"Perasaan, gue tadi nggak lewat sini deh." Gue memperhatikan sekeliling lalu kembali berbalik arah.
Setelah lama berjalan, gue akhirnya sadar kalo gue kesasaaaaarrr!
Aduhh! Mampus gue! Gue nggak tau ini daerah mana. Gue kurang lebih sejam muter-muter tapi malah sampe ke daerah pertokoan.
Mana gue laper banget! Akhirnya gue nyerah dan berhenti di kafe yang ada di daerah pertokoan itu dan memesan dua porsi cheese burger, kentang goreng dan soft drink.
Kepala gue udah sakit, mungkin karena kecapekan. Tangan gue sakit banget karna kelamaan menenteng kantong plastik belanjaan, kaki gue juga rasanya kayak mau patah.
Gimana dong caranya gue pulang? Gue nggak bawa Handphone, gue juga nggak tau ini daerah mana, dan yang lebih parahnya lagi gue lupa alamat rumah gue sendiri!
Sial banget sih gue! Ini semua gara-gara Ken! Kalo aja dia tadi mau nganterin gue, pasti kejadiannya nggak bakal kayak gini! Dasar Ken sialan! Bego! Kampret! Nggak guna!
Gue ngeliat keluar jendela kafe, langit bertambah gelap karena bentar lagi malem dateng.
Akhirnya gue meminjam handphone salah satu pelayan kafe tersebut dan menelpon Yuri. Cuma nomor Yuri yang gue tau, karena tadi siang saat di sekolah gue nyatet nomor handphonenya di telapak tangan gue.
"Moshi moshi ?" Jawab suara di seberang sana.
"Yuri? Ini aku.. Mikha."
"Mikha? Kamu dimana? Nii-chan bilang kamu belum juga pulang dari tadi sore."
"Yuri, aku kesasar. Sekarang aku nggak tau ada di daerah mana, tapi aku sekarang ada di depan Shinonome Kafe." Kata gue memelas putus asa.
"Mikha, jangan kemana-mana ya! Tunggu disitu, Kazu nii-chan akan menjemputmu."
"Tapi, Yuri..."
"Udah, tunggu aja. Jangan kemana-mana, Oke?!"
"Hmm."
Sekitar lima belas menit kemudian Kazuo bener-bener dateng jemput gue naik motornya, dan akhirnya gue bisa lega juga.
Gue bener-bener nggak tahan lagi, kaki gue udah kayak mau patah rasanya, badan gue udah lengket keringet, dan gue bener-bener capek.
"Mikha, kamu nggak papa?" Tanya Kazuo.
"Nggak papa gimana senpai? Badanku rasanya sakit semua." Gue cemberut.
Kazuo mengacak-ngacak rambut gue lalu tersenyum, gue baru sadar kalo selama ini dia guantengg bangetttt.
"Makanya, lain kali nggak usah nolak tawaranku untuk nganter kamu dong." Katanya lagi.
"Iyadeh, aku nggak akan segan-segan minta anterin senpai. Aku juga nggak mau kesasar gini lagi, capek tau." Gue terus mengeluh pada Kazuo.
"Dan ini kan awalnya juga gara-gara Ken nggak mau nganterin aku! Dasar bocah tengil!"
"Udah..udah yang penting kan kamu udah ketemu. Ken juga khawatir banget sama kamu. Yuk pulang." Kata Kazuo menepuk-nepuk bahu gue, lalu mendorong punggung gue kearah motornya.
Dengan perjalanan memakai kendaraan hanya memakan waktu 10 menit dibandingkan jalan kaki yang bisa sampe setengah jam lebih.
Buset! Ternyata gue nyasarnya jauh banget ya!
"Senpai nggak mau masuk dulu?" Tanya gue basa-basi.
"Nggak deh, besok aja. Udah malem. Lagian kan hampir tiap hari juga main ke sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Freak Sister! (END)
HumorMikhana Wilson, gadis keturunan Amerika-Jepang-Indonesia yang mencoba memulai hidup barunya bersama ayah dan Ken, kakak laki-lakinya yang sangat ia benci. Ia harus pindah ke jepang dan hidup di kota baru, sekolah baru, lingkungan baru, teman baru, d...
