Fourteen

482 60 13
                                        

"Zayn."

Nadine terdiam menatap Zayn yang terduduk kaku melihat kedatangan sang kekasih. Pelupuk Nadine basah, tangannya terdapat beberapa luka memar jika dilihat dari kejauhan, namun ketika matanya beradu dengan bola mata Zayn, Ia berusaha untuk tetap tersenyum tipis walaupun tak ada makna kebahagiaan di dalamnya.

Lagi-lagi Zayn hanya terdiam di posisinya. Terlalu terlambat untuk berpikir dan terlalu cepat untuk bertindak. Napas berat Zayn semakin hampa dan sia-sia. Pikirannya beradu dan hatinya terus mengeluarkan argumen-argumen tidak penting, namun tubuhnya tetap diam tak bisa merespon satu syaraf pun dari otak.

"Maafkan aku. Aku terlalu lambat untuk berlari dan terlalu lemah untuk melawan," ucap Nadine lirih.

Diliriknya kedua pasangan itu oleh Joe. "Basi," gumamnya. Ia terus menatap wajah Nadine dengan sesekali memutar kedua bola matanya. "Udah selesai rapat rumah tangganya?"

Zayn melirik Joe sinis. "Lepaskan dia."

"Dia?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Nadine. "Tidak mungkin. Dia adalah aset berharga untuk menggantikanmu. Bukannya begitu?"

"Ayolah."

"Tidak."

Zayn mendengus. "Apa yang harus aku lakukan agar kau melepaskan dia?"

"Tidak ada," jawab Joe sambil menggelengkan kepalanya.

Nadine menghela napas panjang. "Sebegitu berharganyakah aku? Kalau begitu berapa harga tertinggi untuk menawarku jika aku dijual di Ebay? Oh, triliunan? Pantas saja aku tidak boleh dilepas. Dasar cowok matre."

"Itu bukan urusanmu, Tikus Kecil."

"Namun menyandra lelaki yang aku sayang itu merupakan urusanku, Tuan Sok Berkuasa."

Zayn melotot ke arah Nadine sebagai tanda bahwa Nadine harus tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. "Lepaskan dia, Joe."

"Tidak. Sekali tidak ya tetap tidak!" bentak Joe sambil melangkah pergi meninggalkan keduanya. "Pasangan aneh."

"Aku ingin membawamu kabur tapi tanganku diikat dan aku tidak tahu cara agar kita bisa keluar dari ruangan sempit seperti ini tanpa ada barang tajam yang bisa memotong tali yang mengikat kita. Jadi, lebih baik aku di—" Perkataan Nadine terhenti ketika Zayn berdeham.

"Jepit rambutmu Nadine," ucap Zayn setengah berbisik.

Nadine menyerngitkan dahinya sebal. "Jepit rambutku jelek ya?"

Zayn terdiam dengan wajah datar dengan sesekali mendengus. "Jepit rambutmu ujungnya tajam, bisa dipakai untuk memotong tali."

"Memangnya bisa?"

"Coba saja. Lagi pula talinya tidak terlalu tebal," jawab Zayn.

Nadine menyipitkan kedua matanya. "Tapi bagaimama cara aku untuk meraihnya?"

"Sini," ucap Zayn sambil melirik ke sampingnya. "Menunduklah."

Nadine mengangguk. Ia berlutut di sebelah Zayn. "Lalu?"

"Ke belakang sedikit. Eh, maksudku dekatkan kepalamu ke tanganku."

Nadine mendekatkan kepalanya. "Ayo ambil jepitanku. Aw! Jangan ditarik terlalu keras, nanti kepalaku bisa botak."

"Iya, bawel." Zayn terus meraba-raba rambut Nadine dan perlahan menarik jepitan rambut itu agar lepas dari rambut kusut pacarnya. "Ah, dapat."

"Eh, tapi bukannya kalau pake jepit rambut mah buat borgol ya? Lagian aku bawa pisau lipat loh."

Zayn menggeram. "Kenapa baru bilang sekarang?" Ia tersenyum malas. "Mana sini pisaunya?"

Nadine merogoh saku belakangnya dan memotong tali yang mengikat dirinya. "Ah, susah." Sekali lagi Ia berusaha dan tetap saja nihil.

Behind the Scenes // malikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang