-- Typo's --
- - -
Flashback selesai.
- - -
Sepertinya langit mendukung suasana malam ini. Sirkuit pertandingan antara Nevers dan para pengkhianat Antariksa ramai sekali. Nyaris seluruh geng motor dari empat kawasan turun untuk menonton; kepada siapakah Antariksa akan jatuh?
Seminggu sebelumnya, Jeano sempat melawan balik untuk merampas apa yang telah ia bangun. Namun, Venzo terlalu licik. Ia melumpuhkan Jeano melalui orang-orang kepercayaan di dalam Antariksa, tak lupa menjadikan beberapa hal sebagai ancaman yang membuat Jeano tak berkutik. Jeano dan Antariksa benar-benar sudah berada di ujung tanduk jika saja Nevers tidak turut andil dalam perebutan kekuasaan.
Dirinya benar-benar tak bisa berbuat apa-apa karena Antariksa digerogoti dari dalam.
Reyhan, Haekal, dan Jean membisu, tenggelam dalam amarah serta penyesalan. Sedangkan di sisi lain, Naufal memantik api untuk membakar nikotin di bibirnya. Sudut bibirnya terangkat sebelah, menatap bagaimana ketiga kakaknya—yang biasanya mengekang—kini tunduk di bawah kakinya. Selain itu, ia menikmati bagaimana tatapan penuh puja serta kagum orang lain melihat Nevers berdiri begitu kokoh dan kuat tanpa ada satupun yang berani mengusik.
Naufal benar-benar merasa puas melihat Venzo serta Ben yang kelimpungan mencari taktik serta strategi agar bisa memenangkan taruhan dengan hadiah menggiurkan ini. Segala cara licik sudah dilakukan; Felix menemukan hal janggal pada motor Naufal lima menit lalu, padahal pertandingan akan dimulai sepuluh menit lagi. Naufal benar-benar bersumpah—bahkan bersumpah dengan lantang—bahwa ia akan menghajar Venzo setelah pertandingan karena melakukan kecurangan dengan menyabotase mesin.
Hal memalukan bagi Venzo ini sempat memicu keributan jika saja Faisal, sang ketua Nevers, turun tangan.
Pertandingan segera dimulai. Reyhan serta Haekal menatap was-was, takut terjadi sesuatu terhadap Naufal. Sedangkan Jean menatap kosong ke arah sirkuit; begitu banyak yang memenuhi kepalanya sehingga rasanya ia ingin membunuh wanita itu sekarang juga. Dani, Nita, bahkan geng Dani alias Mileage, mereka sudah lama menghilang. Benar-benar menghilang begitu saja.
Ketika suara tembakan tanda dimulainya pertandingan menggema, Jeano mengalihkan pandangan kepada Naufal yang melaju begitu cepat. Jantungnya berdetak kencang, merasa khawatir setengah mati pada si bungsu. Namun, Surya tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya tanpa menatap Jean. Jean mengulum bibirnya, merasa canggung sekaligus bersalah atas kejadian nyaris setahun lalu itu.
"Udah lama ngga ketemu, dan malah nemuin lu ketika lu ada di ujung jurang," buka Surya, terdengar lumayan sarkas namun membuat Jean tersenyum tanpa arti yang pasti.
"Gua pikir cuma gua yang bakalan hancur karena ulah si ular itu, Je. Ternyata lu hancur sejauh ini, lebih hancur dari apa yang gua bayangin. Padahal waktu itu, gua ngeliat lu beneran sejatuh cinta itu sama dia."
Jean terkekeh ringan. "Ngga ada yang salah sama jatuh cinta, tapi kesalahan gua ada di cara gua jatuh cinta. Ngedorong lu, bahkan gua beneran nyingkirin sahabat gua, kepercayaan gua karena gua terlalu jatuh cinta. Gua ngga bisa dimaafkan, Sur. Hahaha."
Mendapati luka dalam tawa Jean, Surya tersenyum tipis, merasa miris. Ia menunduk, memainkan batang nikotin dengan memori yang kembali pada masa di mana ia menjadi korban fitnah wanita ular itu.
Sedangkan Jean hanya menunduk tanpa tahu harus berkata apa lagi.
"Lo bener, Je. Lo ngga salah karena jatuh cinta, lo cuma salah gimana cara lo mencintai aja. Dan karena itu, lo kehilangan Antariksa, juga Naufal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nicholas Family
Cerita PendekIni adalah keluarga Nicholas, dengan si bungsu sebagai tahta tertinggi per Nicholas-an.
