Bertemu Bocah Laknat

35 7 6
                                        

Tiga jam kemudian, sepasang mata elang milik Sean tersentak terbuka. Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menusuk kulit telanjang dada dan kakinya. Sean bergerak perlahan, meraba punggungnya yang semula terasa robek parah. Ajaib, lukanya sudah menutup, menyisakan garis merah muda yang berdenyut samar. Ia sudah kembali ke wujud manusianya. Itu berarti, proses regenerasi sel tubuhnya bekerja berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya—sebuah anomali penyembuhan yang tak biasa, bahkan untuk ukuran Alpha Dominan sepertinya.

Sean bangkit duduk, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling gua yang remang-remang. Tak jauh dari tempatnya berbaring, ia mendapati Dean tengah tertidur pulas bersandar pada dinding gua, masih dengan pakaian yang setengah basah.

Saat itulah, indra penciuman Sean menangkap sesuatu yang asing.

Bau khas air hujan dan daun pinus basah kini sangat mendominasi ruang gua yang sempit. Aroma itu dingin, menenangkan, sekaligus mengintimidasi di saat yang bersamaan. Sean tertegun. Ini adalah pertama kalinya ia bisa mencium bau feromon rivalnya ini. Selama bertahun-tahun bersaing, si Alpha pucat itu selalu berbau hambar, seolah tidak memiliki aroma feromon sama sekali. Mentok, hanya bau gosong menyengat paru-paru ketika Alpha pucat itu lepas kendali.

Kenapa baru sekarang aku bisa mencium baunya? batin Sean bertanya-tanya, matanya menyipit menatap sosok Dean yang terpejam.

Selama ini, desas-desus mengatakan bahwa Dean selalu menekan feromonnya demi menyembunyikan identitasnya. Tapi entah mengapa, setelah insiden di Danau Whisteria semalam, mungkin pertahanan Dean runtuh dan bau feromonnya kini dapat tercium bebas, menguar liar memenuhi indra penciuman Sean.

Namun, Sean segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir pikiran aneh itu. Bukan itu yang perlu dicemaskan sekarang. Mereka berdua masih berada di jantung hutan terlarang yang berbahaya. Mereka harus segera bergegas keluar dari hutan ini dan menemukan Brian.

Mengingat nama itu, rahang Sean mengeras. Ini semua gara-gara Alpha bodoh itu, batinnya. Mereka berdua yang baru tersesat semalam saja sudah hampir mati tenggelam dan mengalami begitu banyak kesulitan. Bagaimana dengan Brian yang sudah hilang empat hari tanpa logistik? Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Sean. Sembari menunggu pagi tiba, Sean memutuskan untuk berjaga. Ia mendekati perapian yang hampir padam, lalu menghidupkan kembali api itu dengan menambah ranting-ranting kering yang rupanya sudah sempat dikumpulkan oleh Dean sebelumnya.

Menjelang pagi, saat semburat cahaya fajar gagal menembus kabut ungu hutan namun sanggup menerangi gua, Sean melangkah mendekati Dean. Ia menggoyang bahu lebar itu dengan ujung sepatunya.

"Hei, bangun. Pagi sudah tiba," panggil Sean datar.

Dean mengerang rendah. Ketika matanya terbuka, Sean menyadari sesuatu yang janggal. Entah kenapa si Alpha pucat itu nampak semakin pucat dari biasanya, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Tubuhnya juga tampak sedikit lemas. Mungkin efek tersembunyi dari energinya yang terkuras habis untuk menahan lilitan Siren semalam, pikirnya.

Meskipun begitu, harga diri Dean tetap tegak. Ia tidak mengeluh apapun. Ia berdiri, merapikan pakaiannya yang kusut, lalu menatap Sean dengan pandangan rumit.

"Mengenai yang semalam..." Dean berdeham, memalingkan wajahnya yang kaku. "Terima kasih sudah menarikku dari danau. Walaupun caramu menggigit jubahku sangat tidak sopan."

Sean mendengus remeh, menyilangkan dada. "Cih... Lagipula aku hanya tidak mau klanmu menuduh Diamond King sengaja menenggelamkanmu."

Setelah ketegangan canggung itu mereda, mereka berdua pun kembali menjelajah hutan terlarang. Dengan sisa-sisa tenaga dan navigasi seadanya, mereka melangkah membelah semak berduri, berharap bisa menemukan jejak Brian dan—jika beruntung—semoga saja mereka bisa keluar dari hutan terkutuk ini hidup-hidup.

Sekitar dua jam berjalan menembus kabut yang mulai menipis, langkah kaki Sean dan Dean mendadak terhenti ketika telinga mereka menangkap sebuah suara yang sangat familier.

Suara tawa bernada tinggi, lepas, dan terbahak-bahak tanpa beban.

Sean dan Dean saling berpandangan dengan dahi berkerut. Mereka mengendap-endap di balik sebuah pepohonan raksasa dan mengintip ke arah sebuah batu besar yang agak datar atasnya di tengah hutan. Di sana, mereka menemukan Brian.

Benar, Brian si Alpha berkulit eksotis yang membuat seluruh tetua klan jantungan dan membuat Sean serta Dean hampir mati di dasar danau. Bocah laknat itu tengah duduk di atas batang pohon tumbang, tertawa terpingkal-pingkal bersama sesosok makhluk yang dari pandangan Sean dan Dean, tubuhnya tertutup oleh Batu besar yang tengah diduduki Brian.

Di tengah keosnya dunia atas, di saat rombongan klan pontang-panting mencarinya hingga menantang maut, si target pencarian malah tengah asik bergurau seolah sedang piknik di taman kota.

Perempatan imajiner langsung muncul di dahi Dean yang biasanya sedingin es. Tanpa membuang waktu, Dean melangkah lebar-lebar membelah semak, mendekati Brian dari belakang dengan aura membunuh.

PLAK!

Satu tampolan keras bin maut mendarat mulus di belakang kepala Brian, membuat tawa Alpha itu terputus seketika digantikan pekikan kaget. "Aduh! Siapa yang—"

"Kau benar-benar minta dikuliti, Brian," desis Dean, matanya berkilat murka sambil mengibaskan tangannya yang baru saja menampol kepala Brian.

Sean menyusul dari belakang, berdiri dengan angkuh sambil bersedekap dada setelah ikut menampol kepala Brian seperti yang Dean lakukan. Matanya menatap Brian dengan pandangan merendahkan, langsung mengutuk bocah itu dengan deretan kata-kata mutiara andalannya.

 "Bocah sialan. Sialan kau, Brian! Kami hampir mati di danau terkutuk karena mencarimu, dan kau malah nongkrong santai di sini? Otakmu ketinggalan di pantat rusa yang gagal kau panah, hah?!"

Brian meringis, memegangi belakang kepalanya yang tambah berdenyut perih sambil menatap dua rival abadi itu dengan wajah tanpa dosa. 

"Hehe, santai, Bro, santai! Lagipula, kenalkan dulu ini teman baruku."

Sosok di balik batu pun akhirnya bergeser menampakkan diri. Sean dan Dean refleks menegang, namun detik berikutnya mereka tertegun. Sosok itu adalah seorang Elf—makhluk mitologi penjaga hutan bertubuh mini dengan telinga runcing dan pakaian dari jalinan daun magis. Beruntungnya, Elf adalah jenis makhluk mitologi yang baik dan ramah.

"Dia yang menyelamatkanku saat aku terperosok ke wilayah dalam," cetus Brian dengan watak jenakanya yang sama sekali tidak merasa bersalah.

Selama empat hari ini, bukannya ketakutan karena tersesat di hutan terlarang yang mematikan, Brian yang dasarnya punya rasa penasaran setinggi langit malah aktif mengikuti Elf tersebut ke sana kemari. Di atas meja batu tak jauh dari mereka, berjejer belasan botol ramuan berwarna-warni yang meletup-letup aneh—hasil eksperimen Brian dan sang Elf untuk membuat ramuan-ramuan magis yang tidak jelas fungsinya.

Dean memijat pelipisnya yang mendadak pening. Sementara Sean hanya bisa kembali mengumpat pelan dalam hati, bersumpah akan membawa Alpha berkulit eksotis itu pulang dengan menyeret kakinya dan membiarkan kepala sialannya itu terbentur lumpur dan bebatuan.

SOMETHING (UN)NORMALCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang