18- When I found you

2.9K 121 1
                                        

2 Tahun berlalu,

"nih kopinya, hari dingin gini lebih baik minum kopi, kan?" Bagas pun duduk dihadapan Via.

Via hanya membalasnya dengan senyuman "thanks, ya"

Mereka pun menikmati kopi seraya bercakap.

"Ada apa? Tumben Lo ngajak gue ketemuan. Pacar Lo, si Atta kemana?"

"Ada" jawab Via singkat "Gue cuma mau tanya, Lo ada kontaknya Kak Devan nggak?"

"Via,Via. Udah dua tahun Lo masih aja ngejer-ngejer tuh anak!"

"Bukan gitu, sejak hari itu gue ngerasa bersalah banget sama mereka. Dan selama satu tahun ini, gue selalu kepikiran soal itu"

"Oh, jadi nyesel nih?" goda Bagas

"Lo apaan sih! Mau bantu gue nggak?"

"Nih" Bagas menyodorkan secarik kertas kearah Via. Lalu disambut senyum manis dari gadis dihadapannya.

------+------

Via duduk manis disebuah bangku pinggir pantai. Beberapa orang berlalu lalang dihadapannya. Ia mengarahkan matanya kearah ponsel. Lalu sesekali melirik keberbagai arah. Tengah menanti seseorang, nampaknya. Udara cukup dingin. Membuat ia merapatkan kembali jaket yang dikenakan.

"Via?" seseorang menghampirinya.

Via lantas beranjak. Dipeluknya erat orang yang ada dihadapannya. Orang itu kelihatan heran.

"Lo darimana aja? Udah lama kita nggak ketemu!" ujar Via

"Gue ngelanjutin studi gue di London. Dan sekarang lagi free jadi pulang"

Via menarik tangan Gita. Mereka pun duduk dibangku yang sama. Gita masih menerawang kearah gadis dihadapannya.

"Hmm, gue tau ini aneh. Tapi, gue mau minta maaf ya? Mungkin saat itu gue berfikir semua bisa gue raih. Jadinya gue egois"

"Nggak Vi, semua udah berjalan sesuai caranya. Kita nggak perlu inget soal hari itu lagi" jawab Gita "Gue udah bahagia dengan apa yang gue punya sekarang kok"

"Lo yakin? Ta, gue udah nutup cerita gue buat kak Devan. Gue punya dunia yang lain"

"Jadi Lo sekarang punya pacar?"

"Emang gue udah cantik dari sananya, kan? Wajarlah kalo gue punya pacar"

Mereka pun tertawa bersama. Momen Yang selalu mereka rindukan.

"Tapi, ada satu yang belum berjalan sesuai caranya"

Via lantas kembali menarik Gita kearah yang ia tuju. Mereka pun sampai disebuah cafe bergaya eropa. Disana terlihat sosok yang mereka kenal tengah menatap kearah luar jendela. Devan. Sudah pasti Via yang merencanakan semuanya. Wajah Gita penuh dengan tanda tanya begitu menatap Via. Dengan bahasa tubuhnya, Via memaksa sahabatnya ini untuk menghampiri jalannya.

Gita mulai melangkah dengan jantung yang berdegup kencang. Hingga ia berhadapan langsung dengan Devan.

"Boleh saya duduk disini?" ujarnya

Devan berbalik kearah suara itu.

Gita pun menyodorkan tangannya "Perkenalkan, nama saya Gita. Saya mencari Bapak Devan"

Devan tersenyum sumringah mendengar kata-kata yang datang dari gadis yang sangat ia rindukan.

-+-+-+-+-+-+

Fake SmileCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang