Elf yang Tengil

29 7 9
                                        

Setelah menata tumpukan botol ramuan yang sebelumnya meletup-letup tidak jelas, sang Elf bertubuh mini itu mendongak, menatap ketiga Alpha besar di depannya tanpa rasa takut. Alih-alih merasa terganggu dengan kedatangan Sean dan Dean yang membawa aura mengintimidasi, makhluk mitologi itu malah menepuk tangannya dengan riang.

"Ah! Kebetulan sekali ada tambahan tenaga bantuan!" seru sang Elf dengan suara cempreng yang nyaring, lalu bersiul meledek ke arah wajah sangar Sean. "Luar biasa, hutan ini mengirimkan dua tiang listrik bernyawa untukku. Aku sedang kekurangan tangan untuk menyelesaikan ramuan sebelum fajar besok. Kalian berdua, bantu aku mengumpulkan sisa bahan!"

Dean mengerutkan dahi, bersiap untuk menolak mentah-mentah. Namun, sang Elf langsung menunjuk ke arah sebuah pohon purba raksasa yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat mereka berdiri. Batang pohon itu begitu masif, dengan sebuah pintu kayu kecil yang terukir alami di pangkalnya. Rupanya, di dalam batang pohon itulah sang Elf tinggal dan menanam kebun tanaman magisnya sendiri, aman dari bahaya alam liar hutan terlarang.

"Ayo, Dean! Kebunnya keren sekali, kau harus lihat!" panggil Brian dengan watak jenakanya yang kelewat bersemangat. Tanpa membaca situasi, Alpha berkulit eksotis itu langsung merangkul pundak Dean dan menyeret si Alpha pucat itu menuju area batang pohon, mengabaikan tatapan membunuh yang dilayangkan Dean padanya sepanjang jalan.

Sementara itu, Sean tetap bergeming di tempatnya. Dengan dagu terangkat angkuh, ia bersedekap dada di dekat meja batu datar tempat sang Elf meracik ramuan.

Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Sean merasa kepo setengah mati melihat cairan berwarna ungu dan hijau yang mendidih di dalam lumpang batu. Namun, demi harga dirinya sebagai penerus klan Diamond King, ia gengsi untuk mengakuinya. Untuk menutupi rasa penasaran itu, Sean akhirnya mendekat dan mulai mengulurkan tangan, berpura-pura membantu memasukkan beberapa bahan kering ke dalam wadah.

"Biarkan aku yang mengaduk ini," ketus Sean datar.

Namun, karena niatnya hanya setengah-setengah dan ia tidak tahu menahu soal takaran magis, bantuan ala kadarnya dari Sean justru menjadi bencana. Ia memasukkan segenggam akar kering terlalu banyak, membuat beberapa ramuan sang Elf mendadak meletup kasar, mengeluarkan asap hitam pekat, dan berubah menjadi genangan lendir yang gagal total. Sean hanya mendengus, berpura-pura tidak bersalah saat ramuan itu rusak di tangannya.

Namun sang Elf tidak marah. Mata bulatnya berkilat jenaka saat memperhatikan sisa-sisa darah hitam Siren yang samar di sekitar kuku Sean, lalu beralih menatap sekujur tubuh Sean menyeluruh. Makhluk mitologi itu terkikik geli, menyembunyikan senyumnya di balik telapak tangan yang kecil setelah membaca sekilas takdir Alpha Dominan tersebut.

"Wah, wah... sepertinya ada yang habis 'makan ikan' semalam, ya?" goda sang Elf dengan nada bercanda yang sarat akan sindiran, merujuk pada aksi nekat Sean yang menggigit ekor Siren semalam. Ia melompat-lompat kecil di atas batu sambil mencibir, "Sayang sekali, serigala besar yang hebat ternyata seleranya ikan danau yang hampir mati. Apakah rasanya enak, Tuan Alpha Agung?"

Wajah Sean seketika menegang. "Apa maksudmu?" tanyanya defensif.

Bukannya menjawab, makhluk mungil itu justru berputar jenaka di atas satu kaki, lalu mengambil sebuah botol kaca kecil dari balik jubah daunnya. Botol itu berisi cairan bening yang berkilauan seperti bubuk perak, dengan label kuno bertuliskan "Soul".

Sambil menggerlingkan matanya yang penuh rahasia ke arah Sean, sang Elf menyodorkan botol itu dengan senyum meledek. "Ini untukmu, Alpha Dominan yang angkuh. Anggap saja sebagai upah karena sudah sukses membuat ramuanku jadi sampah."

Sean mengernyitkan alis. Rasa penasarannya mengalahkan kewaspadaannya. Ditambah lagi, tatapan meremehkan dari si Elf kecil ini benar-benar memancing harga dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar botol itu, membuka sumbatnya, dan meminum cairan itu dalam sekali tegak untuk membuktikan bahwa dirinya tidak takut pada ramuan aneh sang Elf.

Namun, efeknya instan dan mengerikan.

Detik setelah cairan itu melewati kerongkongannya, seluruh sendi di tubuh Sean mendadak lemas tak bertenaga. Pandangannya berputar hebat, dan kegelapan pekat langsung merenggut kesadarannya. BRUK! Tubuh tegap Sean seketika ambruk, pingsan tak sadarkan diri di atas tanah lembap.

Apa yang Terjadi dengan Sean?

Ramuan "Soul" (Jiwa) milik sang Elf bukanlah racun, melainkan ramuan magis tingkat tinggi yang memaksa jiwa dan insting terdalam seorang werewolf untuk terlepas sejenak dari belenggu egonya yang keras kepala. Sang Elf sengaja mengerjai Sean agar Alpha sombong itu bisa "melihat" sebuah fatamorgana yang dapat mengacaukan logikanya.

Saat Sean pingsan, kesadarannya terlempar ke dalam dimensi bawah sadar yang gelap namun hangat. Di dalam kegelapan itu, wujud serigala hitam milik Sean bangkit. Namun, ia tidak sendirian.

Di hadapannya, kabut hitam membelah dan memunculkan seekor beruang raksasa berbulu putih keabuan. Binatang itu luar biasa masif, dengan mata hitam yang tajam, sangat ganas, dan memancarkan otoritas mutlak yang belum pernah Sean rasakan seumur hidupnya—manifestasi dari wujud beast milik monster.

Serigala hitam Sean mencoba menggeram dan terus angkuh menantang seperti layaknya Alpha Dominan. Namun, di hadapan sang beruang raksasa, semua kekuatannya menguap. Beruang putih itu menerjang maju dengan kecepatan tak masuk akal. Tanpa berdaya, tubuh serigala Sean menerima semua hantaman keganasan sang beruang. Tubuhnya terlempar jauh, menembus dimensi bawah sadar yang mendadak berubah menjadi hamparan es, dan berakhir tenggelam di dalam salju yang tebal. Dingin, tak berdaya, dan kalah telak. Hingga akhirnya, sentakan kenyataan menyadarkannya kembali ke dunia nyata.

Di luar dimensi itu, Dean dan Brian yang baru saja kembali dari kebun dibuat panik setengah mati melihat Sean yang sudah terkapar di tanah dengan posisi telungkup tidak estetis.

"Sean?! Hei, bangun!" Brian langsung berlutut dan mengguncang-guncang tubuh kaku si Alpha dengan panik. "Kenapa dia bisa pingsan begini? Hei, Makhluk Kecil, apa yang kau lakukan padanya?!"

Dean ikut melangkah maju, menatap bingung ke arah sang Elf yang kini sedang duduk santai di atas batu sambil mengayun-ayunkan kaki kecilnya.

Sang Elf tidak merasa bersalah sedikit pun. Ia hanya meniup kuku-kukunya dengan santai, lalu tersenyum misterius penuh kemenangan. Ia tahu betul, ketika Alpha penerus Diamond King itu terbangun nanti, egonya akan runtuh berkeping-keping. Dan yang paling menyenangkan bagi si Elf, mata Sean tidak akan bisa lagi memandang dirinya dengan cara yang menyebalkan—angkuh.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SOMETHING (UN)NORMALCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang