Bagian 8

18.4K 1.9K 131
                                        

Pintu kembali di ketuk dan jantungku berdetak kencang.

"Karin, masuklah ke kamar." Suara Hazna menegang.

"Ada apa?"

"Masuk saja, cepat! Dan jangan bersuara," titahnya sambil melangkah mendekati pintu.

Aku langsung berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar lalu duduk mematung di ayunan. Kupekakan telingaku dan kudengar suara pintu terbuka. Sepi, hanya suara langkah kaki.

"Hazna, serahkan dia padaku," ucap seorang gadis yang sepertinya sudah pernah kukenal. Itu seperti—suara Roy.

"Tidak ada apa-apa di sini seperti yang kau lihat, dan maaf—siapa kau? Dari mana kau tahu namaku? Kita belum saling mengenal bukan?" jawab Hazna sekaligus bertanya.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Kau tidak bisa berbohong padaku."

Aku berfikir sejenak sambil meyakinkkan diri itu suara Roy. Kenapa Roy tidak ingin menyebutkan dirinya?

"Kenapa kau mengira aku menyembunyikan sesuatu?"

"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, tepatnya sesuatu yang berharga. Aku mendengar ucapan kalian saat bicara dan aku juga melihatnya sedang mengubur Harimau bersamamu. Sekarang serahkan dia padaku."

"Oh jadi kau memata-matai rumahku?"

"Jangan banyak tanya, serahkan dia padaku atau aku yang akan merebutnya dengan paksa."

Roy memata-matai rumah ini? Apa karena aku?

"Tidak akan. Aku tidak akan menyerahkannya padamu." Suara Hazna begitu dingin dan tajam.

"Baiklah jika itu maumu."

Suara berdebum terdengar sangat keras. Lantai yang kuinjak bergetar, aku tdak tahu apa yang terjadi di bawah sana tapi aku yakin mereka berkelahi.

"Maaf aku tidak ingin berurusan denganmu. Silahkan pergi dari rumahku!" Nada bicara Hazna terdengar santai namun lantang.

"Air matamu sangat berharga bukan? Jangan sampai aku membuatmu menangis, Cengeng." Roy terdengar mengejek.

Suara dentuman keras kembali terdengar dari bawah. Ingin sekali rasanya aku mengintip dengan apa yang sedang terjadi. Suara decitan kaki dan gesekan mulai terdengar berkali kali dengan di iringi ledakan kecil, lagi dan lagi. Rasanya ingin sekali aku melerai mereka. Kudengarkan dengan seksama dan suara lain mulai bermunculan, seperti bukan perkalahian satu lawan satu. Suara dentuman semakin ramai dan padat hingga suara itu mulai berpindah ke luar rumah.

Kuberanikan untuk mengintip keluar dengan membuka tirai jendela sedikit. Ternyata ada sepuluh una yang dilawan Hazna. Una yang terlihat aneh, mereka bertubuh setinggi dua meter dan tatapan mereka kosong. Di antara mereka adalah gadis mungil memakai jubah hijau, itu Roy. Itu memang benar-benar dia, itu berarti pendengaranku tidak salah.

Roy menoleh dan melihatku di balik jendela. Ia tersenyum, dan melangkah mendekati rumah. Tubuhku gemetar tanpa kutahu apakah dia una yang baik atau tidak, tapi setelah melihat senyum dan tatapannya firasatku mulai memburuk. Tunggu, jika dia sahabat Alex berarti ia juga baik. Aku berusaha menepis semua prasangka buruk dalam pikiranku tentang Roy.

"Alex," panggilku setelah semua indraku tertutup. "Alex kau dengar aku?"

Tidak ada jawaban. Sial! Kenapa setelah di saat-saat seperti ini Alex jadi susah dihubungi?

"Alex, jawab aku!" panggilku mulai pasrah. "Alex!"

"Dia tidak akan bisa mendengarmu." Suara gadis terdengar di depanku.

LoizhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang