Chapter VI: Reminiscence

22.8K 2.3K 101
                                        

Dua hari Sammy cuma mendekam di rumah, kombinasi dari kurang tidur mengerjakan skripsi dan pulang malam-malam naik motor tanpa jaket akhirnya menumbangkan Sammy dengan flu berat.

Kemarin anak buah Mas Mirza mengantar skuternya ke rumah, teman-temannya menyambut motor tua itu dengan isak tangis dan karangan bunga bak pahlawan yang gugur di medan pertempuran.

"Udahlah Sam, namanya juga mesin, suatu saat pasti dia bakal rusak juga. Lagian juga bokap lo udah ikhlas juga kan motor yang pertama kali dia beli akhirnya berhenti bertugas," Kunto mencoba menghibur Sammy.

Sammy hanya tersenyum menanggapi sahabatnya, ia ingat akan cerita ayahnya yang susah payah mengajak ibunya kencan di masa-masa kuliah dulu. Keluarga ibu Sammy memang orang terpandang, sedangkan ayahnya harus bekerja keras mendapatkan restu dari orang tua ibunya dulu. Bekerja serabutan demi membiayai kuliah dan sekolah pilotnya. Maka dari itu saat Sammy mengatakan bahwa motor ini banyak kenangannya, ia tidak mengada-ada.

Suasana Kotak Amal sedikit sepi hari ini. Jape seperti biasa di awal bulan sibuk menjadi kuli panggul gratisan untuk pacarnya yang harus belanja bulanan untuk keperluan kedai rice bowl mereka. Dimas mungkin sibuk dengan klien fotografinya. Nydo semester ini sedang magang di notaris kenalan ayahnya. Praktis hanya ada Sammy, Kunto, dan Raga di rumah.

"Sam, gak ngajak Nadhira keluar gitu? Pasif amat lo jadi cowok, pantes jomblo lo awet kayak bakso formalin," canda Raga.

Kata-kata Raga ada benarnya, memang diantara teman-temannya yang dipertanyakan akal sehat dan IQ-nya memang cowok botak yang selalu memakai kaus-kaus band british ini yang paling waras.

"Iya sih Ga, cuma badan gua masih gak enak nih. Dikasih kucing juga dimuntahin lagi."

Seiring dengan skripsi Sammy yang semakin mendekati garis finish, kadang ia memikirikan bagaimana ia bisa move on dari kehidupan bersama teman-temannya di Kotak Amal. Sammy kembali mengingat bagaimana ia bisa menghabiskan 3 tahun bersama kumpulan manusia setengah waras ini.

***

Dimas adalah teman pertama Sammy dari masa orientasi. Selalu setia dalam suka dan duka, Dimas yang talkative melengkapi Sammy yang cenderung lebih pendiam saat bertemu orang-orang baru. Sammy yang lebih pintar secara teori melengkapi Dimas yang lebih aktif dalam praktek. Ia adalah logika dalam setiap ide-ide gila Dimas. Keduanya menjadi duo anak rantau terpopuler di Fakultas mereka. Tak terpisahkan, rasanya aneh menyebut nama Sammy tanpa Dimas, begitu pula sebaliknya.

Raga, Kunto, dan Nydo satu SMA saat di Jakarta. Sebenarnya ketiganya sama sekali tidak kenal dekat satu sama lain sebelum masuk kuliah. Kunto yang anaknya sedikit cupu, cenderung bermuka pas-pasan, dan dari keluarga yang kurang punya merasa tidak pantas bergaul dengan Raga yang populer meskipun satu kelas.

Nydo adalah ketua OSIS mereka, satu hal yang menyatukan Raga & Kunto adalah mereka sama-sama tidak suka dengan Nydo di masa SMA. Populer dikalangan cewek-cewek, berprestasi di bidang akademis dan olah raga, badan atletis, muka tipe-tipe cowok SMA yang kerap diwawancarai majalah Gadis, tak heran kalau banyak cowok yang merasa tersaingi termasuk Raga & Kunto.

Tak diduga-duga saat kuliah mereka diharuskan satu kelompok saat masa orientasi. Keharusan untuk kompak dalam mengerjakan tugas dan rintangan akhirnya mendekatkan mereka. Sampai di makrab(baca: malam keakraban) perhimpunan mahasiswa Jakarta, akhirnya mereka bertiga menemukan spesies langka yang bernama Dimas sedang sibuk tebar pesona di kalangan mahasiswi.

Otomatis, dari Dimas merekapun akhirnya kenal dengan Sammy. Merasa cocok satu sama lain, akhirnya semua memutuskan untuk hijrah dari kos mereka masing-masing ke rumah kontrakan bersama.

Proxima CentauriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang