April 2016 - Nosy Yet Lovely

5.8K 552 17
                                        

       “Tante Yaaaaaaa, wake up!” teriak Rere dan Riri sambil sibuk mendaratkan ciuman di wajah Raya yang masih asik 'berlibur di pulau kapuk'. Raya biasa dipanggil dengan sebutan 'Tante Ya' atau lebih singkat lagi bukan 'Tan' tapi 'Te' dari kata Tante oleh keponakannya. Hari ini adalah hari Minggu pagi yang merupakan jadwal berkunjung Rere dan Riri.

       “Tujuh menit lagi, tujuh menit lagi, oke?” pinta Raya dengan suara serak khas orang bangun tidur seraya menarik selimut hingga menutupi wajahnya untuk menghalau 'serangan' dari si kembar.

       “Ih, Tante Yaaaa, ayo berenang!! Mumpung mataharinya masih bagus kalau kata Tante Gita yang suka jemur Nizam jam segini,” rengek Riri sembari meloncat-loncat di atas kasur Raya.

       “Reee, jangan lompat-lompat nanti mental ke bulan loh! Lima menit ya lima menit,” nego Raya, kali ini sembari menengkurapkan tubuhnya dan memiringkan wajahnya agar masih dapat bernapas.

       “Bukan Rereeee, itu Riri yang lompat-lompat, Teeee! Nah, kalau sekarang baru Rereee,” protes Rere dilanjutkan dengan duduk di atas punggung Raya dan bertingkah seolah sedang menunggang kuda.

       “Nyerah nyeraaah, ampun!” teriak Raya diiring tangan kirinya yang melambai ke udara lalu membalikkan tubuhnya setelah Rere turun dari atas punggungnya.

       Raya menyibakkan selimutnya dan membuka mata sehingga ia dapat menatap kedua bocah kembar yang sudah rapi memakai pakaian renang berwarna neon, Rere memakai warna hijau neon sedangkan Riri memakai warna pink neon yang menurut Raya sangat menyilaukan. Memang Raya bukan penggemar warna cerah jadi tidak heran barang-barangnya hanya dipenuhi warna hitam dan putih.

       “Pagiii, Tante Yaaaa!” sapa Rere dan Riri bersamaan lalu menelungkup dan mencium pipi Raya, Rere di pipi kiri dan Riri di pipi kanan. Raya menyambut ciuman tersebut dengan memeluk kedua keponakannya yang berbaring di atas tubuhnya, didekapnya erat sembari menggoyangkan tubuh keponakannya ke kiri dan ke kanan.

       “Emangnya Tante Ya putri salju kalau dibangunin mesti dicium dulu?” canda Raya yang sebenarnya memang sudah ikhlas wajahnya dihujani ciuman dari Rere dan Riri apabila mereka sudah datang berkunjung tapi Raya masih berada di kasur kesayangannya.

       Lalu sedetik kemudian ia menggelitik perut Rere dan Riri. “Balasan untuk kalian yang membangunkan singa tidur,” ucap Raya puas menjahili kedua keponakannya yang sedari tadi mengganggu tidur indahnya.

       Rere dan Riri langsung bangkit dan berlari keluar kamar Raya sembari berteriak, “Opaaaa, Omaaaaa!!! Heeeelp!!”

       Raya yang melihat langsung tertawa dan kini ia sudah benar-benar terjaga. Lalu ia merenggangkan tubuhnya, meminum air mineral yang sudah ada di atas nakas, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu ia mengganti pakaian tidurnya dengan kaos polos dan legging panjang berwarna hitam yang biasa ia pakai untuk berenang kemudian ia turun ke bawah menyusul Rere dan Riri yang dapat dipastikan sudah bermain di kolam renang rumahnya.

       Menyusuri tangga rumahnya, Raya melihat ibunya dan kakak perempuan sekaligus bunda dari Rere dan Riri, Nathia, sedang duduk di sofa ruang keluarga untuk menyaksikan acara masak di televisi. Kebetulan sofa tersebut letaknya tidak jauh dari kolam renang hanya dibatasi pintu kaca besar yang kini dibiarkan terbuka.

       “Good morniiiing,” sapa Raya kepada dua orang yang sedang menonton televisi tersebut, kemudian disambut dengan balasan dari ibunya, “Morning sayaaang, anak perawan bangunnya siang terus ih, awas jodohnya dipatok ayam.”

       Dan tentunya balasan yang cukup menohok dari Nathia. “Kayaknya emang udah dipatok ayam deh, Ma. Padahal malem minggu enggak pernah ada yang ngapel, tapi hari minggu bangunnya tetep aja siang. Ikut CFD kek sana biar kali aja dapet kenalan siapa gitu, Dek!”

LIONHEARTEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang