PART - 27. BIKIN PUSING
Halo semuanya, masih ada yang stay baca? hehe maaf. yaa buat kalian nunggu dua tahun ya? jujur aku sibuk rl sayangku.
Kamis, 02 April 2026
Happy Reading
Hari ini Zia memutuskan pulang lebih awal, karna dia juga harus melihat keadaan suaminya itu. terakhir dia mengirim pesan namun tidak di balas. memang setelah makan siang tadi pekerjaan dia sedikit sibuk.
Sampai rumah pintu tidak di kunci dan terbuka sedikit, sedangkan kunci rumah berada di luar. Zia hampir meledak rasanya balik kerja lelah namun melihat kelakuan Zafran seperti ini.
"Kenapa sih punya Suami, kelakuannya bikin emosi aja tiap hari, ada aja yang bikin darah gue naik. Yallah."
Zia masuk dan mengambil kunci yang tergantung tadi dan menutup pintu dan di kunci. berjalan ke arah ruang tamu disana ada barang Zafran yang berantakan. Zia melihat juga Zafran yang tertidur di atas kasur dan televisi menyala dengan suara keras.
"Kebiasaan abis pesen makan berantakan, nyalain tv orangnya tidur. Ini juga maling kalau masuk gak akan tau ini."
Zia membereskan sisa makanan dan juga bekas makan milik Zafran. Di letakan di atas meja, soalnya kalau di pindah terus dia bangun pasti bakalan di cari sama dia dan ngomel.
"Kebiasaan emang berantakan aja kerjaannya, katanya Dokter tapi joroknya minta ampun."
Setelah membereskan semuanya di atas meja dan barang milik Zafran yang berserakan Zia pergi ke atas mandi agar lebih plong kepalanya.
"Hah kerjaan ada aja, bikin pusing setiap harinya."
Habis mandi Zia mengecek lagi kerjaan dia sebentar serta jadwal besok. Yah emang dia akan sibuk belakangan ini.
Setelah semuanya selesai Zia kembali kebawah lagi untuk makan cemilan dan minuman sambil menunggu Zafran bangun dari tidur.
Di lihat masih nyenyak tidur dengan posisi badan terbalik seperti itu, dengan kolor dan kaos lengan pendek miliknya. Zia mengambil snack dan juga minuman di kulkas dan membawa ke ruang tamu.
Cukup lama menonton sambil menunggu Zafran bangun tidur yang sangat nyenyak sekali sepertinya. Zia melihat gerakan tubuh Zafran dan lenguhan sepertinya tidak lama lagi dia bangun dari tidurnya, lihat saja.
"Ayang..."
Zia diam saja tidak merespon suaminya itu dia asik menonton sambil memakan cemilan di tangannya. Posisi Zia berada di dekat sofa depan Zafran tertidur tadi.
"Apa sih diem aja, di chat gak bales juga."
"Iya tadi banyak kerjaan, terus itu."
Belum selesai Zia berucap sudah keluar kata kata alay dari mulut lemes Zafran yang membuatnya malas.
"Gitu aja terus kerjaan aja, kamu gak pernah perduli sama aku."
Nah kan mulai dramatisnya, apa coba. Dah tua masih kayak bocak kelakuannya bikin pusing tiap hari ya ini sakit kepala.
"Zaf, kamu baru bangun loh."
"Justru baru bangun itu, tenaga aku banyak buat ngomong sama kamu."
"Ya ngomong aja, ngga usah bilang gitu. bikin malas tau gak sih."
Zafrab tiba tiba duduk sampai Zia kaget dan menoleh kebelakang melihat wajah Zafran yang kesal. Ah, drama lagi ini mah kata Zia. Dengan malas sambil menghembuskan nafas lesu. Drama nih drama lagi pasti.
"Bilang aja Zi, kamu udah malas sama aku. Udah gamau lagi, udah itulah."
Ini yang bikin malas itu, baru bangun tidur udah plenger, ngomong sana sini, Zafran emang suka aja asal ngomong begitu ke Zia entah apa yang dia pikirkan.
Dari balik kerja tadi dia istirahat bentar sambil pesan makan dan mandi. Namun seteleh makan dan kekenyangan dia malah ketiduran.
Dia juga terbangun karna mencium wangi sabun mandi Zia yang emang candu buat dia.
"Ngga usah drama, ini udah jam berapa."
"Tuh kan, di bilang drama."
"Emang iya, kerjaan drama mulu aja."
"Suami di bilang drama, gitu aja. Dosa banget jadi istri kamu itu."
"Mulai deh tuh tangan, ngga usah jail deh."
Zafran cuma nyengir di bilang begitu, entah tangannya tiba tiba pindah tempat kaya gitu. Zafran pindah rebahan di bawah di paha Zia sambil ikut menonton namun tangannya entah kemana larinya.
"Jangan kenceng kenceng sakit ini, kamu gituin Zaf! Sakit loh."
Kebiasaan emang usil matanya sambil merem tapi tangannya gak bisa diam kemana mana. Selagi Zia tidak mode ngamuk Zafran siap bermanja manja dan Zia hanya diam sesekali merespon.
"Rebahan dong ayang."
Nah dah tau ini arah kemana, selalu aja ilang arah kebiasaan emang. Pasti ada aja maunya anak ini.
"Males ah."
"Tuh kan ngga mau aja terus."
"Apa sih Zaf, masih kurang ini."
"Iya, maunya nen. Nen ayang enak."
"Males ah, kemaren sampe sakit kamu isep. Nggak mau lagi aku."
"Anu itu yang, kelepasan."
Gitu aja jawabannya padahal kemaren sampe lencet terus sakit dadanya karna Zafran emang suka agresif tiba tiba kalau lagi begituan. Kadang sih di tolak tapi pas dia tidur pulas dah ada aja bayi bajang.
"Yang ih, mau nen aku."
Udahlah daripada dia pusing dengerin Zafran rewel mulu, gatau ini berapa hari rewel manja mulu bikin pusing aja jadinya.
"Pelan Zaf, malas aku sampe lecet lagi kekencengan."
"Eumm..."
Udah kalau kaya gitu udah di ajak bicara gak akan nyaut ilang arah dia mah udah ngga usah di ajak ngobrol juga. Susah juga punya bayi besar. Entah maunya apa.
"Eh, telpon itu dari temen mu."
Hanya diam tanpa menjawab lagi, kalau dah gini mana ada lagi pikiran anak itu. Lagi Zia angkat telpon barusan yang emamg tetangga mereka suka ngumpul kadang kadang aja Zafran jarang ikutan dia.
"Halo kenapa?"
"Zaf, dimana? katanya mau kumpul malam ini. Udah jam berapa gak ada kabarnya."
"Ini tidur dia, dari balik kerja. Kecapean kayaknya dia ini. Cuma ntar di bilangin yah."
"Aneh dia ini, tadi ngajak tiap malam kumpul. Taunya ngga bisa aja dia."
Ya gimana lagi, kalau urusan yang beginu mah dia boro boro mau keluar rumah. Tahan aja ini sambil tidur, kalau kelepas terus kebangun ya kaya gitu lagi dia kebiasaan emangnya. Beberapa kali sudah begini.
"Iya ntar di bilangin Bang, tidur dia ini pules banget keknya dua ini."
"Iya Zi, bilangin aja. Di tunggu anak lain kaya biasa."
"Iya Bang."
Kan Zafran mah merem doang ngga tidur, keenakan mah udah dia. Bodo amat sama yang lain. Zia juga sambil rebahan main ponsel agak pegel sih karna berbaring miring begitu. Tapi yaudalah, daripada rewel bikin pusing aja. Jadi ikutin aja maunya kaya gimana juga, daripada pusingkan.
"Tuh dengerkan tadi?"
