Karena Rafi memaksa untuk mengantarku pulang, mau tidak mau aku pun mengiyakan ajakannya.
Sesampainya di depan rumah, ada mobil Evan yang sudah bertengger manis di sebelah mobil Silver milik kak Alvin.
"Ah, ada Evan. Gue lupa kalo malem ini dia mau ke rumah." Gumamku pelan.
"Yah, sorry. Kita kelamaan ya perginya, Vir?" Tanya Rafi dengan wajah menyesal.
Aku tertawa kecil,
"Evan mau ketemu Ayah kok, bukan ketemu gue. Gapapa Raf, santai aja. Mau ikut turun?""Boleh."
Kami berdua segera turun dari mobil. Salah satu daun pintu utama kebetulan terbuka, namun ketika aku hendak masuk lebih dulu suara Evan membuatku mematung di balik daun pintu yang masih tertutup satunya lagi.
"Aku cuma kasih saran aja, Om. Aku khawatir kalau cuma aku yang ngejaga Al, pasti Adit bisa dengan mudah nyakitin Al. Tinggal 3 minggu lagi perjanjiannya berakhir, Om. Demi Al."
Aku terhenyak mendengar perkataan Evan. Badanku mulai gemetar mengetahui 3 minggu lagi Adit bisa bebas berkeliaran di kota tempat aku tinggal.
"Vira.." suara Rafi menyadarkanku dari sisa keterkejutan barusan.
Rafi langsung saja merengkuhku. Dan hebatnya gemetar tubuhku berangsur hilang.
"Udah tenang? Lo gausah khawatir, gue pasti jagain lo." Ucapnya seraya mengelus dahiku.
Aku mengangguk pelan. Kemudian suara Ayah terdengar, pun aku memasang telingaku baik-baik untuk mendengar percakapan mereka selanjutnya.
"Memang temanmu itu bisa dipercaya, Van? Kamu bisa pastikan dia bukan tipe lelaki seperti Adit yang hanya ingin memanfaatkan Vira saja?"
Aku menautkan kedua alisku, bingung tentang siapa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.
"Om bisa pegang omongan aku. Rafi gak akan manfaatin Al, aku udah merhatiin dia selama ini. Rafi peduli sama Al, dia selalu ngejagain Al seperti aku jagain Al."
Mendengar nama Rafi yang disebut, refleks membuat pipiku bersemu merah.
"Kita masuk sekarang, Vir." Ucap Rafi tegas seraya menggenggam tanganku.
Selanjutnya kami berdua menampakkan diri di ambang pintu, membuat Evan dan Ayah terlonjak kaget.
"Permisi Om. Saya mengantar Vira pulang." Ujar Rafi tersenyum ramah pada Ayah.
"Hai, Van." Sapa Rafi menambahkan.
Evan tersenyum sumringah, sesekali melirik Ayah dengan tatapan memohon. Akhirnya Ayah berdeham pelan, lalu menyuruh kami berdua masuk dan ikut duduk bersama.
"Nak Rafi ya kalau Om tidak salah ingat?" Tanya Ayah terlihat kaku.
"Iya Om, nama saya Arrafi Shirad."
"Baiklah Rafi, kamu boleh panggil saya Om Luki. Kamu teman dekat Vira?"
Rafi mengangguk pasti.
"Betul Om.""Tadi Evan cerita, katanya kalian sempat bertemu Adit di bioskop, benar?"
"Benar Om. Sebenarnya saya sudah tahu sebagian besar ceritanya. Dan saya dengan senang hati akan menjaga Vira sebisa saya Om."
Rafi mempererat genggaman tangannya, membuatku tanpa sadar tersenyum malu. Sejenak melupakan fakta kalau Adit sebentar lagi akan kembali mengganggu hidupku.
Ayah manggut-manggut mengerti,
"Baguslah. Kalau begitu Om percayakan Vira pada kalian berdua, setelah 3 minggu kedepan jangan pernah biarkan Vira berkeliaran sendirian." Ujar Ayah tak terbantahkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
I AM a FREAK teenager
Novela JuvenilJika kamu dihadapi dua pilihan. Pertama, seseorang dari masa lalumu yaitu sahabatmu sekaligus pernah menjadi pacarmu yang menerima kamu dengan semua rahasia kelammu. Kedua, seseorang di masa kini yang belum tentu bisa menerima rahasia kelammu, dan b...