Nevers Never Lose

199 31 6
                                        

-- Typo's --

"Apartemen, tiga unit mobil, Credit Card yang masih aktif sampai detik ini. Ular satu ini nggak akan pernah  ngerasa puas sebelum Antariksa bener-bener tumbang dan jadi bangkai, ya?" Naufal bergumam sendiri, suaranya nyaris tertelan keheningan kamar yang hanya diisi deru kipas laptop.

Layar di depannya menampilkan barisan angka yang menari-nari (bikin pusing), menunjukkan grafik kerugian yang dialami Jean secara pribadi, hingga borok finansial Antariksa yang kian menganga. Untuk data pengeluaran pribadi Jeanno, jelas bukan perkara sulit bagi Naufal untuk menembus dinding pertahanannya. Namun, dari mana Naufal bisa mendapatkan data sepresisi itu mengenai isi perut Antariksa? Tentu saja dari Surya, sang informan bayangan yang hatinya masih tertinggal di markas meski raganya sudah diusir paksa.

Naufal menghela napas panjang, membiarkan dadanya terasa sesak sejenak sebelum menghempaskan raga di atas kasur. Tak butuh waktu lama sampai ia kembali terjaga, meraih kunci motor, dan menyeret langkahnya keluar. Di sana, ia mendapati sang kepala keluarga tengah berjongkok di depan pot kaktus, seolah-olah tanaman berduri itu adalah kawan lama yang sedang diajak bertukar gossip.

"Ngapain, Pa?"

Jeff hanya menoleh sekilas, matanya masih terpaku pada hijau yang berduri. "Papa bingung, kenapa dia nggak butuh air?"

"Maksudnya gimana?" Naufal mendekat, melihat punggung Papanya yang tampak santai.

Jeff beranjak, merapikan sedikit setelan santainya. "Habis ngobrol sama kaktus, katanya dia nggak butuh air."

"Ya karena dagingnya emang nyimpen banyak cadangan cairan, kan?"

"Masuk akal, Sayang. Tapi tetap saja, yang namanya nyawa harus dikasih asupan cairan, kan? Meskipun dia memagari diri dengan duri, dia tetap butuh perlindungan."

"Dari apa?" tanya Naufal, keningnya berkerut.

"Kaktus itu paradoks, Dek. Nggak boleh terlalu sering disiksa hujan, tapi nggak boleh juga dibiarkan mati kekeringan. Bahkan air yang kebanyakan pun bisa bikin akarnya membusuk dan dia mati perlahan."

"Adek nggak ngerti ih, Papa." Naufal menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Jeff hanya menyesap teh hangatnya, mencelupkan biskuit dengan gerakan yang sangat tenang—pemandangan yang sedikit menyulut rasa sebal di hati Naufal, karena itu adalah biskuit jatah sarapannya yang biasa bersanding dengan Milo hangat.

"Ya lihat saja, kaktus itu kelihatannya saja kuat. Mentang-mentang habitatnya di gurun pasir, bukan berarti dia tahan dipanggang panas terus-menerus. Tapi bukan berarti juga dia bisa bertahan sama air yang berlebihan, karena akarnya itu rapuh, mudah busuk kalau salah diurus. Di habitat aslinya pun, mereka tumbuh di bawah 'tanaman perawat' seperti palo verde dan  mesquite."

"Kesimpulannya?"

"Sekuat apa pun kelihatannya, kaktus itu diam-diam butuh dilindungi, Adek."

Naufal terdiam, membiarkan kalimat Papanya berputar di kepala, menelusup ke sela-sela pikirannya yang sedang semrawut. Sampai kemudian ia berpamitan untuk menuju rumah Faisal dan Felix—kawan sepermainannya sejak masa ingusan di bangku TK (khusus Faisal), yang sekarang menjadi teman sekelas yang paling bisa diandalkan.

Jeff memberikan restu dengan syarat yang khas: "Jangan pulang terlalu larut, dan tolong belikan Papa sate Taichan di gang depan sana ya. Nanti biar Papa yang jelasin ke Abang, Koko, sama Aa kalau adek pergi bermain sama teman ingusanmu itu."

Nicholas FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang