5 - Curious.

174 15 0
                                    

Kata Al, 'kok cerita km yg ini viewer ny sedikit gak kyk cerita yg sblumnya?'
Kaaaaaann beda genre Al :" tadinya fanfiction skrg teenfiction (alesan).
Yg belum tau siapa Al dan mau tau, silahkan baca cerita FF ku yg pertama, check it on my profile :')
Pkoknya yg lg baca ini vote, oke? Syukur2 voments hehehe.

Enjoy!

Aku terkesima melihat murid pindahan yang berdiri di samping wali kelas kami.

Juli langsung mendekatkan tubuhnya ke arahku.
"Anjir. Manis tuh Ra, selera lo banget." Bisiknya.

Aku tersenyum tipis tanpa menatap Juli. Dalam hati aku mengiyakan perkataannya barusan, karena aku memang cenderung menyukai lelaki berwajah manis daripada cakep--atau biasa disebut dengan cogan.

Ibu Resti berdeham supaya tidak ada lagi suara bisik-bisik yang penasaran tentang murid pindahan itu.

"Anak-anak, mulai hari ini ada teman baru di kelas ini. Kalau kalian mau mendengar perkenalan darinya, harap tenang."

Ibu Resti mempersilahkan lelaki manis itu untuk memperkenalkan diri.

"Nama saya Arrafi Shirad. Kalian boleh panggil saya apa saja dari kata Arrafi, dan bukan dari kata Shirad. Saya pindahan dari Yogyakarta."

Siswi perempuan di kelasku mulai cekikikan tidak jelas. Karena jujur saja, suaranya yang jernih namun berat dan dalam juga tatapannya yang teduh pasti bisa menghipnotis gadis manapun yang ditemuinya termasuk aku.

"Diskusi aja sekarang kita harus manggil apaan, biar serempak satu kelas." Celetuk Kiki. Ya, dia memang hobi sekali mempelopori sesuatu.

Anak-anak kembali riuh, saling mengutarakan pendapat tentang nama panggilan apa yang cocok untuk Arrafi Shirad.

"Eh, Arra aja kali ya?"

"Ara udah ada woy."

"Ih yang ini kan beda, double r."

"Ya kan kalo di ucap mah sama aja, oon banget sih lu.

"Yah terus apa dong?"

"Rafi aja kali."

"Kayak artis."

"Gapapa lah."

"Eh tanya aja ke Arrafi dulu dia biasa dipanggil apa?"

"Iya iya bener, tanya ayo tanya."

Si ketua murid alias Ilham mengacungkan tangannya.

"Kalau boleh tau, sebelumnya kamu dipanggil apa?"

Anak-anak hening, menunggu jawaban dari mulut lelaki manis itu dengan wajah penasaran.

"Arra." Jawabnya singkat.

Aneh. Sungguh.
Saat dia mengucapkan kata Arra seperti ada kupu-kupu beterbangan di dalam perutku.
Seharusnya kan aku biasa saja, dia sedang menyebut namanya sendiri, bukan memanggilku.

"Tapi disini udah ada Ara. Masa mau ada 2 Ara sih. Iya gak Ra? Gamau kan lo?" Ujar Dika lelaki yang duduk tepat di depanku.

Aku mengerjap, menyadari perhatian seisi kelas menuju ke arahku. Termasuk dia.

Dengan salah tingkah aku mengangguk ragu,
"Iya, gamau lah." Ucapku pelan.

"Rafi aja deh."

"Iya gapapa, bagus kok"

"Ih kayak artis tau."

"Apa sih lo, bodo amat juga sih."

"Udah bener Rafi aja, Arra cowok harus ngalah sama Ara cewek."

I AM a FREAK teenagerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang