Zayn melirik ke arah Nadine yang daritadi hanya termangu duduk di pinggir sungai.
"Nad, kamu mau di sini terus atau mau pulang?" tanya Zayn hati-hati.
Diam. Sunyi. Hanya gemercik air yang terdengar akibat bersentuhan dengan kaki Nadine. Lagi-lagi Nadine hanya menjawabnya dengan helaan napas.
"Kamu mau aku ceritain?" tanya Zayn sambil menghampiri Nadine dan duduk di sampingnya.
Gerakan kaki Nadine terhenti. Ia terdiam. Bibirnya sudah mulai memucat tapi matanya masih menandakan keteduhan. Fisik Nadine sekarang menandakan antara dia takut atau kedinginan.
Lagi-lagi Zayn menggerutu. "Kenapa nggak dijawab?"
Nadine melirik ke arah Zayn sambil mempersiapkan posisi paling baik untuk pergi secara tiba-tiba. Selain itu Ia perlahan mulai menaikan kedua kakinya. "Jangan dekat-dekat."
"Kenapa? Aku tidak ingin menyakitimu, Nadine. Mengapa kau harus takut?"
Nadine bangkit dari tempat duduknya. "Seharusnya jika kamu ingin menjagaku, kamu tidak berniat untuk menjualku. Mengapa kau harus menjualku? Aku ini bukan barang!"
Zayn terdiam. "Dahulu aku terjerumus ke dalam pasar gelap, perdangangan gelap, black market. Kau tahu itu? Kau ingat dahulu aku ini pemakai narkoba? Aku juga pengedar narkoba. Dahulu aku ini termasuk ke dalam orang penting di sana. Namun saat aku mengenalmu lebih jauh perlahan aku mulai menjauhi dunia itu dan selamanya aku hilang dari situ."
"Tapi ada satu hal yang aku lupakan. Dahulu saat aku ingin pergi dari dunia itu, aku berjanji kepada mereka, orang-orang penting perdangangan, bahwa aku akan menjual seorang gadis yang akan menggantikan posisiku sekarang. Karena jika aku keluar mereka bisa rugi besar dan gantinya adalah dengan menjual seorang gadis berparas manis ke negeri seberang."
Zayn terdiam. Menghela napas namun sedetik kemudian Ia mengambil napas panjang. "Aku kira aku sudah terbebas dari hal itu setelah sekian lama mereka tidak menghubungiku dan sekarang mereka kembali lagi untuk mengambilmu.
Hati Nadine menangis. Air matanya yang sebelumnya menggenang di pelupuk mata sekarang sudah mulai terjatuh mengenai pipi merahnya. "Mengapa harus aku yang engkau jual? Mengapa tidak perempuan lain?"
Zayn tersenyum dengan mata sedihnya. Pertanyaan yang sudah lama Ia tunggu-tunggu. "Dahulu aku sangat membenci Niall. Kau ingat di saat Niall menjaga kau mati-matian agar kamu tidak bisa diambil oleh orang-orang perdangangan termasuk aku. Ingat saat dia bilang bahwa aku adalah lelaki jahat? Ya, dia benar. Tapi saat sebelum Ia pergi untuk selama-lamanya, aku menghadapnya dan memberitahu tentang semuanya bahwa aku sudah menjauhi dunia itu."
"Maafkan aku. Seharusnya aku bisa menjagamu. Seharusnya aku bisa menepati janjiku untuk selalu membuatmu merasa aman dan nyaman," ucap Zayn lirih. Ia menatap kedua mata Nadine yang sudah mulai basah. "Aku mencintaimu Nadine."
Nadine terdiam membisu. Badannya terasa membeku, hatinya tercabik dalam, pikirannya berserakan dan bibirnya terkunci rapat. Perlahan ia melangkah menuju Zayn dan memeluk erat sosok berbadan kokoh itu. "Aku mencin--"
"ZAYN, KELUAR!"
Sontak Zayn langsung melepaskan pelukan Nadine. "Nadine, pergilah."
"Tapi-"
"Pergilah. Ini semua salahku. Seharusnya aku bisa menghadapinya secara jantan. Pergilah, Nadine. Aku sungguh mencintaimu."
Nadine pun melangkah menjauhi Zayn dan berlari menuju semak-semak. Ia meringkuk ketakutan sambil mengintip ke arah Zayn.
"Zayn, rupanya kau di sini," ucap sesosok lelaki yang umurnya sekitar kepala tiga.
Dari kejauhan Nadine melihat rahang Zayn mengeras. Zayn mengepalkan tangannya, bersiap-siap melakukan pembelaan diri.
"Ia sudah pergi."
Sosok lelaki itu tertawa. "Sudah cukup omong kosongmu, Zayn! Lebih baik sekarang kau serahkan gadis itu. Oh, apa jangan-jangan kau mencintainya?"
"Jika kau ingin menyelesaikan masalah denganku lebih baik kita bicarakan ini di tempat lain dan jangan sekali-kali kau membawa perempuan ke dalam permasalahan ini!" Suara Zayn meninggi. Ia sudah berada di puncak emosi tertinggi.
"Baiklah, mari bawa dia ke markas," ucap lelaki itu menyuruh kedua orangnya untuk menyeret Zayn.
"Aku bisa berjalan sendiri!
Zayn menoleh ke belakang. Mencari-mencari keberadaan Nadine namun tubuh Nadine yang terlalu mungil sudah meringkuk sempurna dibalik semak belukar dan tak akan pernah terlihat oleh orang lain.
*****
"Hai, Zayn. Sudah lama kita tidak bertemu."
Zayn menoleh ke arah lawan bicaranya. "Hai, Joe."
"Di mana pacarmu itu?"
Zayn terkekeh pelan. "Bukan urusanmu."
"Aku mencintai pacarmu itu. Bagaimana kalau aku menculiknya? Boleh?" tanya Joe.
"Diam! Cukup!"
"Tapi aku sudah menculiknya."
Zayn melirik Joe tajam. "Jangan bergurau."
"Aku sudah menculiknya."
*****
Sumpah sorry banget baru diupdate. Jadi sekitar sebulan yang lalu aku masuk rumah sakit gara2 kena usus buntu, baru keluar seminggu setelahnya. Terus seminggu abis itu aku masih tahap pemulihan, seminggu setelahnya aku lagi sibuk2nya ngumpulin tugas aku yang kurang sama ulangan harian susulan dan kemaren baru selesai ulangan akhir semester. Maaf banget baru update, aku baru sempet. Maaf ceritanya jadi kaya gini, tapi ya emang gini wkwk. Makasih buat yang masih mau baca. Ily
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind the Scenes // malik
Fanfic✅ Completed [2016] Cerita Nadine tidak berhenti sampai situ. Cerita tentang ia dan Zayn. Cerita tentang hubungan mereka. Cerita tentang kepribadian Zayn. Cerita tentang perjuangan yang tiada henti. Cerita tentang awal dari sebuah perjalanan.
