Malam kian merambat, dan suhu udara perlahan merosot tajam. Haekal bisa merasakan dinginnya atmosfer saat ini setara dengan tatapan maut yang dilemparkan Naufal pada Venzo. Di aspal yang keras itu, Venzo dan tiga orang anteknya tergeletak tak berdaya, menjadi korban dari "pukulan sayang" si bungsu Nicholas. Haekal melirik kepalan tangan Naufal; jemarinya tampak memar dan luka, bukti bahwa pukulan yang ia daratkan tadi bukan sekadar gertakan, melainkan hantaman penuh emosi yang bahkan melukai dirinya sendiri.
Saat Haekal hendak melangkah, Reyhan sudah lebih dulu maju. Sulung Nicholas itu menghampiri Naufal yang masih berdiri kaku di belakang Felix dan Faisal. Pelukan Jean di sirkuit tadi rupanya hanya jeda singkat, sebuah interlude sebelum Naufal kembali lepas kendali dan membabi buta. Jean sendiri sempat merasa sungkan untuk melerai, apalagi Faisal dan Surya memberi kode agar membiarkan Naufal menuntaskan amarahnya.
"Ayo pulang," ajak Reyhan rendah.
Tangan Reyhan bergerak cekatan. Ia menyampirkan kembali jaket berlogo Nevers ke bahu Naufal. Slayer putih yang melilit leher sang Panglima Nevers ia lepas perlahan, lalu dilipat dengan gerakan rapi yang sangat protektif. Adegan itu mungkin terlihat sederhana, namun cukup untuk menyita seluruh atensi Jean dan Haekal.
"Mau es krim cokelat atau vanila?" tanya Reyhan, berusaha mencairkan ketegangan.
"Vanila. Beli semua rasa aja biar Abang, Koko, sama Aa bisa ikut makan," sahut Naufal parau.
"Dimakan besok saja ya? Udah terlalu malam. Sekarang susu kotak sama Kinder Joy aja kalau mau yang dimakan sekarang," tawar Reyhan lagi.
Naufal hanya mengangguk patuh, mengikuti langkah kaki Reyhan menuju deretan motor yang terparkir. Namun, langkahnya terhenti sejenak. "Tanya Abang sama Aa, mau nggak?" bisik Reyhan di sana. Ia menoleh, menatap dua kakaknya yang masih mematung di tempat. "Mau susu kotak sama Kinder Joy nggak? Koko yang mau traktir, katanya."
Haekal tidak butuh undangan kedua. Ia langsung berlari kencang menghampiri Naufal, sementara jaket Antariksa yang tadi hanya ia sampirkan kini ia pakai dengan benar. Jean tersenyum tipis, ikut menyusul dengan perasaan yang bergejolak hebat di dada. Hatinya menghangat melihat binar di mata Naufal, meski rasa bersalah masih menghantui.
Ban lengan tanda ketua Antariksa kembali Jean posisikan di tempatnya. Ketiga Nicholas tertua itu kembali mengenakan jaket kebanggaan mereka dengan perasaan campur aduk, sementara si bungsu tetap tegak dengan identitasnya sebagai Panglima Nevers.
"Aa mau tiga Kinder Joy-nya!" seru Haekal tanpa tahu malu.
"Ngelunjak. Jangan bikin gua harus nendang lu ya." sahut Reyhan datar.
"Pelit amat, mang ngapa si gaboleh."
---
Di ruang tengah kediaman Nicholas yang remang, suasana mendadak melunak. Naufal duduk menunduk, memperhatikan betapa cekatnya tangan Reyhan saat membalut luka di jemarinya—sisa-sisa "kenang-kenangan" saat menghajar Venzo tadi. Di sampingnya, Haekal sibuk menyuapi Naufal cokelat dari Kinder Joy miliknya. Bahkan, Haekal sama sekali tidak mencicipi bagiannya; semuanya ia berikan untuk si bungsu seolah-olah cokelat itu adalah obat penenang paling mujarab.
Jean menatap pemandangan itu dengan sejuta rasa yang sulit didefinisikan. Sesekali matanya tertuju pada atribut Nevers milik Naufal—jaket, slayer, dan ban lengan yang menandakan kekuasaan di jalanan. Sosok yang selama ini mereka kunci rapat-rapat agar tidak terjun ke dunia yang sama ternyata diam-diam sudah membangun takhtanya sendiri.
Jean merasa malu. Ia baru menyadari perbedaan mencolok antara Antariksa dan Nevers dalam masa perkembangan mereka. Antariksa yang ia pimpin mungkin besar, tapi Nevers jauh lebih bersih dan efisien. Jean tersadar, selama ini dialah yang merasa telah melindungi Naufal, padahal kenyataannya justru sebaliknya. Naufal-lah yang menyapu bersih kekacauan yang dibuat oleh ketiga kakaknya. Jean baru paham mengapa ia bisa menghirup oksigen begitu tenang belakangan ini; itu karena ada sang Panglima Nevers yang menjaga tidurnya dari kegelapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nicholas Family
Cerita PendekIni adalah keluarga Nicholas, dengan si bungsu sebagai tahta tertinggi per Nicholas-an.
