Setelah meminta izin kepada pemilik kos akhirnya Dimas diperbolehkan menemani Andien sampai ke kamarnya. Ia membantu Andien memasukkan barang-barang yang diperlukan ke dalam tasnya. Sesekali ia melihat ke arah Andien untuk memastikan wanita itu tidak kenapa-kenapa.
"Udah semuanya? Charger? Peralatan mandi? Mukena? Bawa bantal ya buat tidur di mobil?"
tanya Dimas membawa tas Andien. Wanita itu hanya mengangguk dan mulai menitiskan air matanya lagi.
"Gua belum siap ditinggal papa Dim." Andien tak bisa menyembunyikan ketakutan terbesarnya.
"He'll be fine sunshine, dia udah ditangani dokter di rumah sakit kan," ucap Dimas mengusap air mata dari pipi Andien.
Andien mengiyakan dengan anggukan kepalanya. Ia mencabut kabel televisi dan kipas angin, mematikan lampu, berjalan keluar menggandeng Dimas dan mengunci kamarnya. Di perjalanan menuju lobby, Ibunya menelepon.
Ibu Andien: Assalamu'alaikum. Andien dimana?
Andien: Wa'alaikumsalam. Aku di kos ma. Papa gimana keadaannya? Aku pulang ke Jakarta ya?
Ibu Andien: Papa kamu lagi istirahat sayang, udah mendingan kok. Lho, kuliah kamu gimana?
Andien: Sebentar aja ma, Andien mau ketemu papa, jagain papa, Andien kangen.
Ibu Andien: Kamu naik apa sayang? Memang ada pesawat atau kereta jam segini?
Andien: Aku dianter Dimas naik mobil.
Ibu Andien: Mama boleh ngomong sama Dimas?
Andien memberikan handphone-nya kepada Dimas. Dimas awalnya kaget, selama kenal dengan Andien ia tak pernah berbicara dengan keluarganya sama sekali. Ya, berhubungan dengan orang tua wanita yang sedang dekat dengannya bukan salah satu hal yang pernah ia lakukan sebelumnya. Ia bingung harus bicara apa, bicara dengan ibunya sendiri pun tidak pernah, apalagi ibu orang lain.
Dimas: Assalamu'alaikum tante, ini Dimas. Kenapa tante?
Ibu Andien: Nak Dimas mau antar Andien pulang? Gak merepotkan? Nanti kuliahnya gimana?
Dimas: Iya tante. Insyaallah enggak kok. Kuliah Dimas udah selesai, tinggal skripsi aja sama kayak Andien. Om gimana keadaannya tante?
Ibu Andien: Alhamdulillah sudah mendingan. Yasudah tante perbolehkan Andien pulang. Dimas hati-hati ya, tolong jagain Andien.
Dimas: Alhamdulillah. Iya tante, pasti.
"Kata nyokap apa Dim?" tanya Andien menerima handphone-nya dari Dimas.
"Dibolehin pulang asal hati-hati," jawab Dimas.
"Maaf ya ngerepotin Dim,"
"You can always count on me sunshine."
Andien mengembangkan sedikit senyumnya. Dalam hati ia bersyukur mengenal laki-laki itu. Dimas yang selalu bisa ia andalkan, yang selalu ada di saat dibutuhkan.
***
"Andien mana? Om Panca gimana?" Dua kalimat pertama yang diucapkan Sammy saat sampai ke Kotak Amal.
"Duduk dulu sayangku," ujar Putri mengajak Sammy duduk di sofa. Putri memeluk Nadhira yang menemani Sammy sampai ke dalam rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Proxima Centauri
Romansa(This story is private-ed, beberapa chapter mungkin tak tersedia jika belum following) "Aku tidak pernah merasa kalau jodoh itu benar-benar ada." "Aku yakin jodoh itu ada." Semesta selalu punya cara dalam memberi pelajaran pada manusia yang hidup di...
