Happy Reading Guys, semoga terhibur yaaa ;))
-------------------------------------------------------------------
Tubuhku terasa terombang-ambing saat ternyata kesadaranku belum terenggut seluruhnya. Masih bisa kurasakan air hujan yang membasahi wajahku. Rasa pusing dan berat pada kepalaku yang menyebabkan ku tak bisa membuka mata.
"Neng, sadar atuh." Kini aku merasa pipiku ada yang menepuk lembut. Aku tak lagi merasakan air hujan yang membasahi seluruh tubuhku. Kurasa aku sekarang aku berada di dalam mobil.
Cukup lama pria yang hanya kudengar suaranya itu mencoba membangunkanku. Hingga akhirnya dia menyerah dan mulai menjalankan mobilnya kembali.
Saat aku membuka mata, aku mengernyit merasakan sakit kepala yang luar biasa. Beberapa kali aku mengerjap mencoba mengenali tempat dimana aku berada sekarang.
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Kulihat pada jendela di samping kiriku. Ini sudah malam. Dan aku tidak tahu sekarang aku berada dimana? Dengan sekuat tenaga aku membangunkan tubuhku menjadi duduk.
"Dia masih belum sadar, Den. Baru saja Mamang melihatnya." Kudengar seseorang sedang berbicara dari luar dengan logat sundanya yang kental.
Tak lama pintu ruangan ini terbuka. Mataku langsung menatap mata hitamnya yang teduh menatapku.
Lalu alisku mengernyit menatap seseorang yang sekarang sedang berjalan ke arahku.
"Ah, kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" Pria yang berjalan ke arahku tampak terlihat lega melihatku sudah sadarkan diri. Sambil tersenyum dia duduk di tepi tempat tidur di sampingku.
"Kak Divan? Kok, kakak ada disini?" tanyaku tak memperdulikan ucapannya. Ya, pria itu Divan. Aku bingung kenapa aku bisa bersama dia? Apa orang yang tadi menolongku itu Divan? Tapi, aku yakin sekali itu bukan Divan. Aku masih ingat ucapan pria yang menolongku tadi.
Lantas kenapa sekarang ada Divan disini?
"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu Anna. Kenapa kamu bisa ada di perkebunan itu?" Kenapa aku bisa berada di perkebunan itu? Mataku terpejam, bayangan pertengkaranku dengan Bimo terlintas seperti potongan film.
Ah, apakah mereka sekarang sedang mencariku.
"Maaf Kak, ini jam berapa, ya?" Lagi-lagi aku menjawabnya dengan pertanyaan.
Divan melihat ke jam di tangannya. "Jam sembilan malam." Apa? Jam sembilan malam?
Segera aku menyibak selimut yang menutupiku dan setengah meloncat aku turun dari tempat tidur. Tapi, mungkin karena kondisiku yang belum membaik. Saat itu juga tubuhku limbung dan terjatuh. Untung saja Divan menahanku. Kalau tidak mungkin tubuhku akan berakhir di lantai.
"Hei, tenanglah. Mau kemana? Kondisimu belum stabil, Anna." Divan memegangi kedua lenganku dan mendudukanku di tepi tempat tidur.
Aku memijat pelipisku karena kepalaku sangat berat dan pusing sekali. "Aku harus pulang, Kak. Suamiku pasti khawatir mencariku." Aku menatap Divan sendu. Tapi, tunggu apa Bimo mencariku? Membayangkan Bimo yang tak bisa tegas dan selalu mengalah pada Mommy nya membuatku merasa sakit.
"Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi, tidak sekarang Anna, ini sudah malam. Besok pagi saja, ya." Divan mengelus lembut rambutku membuatku merasa aneh. Kenapa saat aku menerima sentuhan pria lain, aku merasa aku telah berdosa?
"Tidak kak, aku harus pulang sekarang." Aku bergegas bangkit dan melangkah ke arah luar kamar.
"Hei, baiklah-baik-baik. Aku antar kamu, ya." ujar Divan mengekoriku keluar dari kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Last Happiness (TELAH TERBIT)
RomanceSequel Of The Story 'My Possessive Hero' Masalah itu datang silih berganti dalam kehidupan rumah tangga Anna dan Bimo. Apakah Anna akan berhasil menerobos dinding kekuatan cinta itu? Jika ternyata ia yang akan berjuang sendiri disini? Tanpa Bimo yan...
