namun telah berhasil menaklukkan sirkuit tiga kawasan.
Kemenangan demi kemenangan diraih dengan mudah oleh tiga bersaudara yang, jika dilihat sekilas, hanyalah sekumpulan bocah yang bau kencurnya belum hilang sepenuhnya.
Reyhan adalah artist di balik bendera hitam berlogo bintang jatuh itu. Sebenarnya, logo itu tampak biasa saja jika hanya dipandang mata, namun aura yang dibawanya sanggup membuat nyali siapa pun di jalanan menciut (bagi yang tahu). Aura yang membawa rasa gentar, gentar yang melahirkan pengakuan bahwa meski mereka pemain baru, skill mereka tidak bisa diremehkan, anjay.
Jeano Ardiansyah Nicholas, sang nakhoda, menyesap kaleng sodanya dengan tenang, sebuah perayaan kecil nan murah atas keberhasilan mereka menelan kawasan baru ke dalam kantong kekuasaan. Di sisinya, ada Reyhan dan Haekal yang baru saja menceburkan diri ke dalam riam yang sama.
Haekal, meski paling muda, adalah aset berharga bagi Antariksa; otaknya jenius dalam merajut strategi pertempuran dan mulutnya cukup lihai untuk merontokkan mental lawan bahkan sebelum mesin motor sempat dipanaskan di arena (read: provokator)
"Papa pulang kapan deh, Ko?" tanya Jeano, memecah deru angin malam.
Reyhan menoleh sekilas. Tangannya merogoh saku, menarik benda pipih yang menampilkan barisan pesan WhatsApp tanpa notifikasi baru. "Papa nggak pulang."
Haekal yang tadinya asyik bertukar tawa dengan Hendery mendadak bungkam. Tatapannya berserobok dengan Jeano dan Reyhan. Ada satu nama yang tiba-tiba melintas di kepala mereka, satu-satunya alasan mengapa mereka masih memiliki sisa kemanusiaan di balik jaket kulit itu, asek.
"Naufal sendiri di rumah."
Hanya empat kata. Tanpa dikomando, tanpa tapi, ketiga Nicholas langsung beranjak, meninggalkan sirkuit yang baru saja mereka taklukkan demi menjaga satu-satunya permata yang tak boleh retak di rumah.
---
"Dua tiga beli ketupat, maafkan beta adikku, beta terlambat." Pantun receh itu hanya dibalas lirik malas oleh Naufal. Ia menghempaskan raganya ke atas kasur, lantas mulai menenggelamkan diri di antara lembaran komik horor—buah tangan Reyhan beberapa hari lalu yang tintanya masih menyisakan aroma toko buku.
Haekal menyengir tanpa dosa. Ia turut merebahkan tubuhnya, menginvasi ruang di samping Naufal sembari mencoba mengintip visual seram yang tengah memaku atensi adiknya itu. "Sejak kapan kamu suka baca komik?"
"Sejak Aa nggak ngizinin adek main lagi," jawab Naufal ketus. Haekal menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedikitnya merasa bersalah, namun baginya dan kedua kakaknya, mengekang Naufal adalah bentuk kasih sayang yang paling logis saat ini.
Ingatan Haekal terlempar pada insiden beberapa hari lalu. Naufal pamit bermain ke rumah Felix dan berjanji pulang diantar ibunda kawannya itu, namun kenyataannya, siluet Naufal tampak berjalan sendirian membelah malam. iPad di tangannya hampir saja menjadi undangan bagi maut ketika segerombolan preman mencoba menyergapnya.
Jika preman adalah gangguan musiman yang jarang, maka ancaman kedua adalah mimpi buruk yang membuat Jean, Reyhan, dan Haekal terjaga tiap malam: Naufal pernah menjadi sasaran oleh musuh baru Jean saat perjalanan pulang sekolah. Mereka tak sudi jika setitik luka pun hinggap di kulit Naufal hanya karena remah-remah dosa yang mereka perbuat di jalanan.
"Adek ada PR Geografi, Aa yang kerjain boleh nggak?" pinta Naufal tiba-tiba.
Senyum Haekal merekah lebar, seolah baru saja mendapatkan tugas mulia. "Bisa dong, adek manis. Apa sih yang nggak buat adek." Padahal dalam benaknya, bukan otaknya yang akan bekerja, melainkan otak temannya yang siap dijadikan tumis tugas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nicholas Family
Kısa HikayeIni adalah keluarga Nicholas, dengan si bungsu sebagai tahta tertinggi per Nicholas-an.
