Badan lelaki itu jangkun. Dadanya bidang dengan jas hitam dan jubah yang menutupi. Kerahnya tinggi dengan bross mahal di sisi paling atas kancingnya. Menandakan stratanya yang pasti sangat tinggi.
Aku menutup pintu ketika beliau sudah masuk rumah. Menyiapkan semua makanan diatas meja selama ibu dan lelaki itu berbicara di ruang tamu.
Tawa keluar diantara mereka. Sangat renyah. Aku menyukai nada suaranya yang tinggi. Dan mata violetnya berkali kali berdelik ke payudara ibu. Semua lelaki sama saja.
Saat waktu makan malam. Aku menuangkan air ke dalam gelas mereka. Ibu dan paman Zyan duduk berhadapan.
"Kau tidak duduk bersama kami nak?" Tanya lelaki itu.
Nak
Nak
Aku baru ingat kalau dia sepantaran dengan ayah. Mungkin umurnya sudah 36 atau 37. Dia terlalu tua buatku, bagaimana aku bisa mengaguminya seperti ini?
Aku melihat ibu yang memberikan kode agar aku segera pergi dari ruangan itu. Tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu. Aku segera pergi meninggalkan mereka berdua. Masuk kekamar mandi dan mengguyur badanku yang lusuh.
Setelah mandi. Seperti malam malam sebelumnya aku berdoa untuk ayah. Dan membaca cerita yang dituliskan ayah. Sebelum akhirnya aku tidur, tidur dengan damai.
Pagi datang menyapa. Ibu mengetuk pintuku kasar. Aku segera bangun, lalu mengerjakan pekerjaan rumah. Aku lupa kalau Aron telah tiada. Sehingga sisa makanan semalam yang seharusnya untuk kuda kesayanganku kumakan. Rasanya masih enak, dari pada aku tidak makan.
Setelah membersihkan kandang dan rumah. Aku segera masak, lelali itu dan ibu bangun sangat siang. Hingga makanan hampir dingin.
Ibu menggunakan lingerie dan lelaki itu hanya mengubet badan bagian bawahnya dengan kain. Entahlah mungkin itu selendang.
"Kita belum berbincang sejak kemarin" ujarnya. Ketika aku menaruh kue pancake hangat dipiringnya. Ibu melirik, aku tahu aku harus pergi. "Ayolah malam bersama kami" ajaknya. Berjalan untuk mengambil piring.
"Sudah ikuti maunya" ujar ibu berbisik. Aku menaruk kursi disebelahnya.
Dia mengambilkan piring untukku. Aku mengambil pancake. Lalu memakannya dalam tundukan. "Kupikir matamu akan biru seperti Joshua. Tapi ternyata warna matamu brown menggoda seperti ibumu" ujar lelaki itu membuat ibu bergeluget seperti cacing.
"Kau harus meralat kata katamu" ujarku menghentikan makan. "Mata adalah cerminan hatimu. Jika ibuku menggunakan matanya untuk menggoda lelaki. Aku menggunakan mataku untuk melihat dunia ini".
Lelaki itu tersenyum. "Kau mengingatkanku pada Joshua" tatapannya berbinar. "Joshua bukanlah orang yang ingin dikalahkan. Dan kata katanya sangat menghukum" cerita lelaki itu. "Aku benar benar merindukan sahabat konyolku itu" ujarnya terkikik.
Ibu ikut terkikik. Dan entah mengapa aku merasa marah. Aku segera berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku keluar dari kamar mandi. Ketika menyadari bahwa dia telah menunggu didepan kamar mandi. Dia sudah berganti pakaian, ibu sedang bersolek dikamarnya. Aku berjalan mengabaikannya.
"Ikutlah bersama kami" ujar lelaki itu.
Aku berhenti. "Tidak mau. Kau membeli ibuku, bukan aku" ujarku.
Dia diam. Mata violetnya menatapku tajam. "Kau adalah anakku Vanessa" ujarnya. Aku bergetar. "Aku telah berjanji pada Joshua untuk menjaga kalian".
"Itu artinya kau akan menikahi ibuku?" Tanyaku.
Lelaki itu tertawa. "Aku bukan lelaki yang mempercaya pernikahan. Dan ibumu, dia tidak suka hanya dengan satu lelaki. Dia itu jalang sejak muda" ujar lelaki itu.
"Oh, ibuku memang jalang. Dan kau bajingan" ujarku ketus lalu pergi.
Lelaki itu menarik tanganku kasar. Tapi langsung mengendur ketika aku berdiri didepannya. Dia menatapku. "Lalu kau adalah anak seorang jalang?" Tanyanya. "Bukankah kau harusnya malu memiliki ibu seorang pelacur murahan?".
Aku menatap matanya penuh emosi. "Enyahlah" ujarku. Dia menarik tanganku lagi, dan seketika tanganku terayun diwajahnya. Kakiku menendang bagian belakang lututnya membuatnya terjatuh seketika. Lalu aku berjalan pergi.
Entahlah aku terlalu membencinya. Itu adalah pertemuan terakhirku dengan lelaki brengsek, dan juga pertemuan terakhirku dengan ibu.
Apakah aku mencari ibu? Tidak. Aku tidak mencarinya, aku tidak memiliki nafsu untuk mencarinya. Dia telah bahagia dengan kehidupannya dengan si biadap itu. Melupakanku dan melupakan ayah. Meski beberapa kali mengirimkan surat meski tidak rutin.
Dibeberapa malam ada banyak lelaki yang mengantri. Aku sudah katakan ibuku telah pergi. Beberapa kali pula aku hampir diperkosa tapi untungnya aku jago memukul. Aku adalah petarung yang handal.
Kehidupanku makin bebas dan liar seiring bertambahnya usiaku. Bekerja di sebuah kedai bir, bertemu dengan banyak orang. Liar disini bulan dalam negative. Aku katakan aku tidak seperti ibuku. Mungkin aku hanya merokok dan minum bir. Bir dari anggur merah vienna adalah yang terbaik. Orang orang yang mampir dan berkenalan denganku juga mereka yang banyak mengajariku. Suatu hari aku bertemu dengan rekan sebayaku dari bar. Dia adalah orang amerika. Dan dia yang membawaku kesebuah cerita yanh sakitnya tiada tara, rasa menginginkan yang terlalu egois, dan sebuah cerita dimana aku adalah seorang antagonis.
"Kau muda dan kau cantik. Kau pun pintar. Hidup terkungkung di bar kotor ini menyia nyiakan kehidupanmu" ujar samuel.
Aku tertawa sembari mengisap rokokku. "Lalu apa yang kau inginkan dariku?" Tanyaku meremehkan.
"Ikutlah aku ke praha. Kita bisa belajar banyak hal disana. Vienna memang terlalu kejam untuk kita" ujarnya.
Aku mengangguk setuju. "Memang sudah saatnya aku keluar dari rumah. Mencari saudagar kaya untuk dinikahi. Umurku sudah 18 tahun" ujarku terkikik.
18 tahun
Aku menarik napas. Sudah sangat lama ibu meninggalkanku. Haruskah aku mencarinya. Keluar dari Vienna, keluar dari rumah ayah, keluar dari zona nyaman. Haruskah?
Aku keluar kedai saat hampir pagi. Sam membantuku membereskan perkakas. Banyak buku ayah yang tak kubawa bersama. Tapi liontin ayah dan ibu serta aku saat bayi selalu melingkar dileherku.
Kami pergi dengan menggunakan kereta. Aku dan sam membawa koper yang cukup besar. Kami ke Praha tanpa tujuan, tanpa uang yang banyak. Hanya membawa diri dan mengikuti dimana kaki melangkah.
"Aku hanya memiliki 2 keping emas. Kau satu dan aku satu" ujarnya ketika di kereta. Yang kami inginkan hanya satu. Sukses di Praha apapun caranya. Dan inilah cerita kedewasaanku dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Sin (complete)
Fiksi Sejarah"Aku menyayangimu tapi diluar yang kuketahui. Kau adalah pengganti ayahku, apakah perasaanku ini berdosa?" Vanessa bukan gadis yang mudah ditakhlukan. Tapi, bersama pamannya Ziyan. Vanessa memilih menunggu. Akankah Ziyan tahu persaan kemenakannya i...
