Chapter 18 - My brother

5.5K 438 34
                                        


"Ohayou, nii-chan.'' Kata gue sambil berjongkok menatap Ken.

"Hmmmm?'' Ken mengerjap-ngerjapkan matanya.

Ken tersenyum.

Satu detik... 10 detik.. 30 detik..

"Mika?'' Panggil Ken pelan.

Lalu ia melotot kaget, ''Mikha!!!'' Teriaknya langsung duduk.

Mikha dengan tak sabar langsung memeluk Ken hingga terjengkang ke belakang.

"Nii-chan. Aitakatta..'' Bisik gue lagi.

Tes..

Gue merasakan air mata Ken jatuh dibahu gue. Ken memeluk gue balik dengan sangat erat dan ia terisak pelan. Gue memaksa melepas pelukannya dan memegang kedua pipinya dan menatapnya.

Gue perlahan menghapus air matanya yang semakin jelas.

"Maaf, nii-chan. Aku sudah melupakan hal yang sangat penting. Ini semua salahku kau menjadi sangat terbebani.'' Gue mengusap pipi Ken lalu perlahan mencium keningnya. Dan ia kembali memeluk gue dengan erat.

Gue tau Kazu sudah terbangun dan tersenyum melihat gue.

Sementara Ken menangis sesenggukkan dipundak gue, gue melihat kearah Kazu dan tersenyum lalu mengatakan 'aishiteru' tanpa suara kearah Kazu.

Kazu mngernyitkan dahinya tak mengerti dengan ucapan gue. Gue memandangnya kesal, tapi kazu malah menggedikkan bahunya tanda bahwa ia tak mengerti.

***

"Jadi ini makam mama.'' Gue berbicara sendiri tak bermaksud bertanya.

Gue memandang lurus kearah nisan yang tertulis nama mama.

Ken dan Kazu hanya diam dan berdiri dibelakang gue.

Gue lalu mendekat dan berjongkok disamping makam mama lalu memejamkam mata untuk berdoa. Ken dan Kazu pun mengikuti gue dan melakukan hal yang sama.

Gue menatap kosong kearah nisan mama..

Mama pergi gara-gara gue.
Gue yang membuat mama meninggal.

Tes..

Eh?

Gue kaget merasakan air mata gue menetes lalu buru-buru menghapusnya.

Gue menahan tangis gue dengan menggigit bibir kuat-kuat.

Ken sepertinya menyadari kalau gue menangis.
Ken mengelus-elus puncak kepala gue agar gue tenang kembali.

Setelah lama sekali gue menatap makam itu, Kazu menyadarkan gue dari lamunan gue dan mengajak gue untuk kembali ke mobil.

"Loh mana Ken?'' Guer bingung menatap sekeliling.

"Sudah dimobil.'' Jawabnya lembut.

"Ayo.'' Kazu menggandeng dan menarik tangan gue.

Setelah sampai dimobil, gue melihat Ken tersenyum kearah gue.

"Biar aku yang nyetir. Kalian santai aja.'' Ken lalu mengambil kunci mobil Kazu yang sedang dipegang Kazu.

Kazu mengangguk dan tersenyum.

Letak pemakaman ini memang cukup jauh dari rumah, perjalanan ini membutuh kan waktu 1 setengah jam.

Kazu terus menggenggam tangan gue. Tapi gue hanya memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.

"Sudahlah, jangan terus memikirkannya. Nanti kamu bisa sakit.'' Kazu berbisik lembut ditelinga gue.

Gue menoleh kearahnya lalu mengangguk tersenyum.

Kazu lalu menarik kepala gue agar gue bersender didada bidangnya. Guenya diam dan menurutinya. Kazu melingkarkan tangannya kepinggang gue, dan gue menyembunyikan wajah gue di dadanya dan tertidur.

***

Gue memandang papa dan Ken bergantian.

"Ja..jadi... ehmmm.. Mikha..'' gue tergagap dan ragu lalu memandang Ken yang duduk disebelah gue.

Ken mengangkat kedua alisnya dan mengangguk tanda bahwa ia ingin tahu dan menyuruh gue melanjutkan kalimat gue.

"Anu...itu... Mikha minta maaf!'' Gue akhirnya mengatakannya sambil menunduk menahan malu.

"Hmm? Buat apa, Khana? Kamu memangnya punya salah?'' Tanya papa heran.

"Itu, sebenernya mikha salah paham. Mikha kira papa dan nii-chan gak peduli lagi sama Mikha dan mama Ratna, tapi ternyata Mikha salah paham. Mikha kira mama dan papa cerai, dan kalin berdua udah gak peduli sama mama dan Mikha.''

"Jadi... itu sebabnya kamu selama ini benci banget sama aku? Dan karena ini pula kamu gak manggil aku nii-chan?'' Ken mengedipkan matanya berkali-kali tanda bahwa ia sangat kaget.

"Be..benar.'' gue dengan ragu menatap Ken.

"Oke, permintaan maaf diterima.'' Jawab Ken dengan entengnya yang membuat gue tersenyum lebar.

Tapi senyuman gue langsung hilang ketika ia bilang ''tapi ada syaratnya.''

Gue mengangguk pasrah.

"Apa?'' Tanya gue lagi.

"Gak boleh ada rahasia-rahasiaan lagi. Kamu harus cerita tentang apapun.'' Ken menghadap ke papa.

"Sekalipun itu tentang Kazu?'' Gue mengerutkan alis.

"Yup!'' Ken dan papa menganggul bersamaan.

"Nggak boleh ngelawan papa atau Ken.'' Papa bicara tegas.

"Nggak boleh ngelakuin hal-hal konyol dan berbahaya lagi.'' Ken menusuk pipi gue dengan jari telunjuknya.

"Contohnya?'' Tanya gue lagi tak memgerti dengan syarat mereka.

"Lompat dari jendela lantai 2, manjat pager sekolah, atau berantem dengan anak cowok.''

"Kalo karate?''

"Gak masalah..'' jawab Ken ragu.

"Kalo berantem sama anak cewek?''

"Kalau bisa, jangan. Hanya karena terpaksa.''

"Cukup.'' Papa berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Kenapa pa?'' Protes Ken heran.

"Papa laper. Ayo kita makan keluar.''

"Biar Mikha masak aja pa.'' Tawar gue.

"Nggak usah, hari ini kita makan diluar aja, sekalian kita belanja bulanan.'' Papa mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang keluarga.

"Oke.'' Jawab Ken lalu menggandeng tangan gue.

Gue langsung protes.

"Kenapa? Nggak suka?'' Tanya Ken galak.

"Ah, suka kok. Hahaha'' gue tertawa kikuk.

"Nii-chan'' panggil gue saat sudah ada dimobil.

"Hmm?'' Ken menoleh tersenyun kearah Mikha.

"Nandemonai.'' Mikha tersenyum lalu menyenderkan kepalanya dibahu Ken.

Ken memeluk pundak Mikha dengan sayang lalu mengelus-elus rambut adik perempuannya itu.

"Ehheemm! Papa dikacangin nih? Jadi papa ini supir ya, duduk di depan sendiri?'' Sindir papa.

"Ahahaha, papa cemburu? Please pa, sekali ini aja kok. Nanti waktu pulang aku pindah depan.'' Ken nyengir garing.

"Oke.. oke papa ngalah.'' Papa tersenyum sambil melirik kearah gue dan Ken.

Eh! Nii-chan maksud gue. Hehehe

***

END (TAMAT)

Freak Sister! (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang