17 - Not at All.

114 10 0
                                    

Semakin banyak saja yang membenciku, terutama murid-murid perempuan yang satu angkatan denganku. Banyak yang menyangka aku terobsesi pada popularitas sampai-sampai aku mendekati tiga laki-laki sekaligus dalam satu waktu.
Apalagi gosip tentang Adit yang ingin kembali berpacaran denganku sudah menyebar luas.
Aku tahu itu adalah salah satu strategi Adit untuk mengganggu hidupku lagi, tetapi demi Evan dan Rafi yang selalu tulus menjagaku maka kali ini aku tidak akan kalah.

Sudah tiga hari berlalu sejak percakapan kami dengan Adit di pagi itu, dan sampai sekarang belum ada hal yang terjadi. Bukan berarti aku menunggu Adit melakukan sesuatu padaku, of course not. Justru karena Adit masih dalam jangka aman, aku jadi semakin meningkatkan kewaspadaanku terhadapnya.

Ada satu hal yang masih terus berputar-putar di pikiranku, yaitu tentang Juli dan Kristi.
Mereka berdua sudah bertanya berkali-kali padaku, apa hubungan yang sebenarnya terjadi antara aku dan Adit.
Sampai sekarang aku belum juga menjawabnya, dan mereka berdua masih setia menungguku walau terkadang mereka secara terang-terangan menunjukkan wajah kecewanya padaku.

Beginilah jadinya, setiap malam aku terlalu banyak berpikir dan akhirnya aku tidur terlalu larut.
Untuk mengusir rasa bosan pun aku meraih HPku.

Alvira Satya: van?

Aku melirik jam waker di atas nakas, menunjukkan waktu 10 malam. Aku yakin Evan masih belum tidur.
Dan tepat sesuai dugaanku, beberapa saat kemudian HPku bergetar singkat.

Revano Akbar: tidur al, udah malem.

Alvira Satya: susah.

Revano Akbar: mikirin aku ya?

Alvira Satya: geli banget.

Revano Akbar: yaudah cerita.

Alvira Satya: juli sama kristi.

Revano Akbar: kenapa mereka?

Alvira Satya: nanya hubungan aku sama dia.

Revano Akbar: tuh cowok emang rada ya. pake bikin gosip murahan segala.

Alvira Satya: udah gausah ditanggepin van. jadi gimana?

Revano Akbar: gimana apanya?

Alvira Satya: temen aku ih.

Revano Akbar: ohiyaa. hehe sorry. kalo menurut aku, gausah cerita semuanya al. cukup cerita kalo dia bawa pengaruh buruk buat kamu. macem rokok atau clubbing.

Alvira Satya: kenapa itu gak di ceritain juga van?

Revano Akbar: aku tau kalo kamu belum siap. cerita ke rafi aja udah buat kamu uring-uringan, minder, pesimis, negatif thinking. aku gasuka, jadi mending ceritanya disortir aja al.

Alvira Satya: iya juga sih van. kamu emang selalu ngerti, makasih ya. nite :)

Revano Akbar: sama-sama al sayang. sleep well :)

•••••

Evan dan Rafi tidak langsung masuk ke kelas bersamaku. Entah mereka mau kemana, setelah memastikanku masuk ke dalam kelas mereka langsung pergi, katanya sih urusan laki-laki.

Aku berjalan sedikit cepat ke mejaku melihat Juli sudah duduk manis dengan HP di tangannya.

"Pagi Juli." Sapaku tersenyum singkat.

Juli mendongak sebentar dan membalas senyumku lalu pandangannya kembali pada layar HPnya.

"Gue.. udah siap cerita." Ujarku dengan suara yang sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh Juli.

I AM a FREAK teenagerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang