Sean mencoba berdiri, namun lututnya langsung bergetar hebat. Luka robek di punggungnya akibat hantaman batu saat jatuh terlalu parah. Darah segar mulai merembes melalu pakaiannya yang koyak, menetes ke tanah lembap dan memicu insting predator di dalam kegelapan hutan terlarang.
Dean, meski tangan kirinya tergantung kaku dengan lengan yang terkilir, mengembuskan napas pendek. Ia menyadari bahwa membiarkan Sean mati di sini sama saja dengan memancing perang terbuka antar-klan.
Dengan ketus, Dean mengulurkan tangan kanannya yang sehat.
"Berdiri. Aku tidak sudi dituduh membunuh penerus Diamond King karena membiarkanmu mati konyol di sini."
Sean menatap tangan itu dengan kilat kemarahan. Harga dirinya sebagai Alpha Dominan menolak untuk terlihat lemah di hadapan rival abadinya.
"Singkirkan tanganmu, Dean. Aku bisa berjalan sendiri."
"Jangan bodoh," desis Dean, cengkeramannya beralih langsung menarik lengan Sean tanpa permisi.
Karena kesadaran Sean hampir hilang akibat rasa sakit. Mau tidak mau, ia terpaksa bertumpu sepenuhnya pada bahu Dean, menggeram rendah menahan perih. Mereka berjalan tertatih-tatih hingga berhasil mencapai sebuah gua berbatu di dekat sebuah danau.
Saat malam mulai turun, suasana hutan berubah drastis. Kabut ungu yang aneh mulai menyelimuti area sekitar, membawa hawa magis yang menyesatkan indra. Di depan gua tersebut, beberapa puluh meter melintasi pepohonan yang membusuk, terbentang Danau Whisteria yang airnya sewarna perak jernih namun mati—tidak ada riak, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Di dalam gua, kondisi Sean memburuk dengan cepat. Suhu tubuhnya melonjak drastis, efek dari demam akibat infeksi yang mulai menjalar melalui lukanya. Untuk mempercepat penyembuhan sel tubuhnya dan menahan rasa sakit yang tak tertahankan, Sean terpaksa bertransformasi ke wujud serigala besarnya.
CRACK.
Bunyi pergeseran tulang bergema di dalam gua yang sunyi. Tak lama kemudian, seekor serigala berbulu gelap raksasa mengerang rendah, meringkuk di sudut gua dengan napas terengah-engah. Mata emasnya menatap Dean dengan sayu sebelum akhirnya terpejam.
Dean tahu aroma darah Sean dalam wujud serigala akan mengundang makhluk yang jauh lebih mengerikan dari sekadar binatang buas. Menggunakan pengetahuannya yang luas, ia mengenali jenis tanaman lumut penyembuh yang tumbuh di sekitar akar pohon dekat tepi danau mati itu.
Sebelum melangkah pergi, Dean berbalik. Ia melepaskan sedikit feromonnya di sekitar mulut gua untuk "menandai" wilayah agar makhluk halus tidak berani mendekat. Aroma pekat yang keluar dari tubuh Dean seketika menyelimuti ruangan gua. Tanpa sengaja, feromon tersembunyi itu membuat serigala Sean yang semula gelisah mendadak menjadi sedikit lebih tenang. Napasnya yang memburu perlahan teratur.
Di tepi danau, suasana mendadak senyap saat Dean sedang berlutut memetik tanaman obat. Angin yang semula berbisik di sela daun mendadak berhenti berembus. Sunyi yang mencekam.
Dari tengah danau, terdengar suara bisikan yang luar biasa indah. Suara itu begitu lembut, awalnya merdu menyerupai suara ibunya yang memanggil dengan penuh kasih sayang, sebelum perlahan berubah menjadi suara panggilan lain yang sangat familier di sudut terdalam kepalanya. Suara itu memanggil nama aslinya, menawarkan pelukan yang hangat dan istirahat dari segala beban berat yang selama ini ia pikul sendirian sebagai seorang penerus yang disembunyikan.
Itu adalah Siren Whisteria. Makhluk terkutuk yang memanipulasi pikiran manusia maupun werewolf dalam wujud manusianya dengan frekuensi gaib yang mengincar titik lemah psikologis terkecil sekalipun.
Dean, yang selalu waspada, kali ini lengah. Ia terhipnotis sepenuhnya oleh ilusi kedamaian yang ditawarkan suara itu.
Mata Dean seketika menjadi kosong, kehilangan binar tajamnya. Puk. Ia menjatuhkan tanaman obat yang baru dipetiknya ke atas tanah. Dengan langkah kaku dan pandangan lurus ke depan, Dean mulai berjalan masuk ke dalam air danau yang dingin membeku.
Air sedingin es itu menjalar naik. Pergelangan kaki, lutut, hingga akhirnya air danau itu sudah mencapai pinggangnya. Di bawah permukaan air yang jernih, bayangan-bayangan hitam berambut panjang dengan jemari berkuku tajam mulai bergerak ke permukaan, bersiap menarik tubuh Dean jatuh ke dasar untuk ditenggelamkan selamanya.
Di dalam gua, serigala Sean mendadak tersentak bangkit. Telinganya yang tajam menangkap bisikan-bisikan samar yang menggema di luar, memanggil-manggil nama Dean. Bersamaan dengan itu, sesuatu di dalam dada Sean—insting purba yang tidak bisa dijelaskan oleh logika—berteriak histeris bahwa rivalnya berada dalam bahaya mematikan.
Mengabaikan rasa sakit di punggungnya yang seolah terkoyak kembali hingga darahnya kembali mengalir, serigala Sean melesat keluar gua, membelah kabut ungu dengan kecepatan penuh.
Di tepi danau, Sean melihat Dean yang sudah tenggelam hingga sebatas dada. Karena wujud serigala tidak memiliki rasio manusia yang bisa dimanipulasi oleh sihir suara Siren, Sean bisa melihat bahaya di depannya dengan sangat jelas. Air danau itu tidak kosong; itu adalah sarang monster.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, serigala Sean menerjang masuk ke dalam danau, menerobos air perak yang berat dan pekat.
BYUR!
Sean berenang cepat, rahangnya yang kuat langsung menyambar dan menggigit kerah jubah Dean, mencoba menarik tubuh pemuda itu mundur ke daratan. Namun, tubuh Dean terasa sangat berat. Siren yang menyadari mangsanya hendak direbut menolak untuk melepaskannya. Makhluk itu menambah kekuatan cengkramannya, melilit kaki Dean erat-erat di bawah air. Dean yang masih terhipnotis hanya diam, membiarkan dirinya ditarik ke dua arah berbeda.
Melihat Dean mulai kehabisan napas, Sean mengambil keputusan nekat. Ia melepaskan gigitannya pada jubah Dean, lalu menyelam lebih dalam ke dalam air danau yang dingin. Di kegelapan air, mata serigalanya menangkap sosok makhluk berekor ikan dengan wajah mengerikan yang sedang memeluk kaki Dean.
Tanpa ragu, Sean menerjang dan menggigit ekor sang Siren dengan kekuatan penuh hingga taringnya menembus sisik lendir makhluk itu. Darah hitam pekat menguar di dalam air. Siren itu menjerit kesakitan di dalam air, seketika melepaskan cengkramannya pada kaki Dean.
Dengan cepat, Sean kembali ke permukaan, menyambar kerah baju Dean sekali lagi, dan berenang sekuat tenaga menariknya kembali ke daratan sebelum monster lain mendekat.
Siren yang murka karena mangsanya direbut paksa naik ke permukaan. Makhluk itu melepaskan jeritan melengking yang luar biasa nyaring, gelombang suaranya membuat air danau bergolak dahsyat dan memecahkan keheningan hutan.
UHUK! UGH!
Sentuhan kasar serigala Sean dan dinginnya air danau yang menusuk tulang akhirnya memecahkan mantra hipnotis. Dean tersadar dengan sentakan hebat tepat saat tubuhnya terseret jatuh ke atas daratan berbatu yang keras.
Dean terengah-engah, paru-parunya meraup oksigen dengan rakus. Air danau menetes dari rambut dan pakaiannya yang basah kuyup. Sambil memegangi lehernya yang terbatuk-batuk, ia menoleh ke samping. Di sana, serigala hitam raksasa milik Sean ambruk di atas tanah. Napasnya memburu pendek-pendek, badannya gemetar hebat, dengan bekas darah hitam milik Siren yang masih menempel di sekitar moncongnya.
Menyadari situasi mereka masih belum aman, Dean memaksakan tubuhnya yang lemas untuk bergerak. Mengabaikan rasa sakit di lengan kirinya, ia merangkul tubuh serigala Sean yang luar biasa berat, memindahkannya dengan susah payah kembali ke dalam goa yang lebih aman.
Setelah menyalakan api kecil dengan sisa tenaganya, Dean buru-buru mengambil sisa tanaman lumut obat yang sempat ia petik sebelum terhipnotis tadi. Dengan jemari yang masih gemetar karena dingin dan syok, ia menumbuk lumut itu dan mengoleskannya ke luka robek di punggung Sean.
Selama mengobati, Dean tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wujud serigala di depannya. Matanya menatap Sean dengan tatapan bingung, sangsi, dan syok yang amat dalam.
"Kenapa..." bisik Dean lirih, suaranya parau memecah keheningan gua. "Sebagai seorang Alpha Dominan... kau seharusnya egois, Sean. Kau harusnya membiarkanku mati di danau itu agar posisi klanmu aman."
Dean menyentuh bulu basah di kepala serigala Sean, membersihkan sisa darah Siren di sana. "Tapi kau justru mempertaruhkan nyawamu sendiri untukku."
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
FantasiaKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha Fenigma x Enigma ABO Universe Alur lambat
