Tersesat di Altaris

29 9 4
                                        

Hutan hujan Klan Altaris biasanya menyambut musim dingin dengan keheningan yang megah, namun kali ini, kesunyian itu terasa mencekam. Empat hari tanpa kabar dari Brian yang hilang ketika pertandingan memanah rusa bukan lagi soal harga diri seorang Alpha; ini soal bertahan hidup di wilayah yang bahkan para tetua pun enggan menjamahnya.

Kabut tebal merayap di sela-sela pepohonan raksasa, membawa aroma pinus yang membeku. Dean berjalan di depan dengan langkah yang membelah semak belukar seolah ia adalah pemangsa alami hutan ini. Di belakangnya, rombongan dari Klan Diamond King mengekor dengan aura yang tidak kalah panas.

"Jika kau berjalan lebih cepat sedikit saja, mungkin kita sudah sampai di perbatasan Timur dua jam yang lalu," sindir Andy, suaranya bergema di antara pepohonan yang rapat.

Dean berhenti mendadak. Ia tidak menoleh, namun bahunya menegang. "Jika kalian lebih fokus mencari jejak daripada sibuk mengeluhkan kecepatan langkahku, mungkin Brian sudah ditemukan. Tapi kurasa klanmu lebih ahli dalam urusan 'keajaiban medis' daripada navigasi hutan."

Sean, yang sejak tadi diam dengan sisa-sisa aroma lumut yang makin tajam karena kelembapan hutan, maju selangkah. "Jangan memancing keributan di wilayah orang lain, Dean. Fokus saja pada tugasmu mencari bocah ingusan itu atau minggir."

Ketegangan itu bukan lagi sekadar adu mulut. Aura Dean yang dingin dan tajam berbenturan dengan aura dominan Sean yang meledak-ledak. Dion mencoba menengahi di antara mereka, namun udara di sekitar mereka sudah terlanjur terdistorsi oleh feromon yang saling menolak.

Langkah mereka membawa mereka ke bibir tebing curam dekat perbatasan area terlarang yang tanahnya nampak labil akibat erosi musim hujan.

"Lihat itu!" Skylar menunjuk ke arah dahan yang patah di bawah sana. "Itu pola cakaran serigala."

Saat mereka semua condong ke depan untuk memastikan, namun sebuah senggolan bahu yang tidak disengaja memicu kekacauan. Andy kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja mendorong bahu Sean yang berada tepat di depannya. Refleks Sean yang agresif membuatnya menyambar lengan siapa pun yang terdekat untuk bertahan.

Sialnya, itu adalah Dean.

Tanah di bawah kaki mereka runtuh seketika. Suara gemuruh tanah longsor menelan teriakan mereka.

"Skylar!" teriak Sean sebelum tubuhnya tersedot gravitasi.

Skylar yang juga sempat ditarik oleh Sean berhasil mencengkeram akar pohon tua yang melintang, tubuhnya berayun di atas jurang yang menganga gelap. Dion dan Andy segera menariknya ke atas dengan napas terengah-engah. Namun, saat mereka melongok ke bawah, yang tersisa hanyalah kepulan debu tanah dan kegelapan yang tak berujung.

Sean dan Dean lenyap ditelan kegelapan.

Di dasar jurang yang lembap dan dingin, Sean terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di punggungnya. Ia mengerang, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Aroma tanah basah di sini begitu kuat, hingga nyaris menenggelamkan feromon citrus-nya sendiri.

Beberapa meter di sampingnya, Dean mencoba bangkit. Wajahnya yang biasanya pucat kini sedikit kotor oleh lumpur, namun matanya yang dingin menyorotkan kilat permusuhan.

"Sialan," desis Dean, memegangi lengannya yang mungkin terkilir. "Kenapa aku harus terjebak di lubang ini bersamamu?"

Sean tidak menjawab. Ia tidak mau mengakui bersalah karena tanpa sengaja menyeret rivalnya itu ikut jatuh ke dalam jurang.

Di atas sana, Skylar dan yang lainnya mungkin sedang mencari bantuan. Namun di bawah sini, di kegelapan hutan terlarang, dua rival abadi itu tidak akan menyadari bahwa jurang ini mungkin bukan sekadar kecelakaan, melainkan awal dari teka-teki yang jauh lebih berbahaya.

SOMETHING (UN)NORMALCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang