"Yes, Ma'am," ucap Reza sambil berdiri melangkahkan kakinya ke arah kamar Raya. Tepat ketika ia ingin memegang kenop pintu kamar Raya, Reza berbalik badan lalu berkata, "kamu enggak mau tidur sama aku aja, Ray?" tanya Reza sambil memperlihatkan seringai nakalnya.
Raya yang mendengarnya langsung melemparkan bantal kecil yang ada di atas sofa tepat ke arah Reza. Tapi sayang, bantal kecil tersebut dapat ditangkap oleh Reza yang notabene pemain basket yang cukup diperhitungkan di kala SMA, bahkan dia pernah ditawari untuk masuk ke salah satu klub basket ternama yang sering menjuarai IBL (Indonesian Basketball League) namun ditolaknya dengan alasan ingin fokus mengejar Fakultas Hukum.
"Tidur Ray, tiduuur. Memejamkan mata terus masuk ke dunia mimpi.. Astaghfirullah, emang kamu mikirnya apaan?" tanya Reza sambil menahan tawanya melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Raya. Diikuti bantal kecil yang mendarat tepat di wajahnya karena kali ini Raya melemparkan dua bantal kecil sekaligus.
Saking malunya Raya tidak tahu harus berkata apa, maka dari itu dia memilih untuk melemparkan bantal kecil yang ada di dekatnya.
Kali ini dengan seringai menyebalkannya, Reza masuk ke kamar Raya setelah melempar kembali ketiga bantal kecil tersebut ke arah Raya kemudian menutup pintu bercat putih tersebut.
Diamatinya kamar Raya yang cukup besar dengan tembok yang juga senada dengan ruangan-ruangan lain di dalam apartemen Raya. Tempat tidur Raya berukuran queen, dengan seprai dan bed cover yang didominasi warna hitam, putih dan abu-abu.
Sesungguhnya Reza masih sangat ingin menelisik lebih dalam kamar Raya, namun efek samping dari obat penurun panas sepertinya sudah benar-benar bereaksi di dalam tubuhnya sehingga membuat dia menjadi tidak kuat menahan rasa kantuk yang dialaminya kini. Akhirnya diputuskannya untuk merebahkan diri di atas ranjang Raya yang terasa sangat nyaman. Ditambah harum khas Raya yang merebak seantero kamar menghantarkan Reza ke dunia mimpi lebih cepat dari biasanya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 12:47, itu berarti sudah hampir lima jam Reza tidur di kamar Raya.
Raya yang sudah memasakkan bubur untuk Reza pun masuk ke dalam kamar untuk membangunkan pria itu sambil membawa semangkuk bubur yang ditaruh di atas nampan yang juga terdapat segelas air putih hangat agar Reza dapat makan siang dengan bubur yang dibuatnya. Pikir Raya, setelah makan siang Reza dapat melanjutkan istirahatnya lagi jika dia menginginkan.
Setelah masuk ke dalam kamar Raya melihat Reza yang tertidur dengan lelap sambil menghadap ke arah kanan di atas ranjangnya tanpa selimut yang menutupinya. Mungkin Reza sudah sangat tidak bertenaga hanya untuk sekedar menghempaskan selimut ke atas tubuhnya.
Raya meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas yang berada di samping kanan ranjangnya. Setelah itu ia menempelkan telapak tangan kanannya di atas kening Reza untuk mengecek temperatur tubuh pria itu yang syukurnya sudah tidak sepanas tadi pagi. Dibangunkannya Reza dengan cara menepuk pelan bahu Reza. "Za, banguuun. Kamu makan siang dulu abis itu tidur lagi juga enggak apa-apa. Za.. Rezaaa.."
Reza menangkup tangan Raya yang ada di bahunya sambil bergumam, diikuti tubuhnya yang sekarang terlentang menghadap langit-langit kamar Raya. Lalu masih dengan matanya yang terpejam, Reza menarik Raya yang terjatuh tepat di atas dadanya.
"Aw! Sakit tau!!" protes Raya sambil mengusap telinga kanannya karena dia jatuh dengan bagian kanan wajahnya terlebih dahulu di atas dada Reza.
"Maafin Reza ya Rayaaa. Kan kalau di film-film biasanya enggak kelihatan sakit. Iya juga sih tadi lumayan juga pas kepala kamu jatoh di atas dada aku," ucap Reza dengan suara serak khas orang bangun tidur, sembari terkekeh mengingat apa yang baru saja ia lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LIONHEARTED
Chick-Lit"This is the real life -- we don't always get what we want and the destiny can be so heartless, sometimes." ______ "The hardest part when it comes to love; heart thinks faster than brain." ______ From urbandictionary.com, LIONHEARTED; ...
