Raya merasakan sesuatu yang lembut, hangat, dan mungil menempel beberapa kali di beberapa bagian pada wajahnya. Sedetik kemudian Raya mendengar teriakan anak perempuan yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
"Tante Ya!!!!!!!" teriak Riri di telinga kanan Raya sebab ia ingin membangunkan tantenya yang menjadikan tidur siang sebagai hobi. Dengan malas Raya membuka matanya dan melihat ke wajah keponakannya yang diduga mewarisi sifat jahil Raya.
"Kenapa harus teriak sih, Riii?" tanya Raya yang cukup jengkel karena telah dibangunkan dari mimpi indahnya.
"Lagian udah Riri ciumin masih enggak bangun-bangun, ya udah Riri teriak aja deh. Tante bangun cepet disuruh Oma sholat Ashar udah mau jam empat nih!" jawab Riri yang sudah dari kemarin—sepulang pentas seni di sekolahnya—menginap di kediaman Raya dan tidur dalam dekapan tantenya.
"Emang Riri udah sholat?" tanya Raya sembari merenggangkan tubuhnya, kemudian duduk di pinggir kasur seraya menengok ke arah Riri yang masih terpampang jelas cengiran jahilnya.
"Udah dong tadi barengan Oma sama Opa di bawah," jawab Riri, yang memang sudah lebih dulu sholat Ashar berjamaah dengan orang tua Raya di ruang ibadah yang berada di lantai satu—ruang ibadah memang dikhususkan untuk sholat, mengaji, dan melakukan ibadah keagamaan lainnya di rumah Raya.
"Anak pinter!!" seru Raya sembari mengacak-acak rambut Riri, kemudian berdiri dan berjalan menuju ruang ibadah yang berada di bawah (lantai satu) untuk menunaikan kewajibannya. Diikuti oleh Riri yang mendengus pelan sambil merapikan kembali rambutnya dengan jari-jari kecilnya.
Sesampainya di lantai bawah, Raya mampir ke dapur untuk minum kemudian berjalan kembali menuju kamar mandi yang terletak di sebelah ruang ibadah untuk mengambil wudhu.
Selagi Raya mengambil wudhu, Riri yang sedari tadi mengekor masuk terlebih dahulu ke dalam ruang ibadah yang letaknya di ujung lantai satu dan bersebelahan dengan ruang tamu. Ruang ibadah dengan jendela pintu yang terbuat dari kaca itu cukup besar dengan luas sekitar 3 meter x 3 meter. Riri melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia membuka salah satu jendela tanpa menyalakan AC agar dapat merasakan angin sejuk yang berembus dari taman yang berada tepat di depan ruang ibadah tersebut.
Lalu Riri merebahkan tubuhnya di atas sajadah yang ia bentangkan di atas karpet yang melapisi lantai ruang ibadah. Disusul Raya dengan tangan, kaki, wajah, dan rambut di puncak kepalanya yang basah karena terkena air wudhu—masuk ke dalam ruang ibadah.
Dilihatnya Riri sedang terlentang dan menekuk kedua kakinya sambil menggoyang-goyangkan ke kiri dan ke kanan—mengisi waktu selagi menunggu Raya. Raya yang melihatnya kemudian berkata, "Ri, nanti terbang loh tiduran di atas sajadah." Sontak Riri langsung duduk mendengar perkataan Raya, kemudian bertanya kepada Raya sambil membelalakkan kedua matanya, "Serius, Te?"
Raya yang sembari memakai mukena pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan Riri, "Aladdin aja terbang di atas sajadah. Awalnya tiduran, terus duduk persis kayak kamu tuh, eh terbang dia."
Riri yang sedang duduk bersila
menjadi panik lalu langsung berdiri dan melipat sajadah yang tadi ditidurinya. Riri memang selalu percaya-percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Raya. Tidak sadar, bahwa kini ia sedang dikerjai oleh tantenya yang kadar kejahilannya di atas rata-rata.
"Tante lagi ngerjain Riri ya?!" tanya Riri yang curiga melihat Raya menahan tawa sambil melihat ke arahnya.
Dengan terkekeh, Raya menjawab, "Iya... ehehehehe... Wee..." ucap Raya sembari menjulurkan lidahnya keluar meledek Riri.
KAMU SEDANG MEMBACA
LIONHEARTED
Chick-Lit"This is the real life -- we don't always get what we want and the destiny can be so heartless, sometimes." ______ "The hardest part when it comes to love; heart thinks faster than brain." ______ From urbandictionary.com, LIONHEARTED; ...
