Hallo~
18++
***
Boby terus mengitari pulau ini. Kakinya sudah tak dapat terkatakan lagi pegalnya, suaranya sudah serak karena sedari tadi memanggil-manggil Shania tanpa jawaban. Belum lagi rasa khawatirnya yang semakin menjadi, takut kalau terjadi sesuatu pada Shania di dalam sana.
Sementara tubuhnya sendiri pun sudah tergores disana-sini, terkena ranting pohon, kakinya masuk ke dalam lubang beberapa kali. Ia tak peduli lagi dengan itu semua, dan ia tak juga peduli apabila ada datang bantuan, ia tidak mau egois tanpa mementingkan Shania. Yang menjadi prioritasnya hanyalah menemukan Shania. Ia tidak tahan hanya duduk diam menunggu Shania kembali.
Matahari sudah berada berhadapan tepat dengan ubun-ubun, menyengat, tentunya. Keringatnya turun dengan cepat dari kepala menuju wajahnya, menetes banyak. Dahaga diacuhkannya, pendengarannya dipasang baik-baik, serta matanya diarahkan ke segala arah dengan waspada.
Boby hampir menyerah. Tubuhnya meringis meminta istirahat. Sudahlah, ia juga punya hak untuk beristirahat. Kemudian ia duduk di atas sebuah batu besar. Menghela nafas panjang, membiarkan dirinya larut dalam pejaman mata dan sandaran pada sebatang pohon dibelakangnya.
Lalu Boby menundukkan kepalanya, memikirkan kemana lagi mesti mencari Shania.
Tapi sedetik berselang, matanya membelalak, melihat apa objek yang ada di tanah, terpantul jelas dimatanya, tetesan-tetesan darah yang sepertinya baru. Boby memperhatikan luka-lukanya, dan tidak ada yang meneteskan darah sampai sebanyak itu. Darah itu seperti sebuah jejak, berceceran menuju ke hutan yang agak dalam rupanya. Pikiran Boby hanya tertuju pada satu orang, Shania. Meski kemungkinannya ini berasal dari luka Shania, Boby tetap berharap kalau Shania tidak apa-apa, tanpa mempedulikan lagi rasa lelahnya, Boby berlari ke arah ceceran darah itu.
Sayup-sayup Boby mendengar panggilan namanya. Suara itu terdengar merintih. Keringat lelah Boby mulai berubah menjadi keringat dingin, jantungnya berdetak semakin kencang, larinya dipercepat.
"Shania!" Boby akhirnya menemukan Shania sedang terduduk mengaduh memegangi pergelangan kaki kanannya yang terluka lebar. Sementara luka lain di tubuhnya, cukup banyak dan menggores sana-sini, membuktikan kalau tadi ia mengalami rintangan yang lumayan menyita energinya.
Shania menoleh pelan, matanya berair, sedikit lagi menumpahkan air mata.
"Shania! Kamu tidak apa-apa?!" Boby spontan memeluk Shania, penumpahan ekspresi kekhawatirannya sedari tadi. Entah kenapa rasanya nalurinya ingin melakukan itu, seakan tidak ingin lagi Shania jauh darinya.
"Bbo...Boby?" Shania tampak salah tingkah dengan tindakan spontan Boby.
"Jangan jauh dariku lagi, ya... Aku khawatir..." Boby belum melepaskan tangannya dari bahu Shania, malah seperti mengeratkannya.
"E...Maaf... Tadi aku..."
"Ah, sudahlah... Sekarang obati dulu lukamu. Kita kembali ke tempat tadi." Boby menyobek bagian bawah kemejanya, kemudian memetik beberapa lembar daun dan menempelkannya pada luka Shania, menutupinya dengan sobekan bajunya.
"Te...Terima kasih..." Shania cuma memperhatikan Boby.
"Jangan membuatku khawatir lagi ya..." Boby mengarahkan senyumnya pada Shania. Lembut.
Shania merasa sedikit lega. Ia kira tadi Boby bakal mengomelinya habis-habisan gara-gara bertindak sendiri, yah, biasalah, Boby memang terkadang cerewet, menurutnya.
"Maaf, Bob, tadi waktu bangun aku tidak melihatmu, kukira kamu tersesat. Kucari kamu kemana-mana, eh, ternyata aku yang tersesat..." Shania menyeringai.
KAMU SEDANG MEMBACA
OneShot
Fanfictionya pokoknya ini cuma buat oneshot lah gitu.. hahahah Semua tentang Beby Dan Shania Atau.. Boby Dan juga Shania. Hahaha.
