October 2016 - Was It They So-Called Destiny?

3.3K 388 8
                                        

       "Ray, kamu mau makan siang apa hari ini?" tanya Nuri, 38 tahun, yang merupakan salah satu kepala divisi di tempat Raya bekerja.

       "Belum tau Mbak, Mbak Nuri ngidam apa emang hari ini?" tanya Raya kepada Nuri sambil tersenyum menghadap bosnya. Raya mengetahui ibu hamil dengan usia kandungan sudah memasuki bulan kelima yang satu ini pasti sedang menginginkan sesuatu yang khusus atau orang biasa sebut dengan istilah 'ngidam'.

       "Tau aja kamuuu... Mbak lagi mau Curry Chicken-nya Pepper Lunch nih, Ray. Tapi agak jauh dari sini berarti, enggak apa-apa?" tanya Nuri sambil mengusap perutnya yang sudah cukup besar.

       "Enggak apa-apa, Mbak. Raya juga jadi mau Beef Salmon-nya deh," jawab Raya yang menyetujui ajakan Nuri.

       "Asiiik, yuk kita berangkat sekarang aja, Ray, udah mau jam 12 juga kok," ajak Nuri setelah melirik ke arah jam yang tertempel di dinding ruang kantor divisi yang dipimpinnya.

       "Mbak Ratih sama Mbak Wiwit enggak ikut, Mbak?" tanya Raya yang menanyakan rekan kantornya yang juga biasa makan siang bersama. Saat ini Raya termasuk salah satu staf termuda di kantornya. Ratih berusia 33 tahun sedangkan Wiwit berusia 29 tahun. Meskipun terdapat perbedaan usia, tapi mereka tetap menemani Raya agar tidak merasa terasingkan. Untungnya Raya juga dapat menempatkan diri dengan baik di antara para senior-seniornya tersebut.

       Nuri sendiri meskipun jabatannya sudah cukup tinggi di organisasi tempat Raya bekerja, dia tetap rendah hati dan berteman dengan siapa pun tanpa peduli jabatan atau status orang tersebut. Dia memberikan contoh yang baik untuk para juniornya agar tetap saling menghormati satu sama lain.

       Raya yang berbeda lima belas tahun dengannya pun masih dapat nyambung jika mengobrol dengan Nuri. Nuri sendiri sudah menganggap Raya seperti adik—meskipun Raya belum genap tiga bulan bekerja dengannya.

       "Pasti kamu enggak buka grup WhatsApp deh, kebiasaan. Mereka masih meeting di daerah Tugu, jadi sekalian makan di dekat sana katanya," ujar Nuri menjawab pertanyaan Raya.

       "Ehehe peace, Mbak, aku lagi tanggung bikin presentasi buat Jumat nih," ucap Raya sembari menaikkan dua jarinya membentuk huruf 'V'.

       "Ya udah, Mbak ambil tas di ruangan Mbak dulu ya, Ray," kata Nuri disertai senyum dibibirnya, kemudian berjalan menuju ruangannya yang tidak jauh dari kubikel Raya.

.......

       "Kok B2, Mbak Nuri? Tadi aku parkirnya di B1, Mbak," ujar Raya sambil memencet tombol B1 di dalam lift yang dinaikinya bersama Nuri.

       "Ke mobil Mbak, mau pakai mobil Raya aja?" tanya Nuri.

       "Mbak Nuri masih bawa mobil sendiri?" tanya Raya diikuti anggukan dari Nuri.

       "Naik mobil Raya aja, biar dedek bayinya enggak stres ngadepin macet jam makan siang begini," jawab Raya, bersedia mengendarai mobil yang dibawakan dari Jakarta oleh ayahnya untuk mempermudah mobilisasi Raya selama di Jogja.

       "Baiklah, terima kasiiih," ucap Nuri disertai senyum menyetujui ucapan Raya.

.......

       "Mbak Nuri kok masih bawa mobil ke kantor? Emang masih boleh nyetir sendiri?" tanya Raya. Ia khawatir sekaligus penasaran ketika mereka sudah berada di perjalanan menuju mall.

       "Boleh kok asal bawanya super hati-hati aja kayak siput. Udah diwanti-wanti banget sama suami Mbak enggak boleh lebih dari 20 kilometer per jam. Kapan sampainya?" ucap Nuri dengan tawa kecil. Raya yang melihatnya ikut tertawa kecil melihat atasannya yang satu ini.

LIONHEARTEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang