17- When you should Choose between Love and Lost

2.1K 122 1
                                        

Untuk pertama kalinya dalam hidup Via. Sepasang mahluk yang dipanggilnya mama dan papa, mengantarnya hingga kedepan gerbang sekolah. Mereka lantas melambaikan tangan kearah Via seraya tersenyum ramah. Persis seperti yang diharapkan Via. Keluarga yang sempurna.

Namun, tepat beberapa langkah memasuki sekolah Via lantas menghentikan dirinya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Masalah masih ada dihadapannya saat ini. Ia menatap kearah depan lalu melanjutkan jalannya. Tampak banyak anak berkumpul dibeberapa sudut sekolah. Mereka seakan tengah melihat sesuatu yang sangat menarik. Via lantas mencari tahu sumbernya. Ia pun masuk kedalam kerumunan. Matanya seketika terbuka besar melihat objek yang ada dihadapannya.

Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. "Sabar ya, kan udah gue bilang nggak ada yang bisa dipercaya" suara yang familiar. Amanda. Gadis itu lagi.

Via berlari dari kerumunan itu. Hal yang sama sekali tak ingin ia alami lagi. Tapi, tetap saja berulang. Ia berlari sekuat tenaga hingga terhenti disebuah bangku belakang sekolah. Ia menahan amarahnya. Tak ingin menangis, pikirnya. Tiba-tiba seseorang menghampirinya. Namun, hal tersebut lantas membuat amarahnya memuncak.

"Emm, Vi.." Gita berusaha untuk berbicara.

"Apa!? " teriak Via "Puas? Awalnya bilang nggak mau lah, apalah. Tapi akhirnya, see Lo sama aja kayak yang lain! Munafik!"

"Sorry Vi, gue nggak tau kalo jadinya bakalan gini"

"Terus, kalo Lo tau, Lo bakalan lanjut nipu gue, iya?"

"Vi, gue mohon maafin gue. Gue akan lakuin apa aja yang Lo mau. Please"

Via diam untuk beberapa saat.

"Gue mau Lo pergi, dari hadapan gue, dari sekitar gue dan dari hidup gue!" Via lantas berlalu, lalu berhenti untuk beberapa saat "Satu lagi, Lebih baik Lo putus secepatnya. Itu akan buat gue lebih baik"

Gadis itu terdiam ditempatnya. Ingin rasanya ia keluarkan semua rasa sakit yang sekarang ia rasakan. Seandainya bisa.

------+------

"Via! Via!?" Gita mengejar hingga Via menghentikan langkahnya.

"Disini! Cepet lakuin apa yang gue minta!"

"Ta..tapi"

"Gue tau Lo nggak bisa!"

Sebelum Via kembali melanjutkan langkahnya, Gita Memasuki ruangan siaran sekolah. Mengarahkan suaranya hingga dapat terdengar diseluruh bagian sekolah.

"Gue Gita, iya ini Gita. Gue minta maaf kalo harus ganggu kalian dengan semua kekacauan yang gue buat. Tapi sekarang, gue akan mengakhiri semua masalah ini. Gue janji. Dev, gue mau kita selesai disini. Makasih.."

Suara itu membuat Devan berlari menuju sumber suara. Begitu pun dengan Bagas. Ia melihat Via berdiri didepan ruang itu. Lantas menghampirinya.

"Lo yang ada dibalik semua ini?"

"Mereka yang maksa gue ngelakuinnya!"

"Lo, Via! Sekarang Lo lebih mirip monster" Bagas pun meninggalkannya

Beberapa saat kemudian, Devan berdiri tepat dimuka pintu. Ia tak membuka pintu ruangan itu. Hanya menanti hingga Gita keluar.

"Srekk.."

Gita nampak keluar dengan menundukan kepala.

"Kenapa?" kata yang Devan ucapkan "Kenapa? Bukannya Lo udah janji"

"Diam! Gue udah capek, dan gue pikir semua udah cukup. Jangan ganggu gue lagi" Gita pun berlari

Via hanya menyandar pada dinding seraya melipat tangannya di dada.

"Akhirnya semua merasakan rasa sakit itu kan?"

"Lo puas?"

"Lebih dari itu!"

------+------

Fake SmileCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang