BAB 13

422 28 6
                                    

"The reason why we can't let go of someome is because deep inside. We still hope" - Unknown

**

KILA turun dari ranjang dengan tergesa. Ia berlari ke ruang tamu namun nihil tidak ada orang disana. Dengan langkah lebih cepat ia membuka ruangan yang mungkin di datangi Raka namun tidak ada siapa-siapa.

Dapur.

Saat kata itu terlintas di pikirannya, Kila berlari. Kosong. Tidak ada siapapun disana.

Kila terduduk lemah di lantai, ia menangis seunggukan. Apa mungkin ia bermimpi bertemu dengan Raka. Apa mungkin pertemuannya dengan Raka hanya delusi semata.

Pundak Kila bergetar hebat. Ia yakin ia tidak bermimpi.

Kila membenamkan wajahnya pada lipatan lutut.

"Kila"

Gadis itu menoleh lantas berlari menubruk tubuh Raka yang tengah mengendong Kira lengkap dengan beberapa belanjaan.

"Jangan pergi" , ucap Kila terbata-bata.

Raka meletakkan belanjaannya di meja. Ia merengkuh Kila dan menggiringnya untuk duduk di sofa.

"Minum dulu" , Raka mengangsurkan segelas air putih untuk Kila.

Gadis itu meneguk sedikit dan mengawasi gerak tubuh Raka yang mengambil duduk di depannya. Kira, peri kecil mereka memilih bermain di lantai dengan mainan-mainan yang tersebar.

“Bersikaplah dewasa, Kila. Kamu sudah menentukan seseorang untuk menemanimu puluhan tahun ke depan. Kalian sudah merancang sebuah pernikahan. Kamu tidak boleh terus seperti ini.”

Pandangan mata Kila berkabut, airmatanya sudah menggenang. Ia sendiri juga tidak tahu atas dasar apa ia menangis. Yang jelas ada perasaan asing jauh di dasar hatinya yang menghantam telak.

“Pernikahan bukan sebuah lelucon ataupun karena paksaan. Pernikahan itu sakral, satu kali dan selamanya. Biarkan aku dan Kira pergi , Kalian berdua akan tetap bahagia meski tanpa kami. Bukannya aku ingin menghakimi pilihanmu. Tapi aku bukan seseorang yang kuat untuk melihatmu bersanding dengan pria lain. Bukannya aku tidak rela. Sungguh aku merelakanmu jika itu bisa membuatmu bahagia. Ini semua tentang diriku, Aku hanya belum bisa berteman dengan kenyataan. Cukup ijinkan aku menjauh dan aku akan menyembuhkan luka ku sendiri.”

“Jangan pergi” , lirih Kila.

“Kita bukan anak belasan tahun lagi, Kila. Mengertilah, hidup tak lagi mudah. Hidup sudah tidak melulu tentang kebahagiaan semu. Saat ini bukan saatnya untuk itu...” , Raka menghampiri Kila dan meraih jemari Kila yang dingin. “Kamu hanya perlu melangkah ke depan untuk melanjutkan apa yang kamu anggap benar. Menikah, kamu memilih opsi itu untuk tujuan ke depan. Ingat, satu bulan lagi kamu akan menjadi istri pria lain. Kamu sudah tidak bisa bergantung padaku lagi. Ada pria lain yang siap menyediakan pundaknya untuk bersandar. Sudah ada pria lain yang menyediakan rumah ketika kamu hilang arah. Dia Aldrin bukan aku lagi.”

Kila sudah tidak sanggup mendengar ucapan Raka lebih lanjut, gadis itu mendekap Raka dengan erat seolah takut untuk terpisahkan barang sedetik pun.

Raka membelai puncak kepala Kila, “Tidak ada yang berbeda. Aku masih akan menjadi sahabatmu. Aku masih akan menjadi Kakak laki-laki mu. Kamu hanya perlu belajar dewasa dan tidak bergantung pada siapapun.”

****

Jakarta siang ini terlihat mendung. Awan-awan hitam masih setia menggantung di cakrawala.

Raka menggosok kedua tangannya untuk membuat dirinya lebih hangat. Tidak lupa ia mengeratkan jaket yang membungkus tubuh gembul Kira.

Aldrin. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan. Pandangannya tertuju pada satu objek-- yaitu Kila yang tengah memperhatikan Raka yang dengan telaten membersihkan mulut Kira yang banyak remahan biskuit.

Wildest DreamsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang