October 2016 - Air Putih! Susu? Air Bening! Vodka?

3.2K 385 20
                                        

       Pukul 11:10 siang Raya sudah berada di depan rumah Reza. Diliriknya lagi nomor rumah dan ciri-ciri hunian yang sebelumnya sudah diberitahu oleh pria itu. Pagar dari kayu bercat hitam, dengan bangunan bertingkat dua yang terbuat dari bata merah. Berhubung tak ada rumah lain yang sesuai dengan deskripsi yang diberikan Reza selain rumah ini, maka Raya memutuskan untuk segera turun dari mobilnya dan tak lupa ia mengambil kantong plastik berisi beberapa kotak kue yang tadi dibelinya di salah satu toko kue ternama yang cabang tokonya sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia.

       Ditekannya bel yang berada di dekat pintu pagar berwarna hitam tersebut. Baru sekali menekan, terdengar suara bass yang sangat familier di telinga Raya yang berkata, "Maaf, Mbak, minggu lalu baru beli Tupperware."

       Raya yang mendengar candaan Reza tertawa sejenak, baru saja Raya ingin membalas candaan teman sedari SMA-nya itu, tiba-tiba pintu sudah terbuka.

       Seorang wanita paruh baya, Ibunda Reza, yang masih terlihat muda menyambut dirinya dengan senyum yang sangat merekah di wajahnya. Disusul Reza yang juga tersenyum melihat kedatangan Raya yang saat ini sudah dalam pelukan ibunya.

       "Long time no see, Raya! Tante Nia kangen banget deh sama Raya," ujar Ibunda Reza, Nia, sambil mengeratkan pelukannya—setelah tadi Raya mencium punggung tangan Nia dan disusul dengan ciuman di pipi kiri dan kanan Raya yang diberikan oleh Nia.

       Reza yang berdiri di belakang ibunya, menepuk pelan bahu ibunya tersebut dan berkata, "Ma, Ma.. Nanti Rayanya remuk loh dipeluk kayak gitu," dalam hatinya Reza sangat iri melihat ibunya dapat bebas memeluk Raya seperti itu.

       "Maafin Tante ya, Ray. Habis udah lama enggak ketemu Raya sih, kan Tante kangen sama Raya," ujar Nia seraya melepaskan pelukannya.

       "Enggak apa-apa kok, Tante. Raya juga kangen ditelfonin Tante Nia buat nanya pr sekolah," ucap Raya sambil melirik ke arah Reza yang kikuk dan sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

       "Iya nih padahal anak Tante cuma satu, tapi bikin pusing," ucap Nia bercanda, sembari menepuk-nepuk bokong Reza yang sudah berdiri di sampingnya.

       "Ih, Mama, malu tau! Udah gede, jangan diempok-empok!" protes Reza kepada ibunya yang kerap kali masih suka menepuk-nepuk bokongnya layaknya orang tua yang berusaha membuat bayinya lebih cepat tertidur.

       "Masuk yuk, sayang, kita ngobrol di dalam aja sambil makan siang," ajak Nia kepada Raya, mengabaikan perkataan anaknya.

       Dengan senyum Raya menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya beriringan dengan Nia, diikuti oleh Reza setelah dia menutup kembali pagar rumahnya.

       Diedarkan pandangannya ke sekitar rumah Reza, rumah ini tidak lebih besar dari rumahnya, namun halaman depannya cukup luas dan terdapat taman yang ditumbuhi berbagai macam tanaman dan bunga yang indah, jelas sekali bahwa taman tersebut pasti diurus dengan sangat telaten.

       "Tamannya cantik, Tante," ucap Raya saat mereka berjalan menuju ke dalam rumah.

       "Makasih, sayang. Tante enggak ada kerjaan di sini jadi ngurusin taman aja biar enggak bosen," ujar Nia sambil mempersilakan Raya masuk ke dalam rumahnya yang asri. Di dalam rumah sangat rapi dan tertata, dilihatnya ke arah belakang terdapat halaman yang juga tidak kalah luas dari halaman depan. Di halaman tersebut terdapat gazebo yang terbuat dari bambu serta di dekatnya terlihat air terjun kecil buatan yang terdapat kolam ikan di bawahnya.

       Beberapa saat kemudian Ayah Reza, Rezky, masuk ke dalam ruang tamu menyambut kedatangan Raya yang masih berdiri karena baru saja masuk ke dalam ruang tamunya.

LIONHEARTEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang