Via menumpahkan penuh senyum seiring perjalanan. Motor itu melaju cukup kencang hingga genggaman tangannya pada punggung Devan tampak erat. Mereka pun terhenti pada sebuah cafe. Wajah Via dipenuhi dengan tanda tanya. Perlahan ia turun dari benda beroda dua itu. Disusul Devan seraya melepaskan helm- nya.
"Kok, kesini kak? Bukannya kita mau pulang?" selidik Via
Devan mendaratkan lengannya pada bahu gadis manis disebelahnya. Ia merangkul Via memasuki cafe.
"Gue laper!"
Beberapa menit kemudian mereka telah mengambil posisi duduk. Dengan cangkir berisi mocca dan beberapa croissant diatas meja, mereka masih dalam hening.
"Ehem!" Via mencoba memulai pembicaraan
Devan masih sibuk dengan gadget ditangannya.
Via menghela nafas lalu menatap lurus kearah lelaki dihadapannya "kak, Lo ngajak gue kesini buat apa sih?"
"Menurut Lo?"
"Oh, Lo lagi ngajak gue ng- date ya?"
Devan hanya memberikan ekspresi herannya. Ia masih mengolah kata-kata yang masuk melalui telinganya. Apa cewek ini salah sangka? Batinnya. Ia harap tidak. Mereka berada disana untuk beberapa menit lalu pulang.
Devan lantas mengantarkan Via sampai ke rumah. Wajah gadis itu masih sumringah. Hingga ia sendiri tak melihat satu pun kesenduan. Meskipun terdengar pertengkaran kedua orang tuanya. Dunia seakan hening baginya kala itu.
Ya! Via sudah biasa hidup seperti ini. Sejak kecil ia telah menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Ia hampir tak bisa menikmati kebahagiaan sepanjang hidupnya. Dan kali ini ia merasa seperti terlahir kembali.
"Via kamu udah pulang, sayang?" sapa mama seolah tak terjadi apa-apa
"Please deh, Ma! Nggak usah pura-pura semuanya baik!" sela Via "emang mama pikir aku nggak bosen dengerin kalian berantem terus? Kali ini bisa biarin aku bahagia?"
Via lantas melangkah memasuki kamar. Dihempaskannya pintu kayu berwarna merah muda itu. Ia tak mampu membendung air matanya. Ia selalu berangan-angan memiliki keluarga yang bahagia. Tapi, baginya itu hanya khayalan.
Akhirnya, Via meraih jaketnya. Ia melangkah keluar dari tempat gerah itu. Sekali lagi ia tak menghiraukan semua yang terjadi.
------+------
Via menatap layar ponselnya. Ia lantas menghubungi Gita. Namun, tidak ada balasan dari seberang. Ia hanya duduk di pinggiran kolam taman kota. Sesekali menarik nafas panjang seraya menatap langit yang biru terbentang.
"Lagi badmood ?" sebuah suara mengejutkannya
"Ih! Lo hantu ya? Datang tiba-tiba!"
"Kalo gue hantu, Lo apa dong?" lelaki itu mengambil posisi disebelah Via.
Via tampak menjaga jarak.
"Udah, cerita aja!"
Via menatap lelaki disampingnya dengan aneh "Lo siapa sih? Kenal juga nggak!"
"Kan gue udah bilang nama gue bagas, gimana sih Lo!"
" bodo amat!" Via beranjak dari tempat duduknya berlalu meninggalkan Bagas.
-----+-----
Gita berbaring seraya menatap langit-langit kamar. Tampak sama, namun kini perasaannya yang berbeda. Sedari tadi ponselnya tak henti berdering. Entah siapa yang ada dibalik sana. Ia berharap itu bukanlah Via ataupun Devan. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan mereka.
"Bukan ini yang gue mau! Argh!?" teriaknya.
Dunia seakan tak membiarkannya bahagia. Dia terus berkhayal tentang hal-hal aneh. Tiba-tiba seseorang berteriak dari luar. "GITAA!" itu Via? Gita lantas beranjak dari tempat tidurnya. Membereskan wajahnya yang muram. Merapikan kamarnya yang berantakan. Ia ingin menyembunyikan semua dari Via.
Beberapa saat kemudian, benar saja gadis itu telah berdiri tepat dibalik pintu kamar Gita. Bergegas ia masuk dan mengambil posisi pada sofa di dekat jendela kamar.
"Gue telpon nggak diangkat, sms nggak dibales! Lo kemana aja?" omel Via
"Emm, gue tidur"
"Ohh, gue lagi kesel nih!"
"Kenapa?"
"Mantan sobat gue, tiba-tiba dateng ke hidup gue lagi. Amanda. Terus ada cowok nggak jelas, dan biasa ortu gue!" celoteh Via sekali lagi
Gita hanya menyimak, diam.
"Seandainya aja, ada satu kebahagian buat gue, sisa juga nggak apa-apa kok!" lanjutnya
"Apaan sih Lo, setiap orang itu punya kebahagiaanya masing-masing" sahut Gita
"Iya, dan kebahagiaan gue itu cuman kak Devan dan Lo doang sekarang!"
Gita tertegun. Lidahnya terasa kaku. Ia tak mampu berkata. Apa mungkin dia telah salah langkah. Apa mungkin ia harus merelakan perasaannya sebelum Via tahu. Kepalanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Senyum Via membuatnya merasa sangat berdosa. Mungkin sekarang Via bahagia, tapi bagaimana jika suatu saat dia tahu. Apa yang harus Gita katakan.
"Oh iya, tadi gue diajak ke cafe sama kak Devan!"
Gita hanya tersenyum "wah, perkembangan dong!"
"Iya, gue seneng banget-banget-banget"
"Gue juga seneng kalo Lo seneng"
"Makasih ya, baby" lantas dipeluknya Gita dengan erat "gue yakin Lo nggak akan khianatin gue kayak yang lain"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Smile
Novela JuvenilSenyuman adalah sebuah hiasan yang akan menimbulkan berbagai jawaban. Dengan senyuman semua orang dapat mengekspresikan diri mereka. Tapi, pada masa ini, apakah aku bisa mempercayai sebuah senyuman dengan hanya melihatnya? Bahkan aku tak percaya men...
