New Cover! Wohoo~
Bagus ngga cover barunya? :))Enjoy!
Selama jam istirahat berlangsung, kejadian yang dulu pun terulang layaknya dejavu.
Meja Evan berada di samping kananku berjarak sekitar 50cm yang kini sudah penuh sesak dengan teman-teman satu kelasku yang ingin berkenalan secara langsung. Mungkin karena Evan murid pindahan dari luar negeri membuat respon dari anak-anak kali ini lebih heboh. Banyak murid dari kelas lain yang ikut mengintip bagaimana rupa Revano Akbar si murid baru dari Singapore. Ck, padahal kan Evan sama sekali bukan bule.
Melihat dari raut muka Rafi, aku yakin dia sedang badmood. Karena sesekali Rafi melirik ke arah meja Evan dengan pandangan sinis. Sepertinya Rafi merasa tersaingi dengan status mereka yang sama-sama murid pindahan.
"Heh."
Juli menoel pipiku, mengalihkan mataku yang sedaritadi sibuk memperhatikan Evan dan Rafi bergantian."Paan sih Ul?" Sahutku jutek.
"Jawab dong, lo tadi ditanya gue sama Rafi malah diem aja kayak orang bego."
Aku menoyor kepala Juli yang baru saja bicara seenaknya.
"Gue juga gatau Uli. Puas?"
"Kok bisa gatau, maksudnya gimana? Ceritain pokoknya sekarang."
Aku menutup telingaku lalu duduk memunggunginya, sembari menyandarkan bagian kepalaku yang sebelah kanan ke dinding karena aku dan Juli memang duduk di barisan paling belakang.
Dari sudut ini aku bisa melihat dengan jelas Evan yang sabar menjawab pertanyaan siswa-siswi yang mengerubungi mejanya seperti semut. Evan adalah sosok yang ramah pada orang baru tapi tetap terkesan cuek dan tidak berlebihan, membuat orang lain mudah merasa nyaman jika bersamanya. Tak heran jika baru satu hari sekolah di Nasional Evan akan menjadi salah satu murid populer."Woy!"
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mendarat di pundakku, membuat aku kaget setengah mati."Ih babie ya lo Kris. Kalo gue jantungan gimana?" Ujarku sewot.
Kristi menyengir polos sambil mengangkat dua jarinya sebagai tanda perdamaian.
Basi banget.
"Kris, tau gak sih lo? Murid pindahan yang lagi dikerubutin itu pacarnya Ara lho!" Juli memberi info dengan sangat antusias.
Mulai deh ngegosip, rutukku dalam hati.
"SUMPAH LO JULI?" Teriak Kristi dengan wajah terperangah.
Aku mendengus kesal melihat tingkah mereka berdua.
"Gausah toa juga kali Kris, bikin budeg telinga orang aja lo.""Etapi beneran itu Ra?" Tanya Kristi, tidak ambil pusing dengan amarahku.
"Gatau gue. Udah gausah dibahas dulu. Kantin yuk?" Pintaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Juli dan Kristi mengangguk antusias,
"Ayo!" Sahut mereka bersamaan.Ketika aku melewati meja Rafi, tanpa disangka-sangka Rafi menahan tanganku.
Dengan wajah bingung aku menatap ke arah Rafi. Begitu juga dengan Juli dan Kristi yang menyadari aku tidak lagi berada di samping mereka.Karena Rafi yang tidak kunjung bicara, malah menatap lurus ke depan bukan ke arahku, pun aku bertanya padanya lebih dulu.
"Kenapa Raf?"
Walau aku sudah bersuara, Rafi seakan tetap tidak mau melihatku.
"Lo yg kenapa Vir?" Ujarnya datar.
"Maksudnya? Emang gue kenapa?" Ulangku.
"Lo kenapa gabisa jawab pertanyaan Juli dan Kristi barusan? Harusnya itu bukan hal sulit kan? Asal lo tau, gue juga punya pertanyaan yang sama. So, Revan itu pacar atau sahabat lo?"

KAMU SEDANG MEMBACA
I AM a FREAK teenager
Ficção AdolescenteJika kamu dihadapi dua pilihan. Pertama, seseorang dari masa lalumu yaitu sahabatmu sekaligus pernah menjadi pacarmu yang menerima kamu dengan semua rahasia kelammu. Kedua, seseorang di masa kini yang belum tentu bisa menerima rahasia kelammu, dan b...