Bagian 11

53.2K 2.7K 131
                                        

SELAMAT SIANG READER, JANGAN BOSAN DULU :))

--------------------------------------------------------------

Keadaan mulai membaik setelah kepulangan kami dari villa. Bimo bersedia menjawab semuanya yang aku tanyakan padanya. Karena jujur sepulang dari villa, banyak sekali pertanyaan yang menggelayuti pikiranku. Terutama tentang Rana.

Selama ini Bimo memang sudah mengetahui tentang Rana yang menyukainya. Bimo tidak mau mengakuinya ketika aku menuduhnya saat itu. Karena dia pikir aku hanya mengira-ngira dan dia tidak mau kami mempunyai masalah karena hal itu.

Tapi saat aku mengucapkannya dengan marah dan sungguh-sungguh barulah Bimo sadar bahwa aku memang tahu kalau sebenarnya Rana memang menyukainya.

"Dulu Rana memang mengatakan dia menyukai Mas. Tapi, dia hanya bilang kalau dia merasa kagum saja pada Mas. Dia juga bilang kelak dia mau punya pacar dan suami seperti Mas." Bimo berjalan ke arah dispenser dan menampung air ke dalam gelas yang dia pegang.

Aku menyeret salah satu kursi di meja makan. "Kalau kaya gitu kenapa Mas Bim gak peka kalau Rana sampe sekarang masih suka sama Mas. Dan perhatian yang Mas beri sama dia akhir-akhir ini semakin membuat dia yakin kalau Mas juga bisa membalas perasaannya." Aku mengucapkannya dengan kesal. Karena kalau di pikir-pikir Bimo seakan memberikan harapan jika perilakunya semanis kemarin pada Rana.

"Itu kejadiannya sudah lama, Sayang. Dia hanya bilang kalau dia sebatas mengagumi saja tidak lebih. Dan Mas percaya karena dia sering bercerita tentang pacarnya sama Mas." Bimo berjalan ke arahku dan duduk di kursi di sampingku.

"Lalu apa maksud dari jangan lakukan itu lagi. Keadaan sekarang dan dulu berbeda?" Sebenarnya pertanyaan itu yang bergelayut di pikiranku ingin aku ketahui jawabannya.

"Sebenarnya perpisahan antara Mas dan Feronica bukan karena masalah dia yang sering sekali mengkhianatiku. Tapi,karena Rana juga yang sering sekali menganggunya." Mood-ku turun saat nama si tante terdengar lagi olehku. "Yasudah Mas manfaatkan saja keadaan itu agar Mas bisa cepat-cepat terlepas dari Feronica."

Tidak sebatas itu pertanyaanku. Mulutku terus mencecarinya dengan berbagai pertanyaan. Hingga akhirnya kami tertidur.

Hari demi hari berubah menjadi minggu demi minggu kami lewati dengan semestinya. Beberapa hari setelah dari villa Rana memang sempat datang ke rumah untuk meminta tetap tinggal di rumah karena dia tidak mau tinggal bersama Fabian. Akhirnya Bimo memutuskan untuk meminjamkan apartement nya. Karena Bimo sama sekali tidak mau Rana kembali ke rumah. Aku tahu Bimo marah pada Rana, tapi dia juga tidak tega membiarkan Rana terlantar karena tak di inginkan siapapun.

Tapi, itu konsekuensinya karena jadi orang jahat. Tidak ada yang mau menerima dia. Termasuk ayah dari anaknya sendiri.

Hari ini aku sibuk menghabiskan waktu di kamar bergelung di tempat tidur. Sejak semalam hujan mengguyur bumi dan tak kunjung reda hingga siang hari. Itu yang membuatku malas melakukan aktifitas.

"Non..." kudengar mbak Asih memanggilku dari luar kamar.

"Iya Mbak ada apa?" balasku sedikit berteriak.

"Ada Non Rana." Aku langsung menyibak selimut yang menutupi kakiku. Dan menurunkan kakiku yang aku lipat di tempat tidur. Rana? Mau apa lagi dia kesini?

"Rana, Mbak?" ucapku setelah membuka pintu kamar dan mendapati mbak Asih yang berdiri di depan pintu.

"Iya, Non. Dia ada di ruang tamu."

Aku mengangguk lalu bergegas melangkah ke ruang tamu. Kulihat seorang wanita menggunakan dress selutut dengan kardigan putih gading tengah duduk di kursi ruang tamu. Keadaannya tak bisa di bilang baik-baik saja.

My Last Happiness (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang