May 2016 - Long Lost Friend

4.2K 439 29
                                        

       "Capek enggak, Za?" tanya Raya ketika mobil sudah berhasil melalui kawasan nagreg yang cukup lenggang. Sekarang jalan yang mereka lalui sudah tidak lagi naikan dan turunan yang cukup curam, melainkan jalanan yang cukup landai namun masih tetap berliku. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai di daerah Rajapolah, Tasikmalaya—tempat di mana menjamurnya toko-toko kerajinan tangan yang khas dan tradisional.

       "Enggak kok, Ray. Lo kalau ngantuk tidur aja enggak apa-apa," jawab Reza sembari menengok ke arah Raya sekilas.

       "Enggak biasa tidur di mobil gue, Za."

       "Hmm yaudah ngobrol sama gue aja," usul Reza seraya menurunkan volume musik yang sedari tadi mengisi kesunyian yang tercipta di dalam mobil karena semua penghuni telah terlelap tidur kecuali Raya dan Reza.

       "Enggak apa-apa emang? Lo fokus enggak entar? Kan suka ada yang malah jadi enggak fokus kalau diajak ngobrol pas lagi nyetir," ujar Raya sambil menatap ke arah Reza, memperhatikan teman yang dikenalnya sudah dari SMA dengan saksama. Masih teringat jelas dibenaknya, Reza dulu ketika MOS rambutnya gondrong tidak seperti ini.

       Bisa dibilang Reza ini termasuk pria yang high maintenance dan sangat masa kini—terlihat dari potongan rambut pompadour-nya dan jambang tipis yang berada dirahang kokohnya. Meski postur tubuh Reza bukan seperti Sakti yang terlihat sekali hasil keluar masuk gym, tapi Reza cukup proposional dibalut kaos putih polos ditambah light blue denim jacket dengan lengan yang digulung hingga ke siku.

       "Fokus kok, asal lo enggak lihatin gue terus aja kayak gitu," ucap Reza terkekeh sambil melihat ke arah Raya yang tertangkap basah sedang memperhatikan Reza. Sedetik kemudian Raya melemparkan pandangannya ke depan, sedangkan Reza kembali fokus menyetir mobil.

       "Gue emang ganteng kok, Ray, dari SMA kan juga lo tau," canda Reza menambahkan pernyataan dia sebelumnya.

       "Tapi masih gantengan juga Upi, dari SMA kan juga lo tau," ledek Raya mengulang perkataan Reza. Upi panggilan akrab dari Luthfi merupakan sahabat Reza, mereka termasuk dalam kalangan cowok populer dimasa SMA—Upi merupakan ketua osis sedangkan Reza, seperti yang dapat ditebak, ia adalah kapten basket. Dulu ketika kelas sepuluh SMA mereka sekelas.

       Raya juga kenal baik dengan ibunda Reza, Nia, yang tidak jarang menelepon Raya untuk menanyakan tugas anaknya. Ibunda Raya dan ibunda Reza sama-sama aktif di komite sekolah (perkumpulan orang tua murid). Jadi, ibunda Reza mempercayai Raya yang memang salah satu siswi berprestasi. Meski bukan termasuk kalangan cewek populer tapi tidak juga cupu atau kutu buku, biasa saja seperti siswi SMA pada umumnya.

       Setelah kelas sepuluh SMA mereka tidak pernah sekelas lagi, Nia pun jadi tidak lagi sering menelepon Raya karena memang tugas yang diberikan sudah tentu berbeda. Tetapi masih tetap bertukar pesan (SMS) untuk sekedar mengucapkan selamat lebaran.

       Raya dan Reza juga tidak saling berkomunikasi karena memang lingkup pergaulan mereka berbeda. Jika sesekali berpapasanpun baik Raya atau Reza, masing-masing hanya bertukar senyum dan kembali ke aktivitas masing-masing. Tidak terlalu menghiraukan keberadaan satu sama lain.

       Hingga lulus SMA, Reza dan keluarga pindah ke Jogja sedangkan Raya terpaksa mengganti nomor ponselnya karena ponsel tersebut hilang—entah terjatuh dimana. Raya tidak sempat untuk ke kantor provider yang dipakainya agar dapat mengajukan permohonan sim card dengan nomor yang sama karena Raya sibuk untuk mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan untuk masuk ke perguruan tinggi, sehingga diputuskanlah untuk membeli sim card baru dengan nomor yang berbeda. Jadi semenjak itu Raya benar-benar lost contact dengan Nia apalagi Reza itu sendiri.

LIONHEARTEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang