N & J

214 28 3
                                        

Typo's

FLASHBACK |

Seminggu setelah Nita benar-benar enyah, waktu di hidup Jeanno seolah berhenti berputar. Langit kamar yang biasanya jadi tempat ia merajut mimpi asmara, kini hanya menyajikan keheningan yang menyesakkan. Jeanno hancur—sehancur kepingan kaca yang diinjak paksa (alay). Ia tak lagi mengenal kamarnya; baginya, kamarnya itu adalah tempat di mana ia teringat betapa tololnya ia karena telah menggadaikan segalanya demi seorang pengkhianat.

Setiap malam, ketika lampu kota mulai berpijar, Jean akan menyeret langkahnya menuju sebuah nightclub di jantung Jakarta Selatan. Di sana, di pojok remang yang berbau campuran parfum mahal dan alkohol murahan, ia duduk layaknya rongsokan tak berharga.

Matanya yang biasanya tajam, kini kuyu dan merah. Tangannya yang biasa menggenggam kemudi Antariksa, kini lebih akrab dengan gelas-gelas liquor yang terus diisi ulang.

"Jean, udah... lo udah minum terlalu banyak," bisik seorang wanita dengan pakaian minim yang sedari tadi sengaja menempel di lengannya.

Jean tak menjawab. Ia hanya melirik wanita itu dengan pandangan kosong, sebelum akhirnya menarik pinggang wanita itu mendekat. Bukan karena cinta, bukan pula karena nafsu yang murni—Jean hanya butuh merasa "ada". Ia butuh distraksi dari rasa sakit yang kian menggerogoti ulu hatinya. Malam-malamnya berakhir di kamar hotel atau apartemen asing, terbangun dengan kepala yang pecah dan aroma wanita yang tak ia kenali namanya. Ia jarang pulang, apalagi saat Jeff sedang dinas luar kota; rumah itu terasa seperti kuburan baginya.

Di sisi lain, Reyhan berdiri di antara puing-puing Antariksa yang mulai goyang. Sebagai anak sulung, ia merasa ada beban yang menekan pundaknya. Ia melihat Jeanno yang hancur, dan ia tahu ia harus memegang kendali. Reyhan menarik napas panjang, menyesap rokoknya dalam-dalam sebelum membuang jelaganya ke aspal sirkuit malam itu.

"Mulai sekarang, gua yang pegang Antariksa sampai Jean waras," ucap Reyhan di depan anak-anak yang berkumpul.

Reyhan mematikan mesin motornya, membiarkan raungan knalpot yang baru saja membelah malam itu mereda menjadi denting besi yang mendingin. Di bawah temaram lampu jalanan yang berkedip sekarat, ia masih duduk di atas jok, membiarkan seorang gadis dengan pakaian ketat mendekat—sebuah "piala" dari kemenangan telak yang baru saja ia raih di aspal panas kawasan Barat.

​Jari-jari Reyhan yang masih terbungkus sarung tangan kulit terulur, menarik dagu gadis itu pelan. Ia menebar pesona dengan cara yang sangat tenang, sebuah taktik ngebaperin orang yang mematikan karena ia jarang bicara. Matanya yang misterius menatap lurus, memberikan perhatian semu yang sanggup membuat jantung siapa pun berdebar tidak keruan, yaelah koko.

Reyhan memang turut mencicipi manisnya malam; ia menikmati setiap sentuhan yang ditawarkan sebagai bentuk pelarian dari rasa penat sebagai manusia. Namun, di saat bibirnya sibuk menyesap manisnya madu taruhan, telinganya tetap tajam menangkap setiap desas-desus di markas.

​Ia adalah penengah sekaligus pelindung yang tak begitu terlihat. Ketika Haekal mulai terlihat terlalu arogan dan hampir memicu perkelahian yang tidak perlu dengan geng sebelah, Reyhan akan menarik kerah baju adiknya itu dengan kasar seperti anak ayam, menjauhkannya dari kerumunan sebelum segalanya lepas kendali.

​"Jangan bikin gua gantung lu di depan kamar mandi, ya, panteq. Udah cukup itu abang lu yang bikin gua migrain, lu jangan nambah-nambah atau gua stroke sekarang juga." desis Reyhan rendah. Di sela-sela waktu bejatnya, ia tetap memastikan Antariksa tidak karam, menjaga agar bendera hitam itu tetap berkibar meski sang Nahkoda sedang tenggelam dalam lautan alkohol.

Nicholas FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang