part 5

1.3K 66 2
                                        

Jalal memaksa untuk mengantar Jodha pulang ke apartemen karena insiden mabuk semalam. Jodha belum berani membuka suara. Suasana di mobil hening, Jalal juga tidak menunjukkam tanda-tanda akan buka suara.

Akhirnya.
"Ehmm, Jodha, apa aku terlihat begitu buruk di matamu?" tanya Jalal tiba-tiba, membuat Jodha menoleh ke arah Jalal.

"Anda sudah tau pasti jawaban saya, Sir, kenapa masih bertanya," kata Jodha mencibir.

"Aku tau, aku memang brengsek. Tapi setelah bertemu denganmu, rasanya kutemukan duniaku. Aku tak mampu menahan diri untuk jauh darimu. Tubuhku membutuhkanmu. Detakan jantungku rasanya bekerja dua kali lipat memompa darahku. Kau adalah candu buatku. Dan aku sakau," ucapan Jalal membuat Jodha kesal tapi juga sedikit tersanjung.

"Sir, stop it! Anda benar-benar membuat saya muak. Mohon jaga bicara Anda!" Jalal terkekeh mendengar sikap formal Jodha.

"Itu kenyataannya, Nona, bahkan sejak pertama kali aku bertemu denganmu, tidak ada lagi wanita yang kuajak ke ranjangku. Kau membuatku gila, Nona. Rasakan ini," Jodha kaget karena Jalal meraih tangan kanannya dan meletakkan di dada kirinya. Jodha buru-buru menarik tangannya kembali. Ia bisa merasakan detak jantung Jalal meski hanya sebentar. Jalal berdebar, seperti yang dia bilang. Jujurkah dia? Wajah Jodha memanas. Malu? Tentu saja.

"Dada bidang, perut sixpacks, pahatan yang sempurna. Arrgghhh... Jalal kurang ajar, mengapa aku membayangkan sixpacks-nya," segera Jodha menepis pikiran liarnya yg muncul tiba-tiba.

"Kenapa, sayang? Apa yang kau pikirkan? Wajahmu memerah. Jangan katakan kau mulai jatuh cinta padaku," ucap Jalal menampakan seringai nakalnya. Tangan kirinya membelai kepala Jodha, sementara tangan satunya memegang kemudi. Jodha menatap tajam ke arah Jalal, "Hebat sekali pria ini, apa dia seorang paranormal yang bisa membaca pikiran orang lain?" gerutu Jodha dalam hatinya.

Ia membiarkan tangan Jalal terus mengelus kepalanya. Ada rasa hangat, jauh dari nafsu yang biasa ditunjukkan Jalal. Dan sepertinya Jalal juga menikmati momen itu. Wajahnya tenang. "Heran, kenapa dia bisa berubah menjadi cool begini. Matanya memandang lurus ke jalan. Senyumnya sungguh menenangkan. Nah, kenapa pula aku memandangi wajahnya. Aahh, kenapa aku ini??" batin Jodha. Dipejamkan matanya dan menggeleng-geleng, menepis semua pikiran yang malang melintang di otaknya.

"Kenapa, Darl? Do you want me?" tiba-tiba Jalal mengarahkan dagu Jodha sehingga wajah mereka berhadapan. "C'mon, gimme a kiss, Darl..." pinta Jalal dengan puppy eyesnya. Puppy eyes! Ya Tuhan, mata itu bisa membuatku bersimpuh di depannya, pikir Jodha. Tapi Jodha sadar, ia harus jaga sikap.

"Stop, Jalal! Ucapanmu membuatku mual," Jalal menepikan mobilnya, lalu dia menatap Jodha.

"Hei, aku bahkan belum menyentuhmu sama sekali. Kau mual? Aku jadi berpikir, gimana jadinya kalau kita menikah... pasti seru, melihatmu hamil, mual, ngidam dan melahirkan anak-anakku," kata Jalal tertawa. Ada penekanan saat dia mengucapkan 'anak-anakku'. Sejenak Jodha tertegun. Apa yang barusan dia bilang? Melahirkan anak-anaknya? Ada desiran hangat di hatinya saat mengulang kata-kata itu. Ada apa denganku? Kenapa aku memikirkannya. Aku harus realistis, cergah hatinya.

"Jangan banyak berkhayal, lanjutkan saja mengemudi," ucap Jodha kaku. Jalal menghidupkan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan.

"Aku sedang tidak berkhayal, Jodha. Secepatnya aku akan menikahimu," lanjut Jalal, "and I am serious."

Tak butuh waktu lama untuk sampai di apartemen Jodha.

"Terimakasih, sudah mengantarku," ucap Jodha. "Kuantar kau ke atas," suara Jalal tegas, membuat Jodha tak berkata-kata. Dibiarkan Jalal mengikuti langkahnya naik. Ketika sampai di depan pintu apartemen, Jodha menghentikan langkahnya.

"Terimakasih, Jalal, kau sudah mengantarku," ucap Jodha. Jalal tak bergeming. Matanya mengisyaratkan agar Jodha segera membuka pintu apartemen. Jodha mengeluarkan kunci dan membuka pintunya. Sejenak ia berdiri, tak ada rencana mengajak Jalal masuk.

"Tidak menawariku masuk?" tanya Jalal, suaranya rendah, intonasinya sedikit memaksa.

"Maaf, Jalal, aku lelah. Sebaiknya kamu pulang," Jodha mendengar Jalal menghela nafas berat.

"Baiklah," suaranya masih berat. Jalal memegang kedua bahu Jodha dan mendekatkan wajahnya, mencium pipi kanan Jodha. A goodnight kiss. Tak ada pilihan lain, Jodha membalas ciuman Jalal. Semoga setelah ini Jalal secepatnya pergi, pikirnya.

"Thanks, Darl," tiba-tiba Jalal dengan pelan mendorong tubuh Jodha. Membimbing tubuhnya memasuki apartemen. Mata Jalal menatap lurus ke mata Jodha. Pandangannya sayu. Entah kenapa Jodha menurut saja. Jalal kemudian mengunci pintu dan melemparkan kunci itu entah kemana. Pelan-pelan didorongnya Jodha ke sofa dan mendudukkannya.

Tubuh Jalal mengurung Jodha membuatnya terjebak tak bisa melepaskan diri. Jantungnya berdetak lebih cepat saat bibir Jalal mulai menyentuh bibirnya. Jalal melumat agak sedikit kasar. Tapi karena Jodha tidak memberikan perlawanan, lumatannya melembut. Posisi Jodha saat ini terhimpit di bawah tubuh Jalal yang kekar. Otaknya memerintahkan untuk menolak, tapi tubuhnya seperti tak berdaya tiap kali Jalal menyentuhnya penuh kasih sayang. Bahkan sekarang tubuhnya pun sudah berkhianat. Dengan pelan tangannya mengait leher Jalal. Entah setan mana yg merasukinya. Cumbuan Jalal benar-benar membuatnya melayang. Dirasakannya kancing blusnya terbuka satu per satu. Umm.. Lebih tepatnya, kemeja Jalal. Blus yang Jodha kenakan tadi malam kotor oleh muntahannya sendiri. Wine sialan, rutuknya.

Tangan Jodha menahan tangan Jalal saat ia mulai membuka kancing ketiga, namun tangan kekarnya dengan cepat mengunci tangan mungil Jodha. Mata Jalal semakin sayu saat kancing kemeja Jodha yang sudah terlepas semua. Mata itu! Mata itu membius Jodha. Seakan tenaganya hilang tak berdaya.

Jalal mulai mengarahkan sentuhan lembutnya ke bagian belakang leher dan menyusupkan tanan kirinya ke punggung Jodha. God, baru kali ini ada pria yang berani menyentuhnya. Ada desiran aneh yang membuatnya benar-benar seperti melayang menikmati seriap sentuhan Jalal.

"Arrgghh, Jalal... Stop... Kumohon hentikan," Jodha berusaha sebisa mungkin membulatkan suaranya, tapi bahkan desahannya pun tidak bisa dia hindarkan.

"You are heavenly beautiful, Darl. Tahukah kau? And I'm surrender to you," suara rendah Jalal membuat Jodha kembali berusaha menguatkan hatinya agar tak ikut melayang.

"Jalaaaal!!" teriak Jodha saat kesadarannya sudah kembali pulih dari rayuan Jalal. Tangan mungil Jodha kembali mendorong Jalal untuk menjauh dari dirinya. Sial, kekuatan Jalal benar-benar membuat Jodha tak berdaya.

"Panggilah namaku, Darl. Panggil namaku," Jalal memohon. Lalu ia kembali melumat bibir jodha. Tangan Jalal mulai menyelinap ke bagian belakang hotpants Jodha.

"Singkirkan tanganmu, Jalal... Atau aku akan membuatmu menyesal, menyingkirlah!!" gertak Jodha sambil mendorong tubuh yang menghimpitnya sekuat tenaga. Tapi hasilnya nihil. Jalal tak bergeming sedikitpun.

"JODHA ANANTA HANDOKO apa yang kalian lakukan??!!" itu suara daddy.

"Mati kau, Jodha, kau benar-benar dalam masalah besar!! Daddy pasti pakai kunci cadangan untuk masuk ke sini," batin Jodha cemas. Didorongnya tubuh Jalal. Jalal buru-buru bangkit dari sofa. Segera ia rapikan pakaiannya.

"Daddy tunggu kau di rumah! Ada yang ingin daddy bicarakan dan kau juga ikut, aku ingin kalian menjelaskan semua ini," ucap daddy tegas sambil menunjuk Jalal. Daddy lalu pergi meninggalkan apartemen.

"Look what you've done to me!!" Jodha mengusap wajahnya frustasi.

"Bukankah kau juga menikmatinya, Darl? Yea, akhirnya rencanaku berhasil," bisik Jalal di telinga Jodha.

"Rencana??" kening Jodha mengernyit.

"Ya.. Sebentar lagi kau akan menyandang nama Ny. NASUTION. Aku akan segera menikahimu Nona Jodha,"ucap jalal menyeringai misterius ..

Bersambung makasih

HIMMEL HEAVENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang