Bau khas rumah sakit menyengat menyerang penciumanku. Ini pertanda kesadaranku sudah mulai kembali. Tapi aku belum bisa membuka mataku.
Otakku berpikir kenapa aku bisa sampai disini? Kejadian pagi itu berkelebat dalam ingatan. Sakit luar biasa yang aku rasakan pada perutku lalu darah segar yang merembes dari selangkanganku.
Perutku, perutku sudah tidak lagi sakit. Oh, Tuhan apa sekarang aku sudah kehilangan dia? Dia yang sudah hidup bersamaku lima bulan terakhir. Apa aku kehilangan dia bahkan sebelum aku melihatnya.
Kurasakan tanganku ada yang menggengam dan basah. Siapa yang memegang tanganku? Karena Bimo tidak mungkin, kalaupun Bimo pulang pasti secepat-cepatnya mungkin besok dia baru sampai disini. Dan apa yang harus aku katakan padanya saat dia pulang?
Aku tidak siap melihat wajah kekecewaannya terhadapku. Ini salahku, ya memang ini salahku. Aku tidak bisa menjaga dia. Tuhan, mungkin tidak mau mempercayakan aku menjaga satu nyawa itu. Karena dia lebih memilih mengambilnya dari dalam diriku.
"Nak, sebaiknya kamu istiraha dulu. Sudah tiga hari ini kamu tidak tidur, tidak makan. Nanti kamu sakit." Mama, itu suara Mama. Kenapa Mama bisa berada disini? Dan tunggu dulu, tiga hari? Apa maksudnya dengan tiga hari? Bukankah aku pingsan tadi pagi ya?
Kurasakan genggaman...? Genggaman siapa? apa seseorang yang menggenggam tanganku itu Bimo? Seseorang yang menggenggam tanganku semakin mengetatkan genggamannya. Dan kurasakan juga sesuatu yang lembut menentuh punggung tanganku. Dia menciumnya lama.
"Biarkan aku seperti ini, Ma. Aku tidak mau meninggalkan Anna." Oke, suara itu memang suara Bimo. Aku ingin membuka mataku, menangis dan memeluknya. Tapi, tubuhku terasa kaku juga mataku terasa berat untuk aku buka. Bahkan hanya sebatas menggerakan tangan saja tak bisa. Rasanya lemas.
"Mamamu benar. Kamu sebaiknya istirahat. Gak lucu kalau Anna bangun tapi nanti kamu malah sakit." Suara Daddy yang sekarang terdengar. Sepertinya di ruangan ini ada banyak orang.
"Tidak mau, Dad! Jangan ganggu aku. Biarkan aku begini, aku tidak mau saat Anna membuka mata bukan aku yang dilihatnya pertama kali." Bimo bersikeras. "Sayang, ayo buka matamu. Aku rindu sama kamu, Sayang." Kini ucapan Bimo terdengar jelas di telingaku seperti sebuah bisikan. Bahkan hembusan napas hangatnya menyapu daun telingaku.
Oke, ini saatnya aku harus bangun. Aku tidak mau membiarkan Bimo menyiksa dirinya sendiri karena harus menungguiku. Perlahan aku mencoba membuka mataku. Dan kegelapan kini sudah digantikan oleh terang yang membuat mataku sedikit terasa sakit karena harus beradaptasi. Beberapa kali aku mengerjapkan mataku mencoba memperjelas penglihatanku yang sedikit memblur.
Mama yang pertama aku lihat, dan saat pandangan kami bertemu mata Mama melebar sempurna.
"Sayang, kamu sadar?" pekik Mama saat aku melihatnya.
Kualihkan pandanganku pada sosok di sampingku yang aku rindukan. Diapun terkesiap, langsung mengangat kepalanya yang dia sandarkan di dekat kepalaku dan menatapku tak percaya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" ucap Bimo mengulang ucapan Mama. Kulihat sosok gagah dan tampan itu kini berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan. Tampak bulu-bulu halus yang belum sempat ia cukur kini tampak membingkai wajahnya. Meski tak begitu mengerikan, dengan bulu-bulu itu Bimo terlihat lebih maskulin dan seksi.
Aku menggerakkan tanganku menggenggam tangan Bimo dengan sekuat tenaga sebagai jawaban dari pertanyaannya. Karena kini suaraku tercekat di tenggorokan tak bisa aku keluarkan.
Mataku terasa panas saat melihat Bimo yang menangis. Bayangan saat aku pendarahan mampu memecahkan genangan air di pelupuk mataku. Pasti Bimo menangis karena kecewa, karena aku tidak bisa menjaga bayi ku dan dia. Maafkan aku Mas, aku istri yang bodoh. Rutukku dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Last Happiness (TELAH TERBIT)
RomanceSequel Of The Story 'My Possessive Hero' Masalah itu datang silih berganti dalam kehidupan rumah tangga Anna dan Bimo. Apakah Anna akan berhasil menerobos dinding kekuatan cinta itu? Jika ternyata ia yang akan berjuang sendiri disini? Tanpa Bimo yan...
