[ ON GOING ]
Usaha seorang Alsya yang mencintai seniornya, Firman, secara diam-diam membuahkan hasil.
Namun,
Bagaimana jadinya ketika pernyataan cinta bukan akhir dari sebuah cerita?
Dan,
Bagaimana ketika pernyataan cinta membuat seseorang terluka?
Sepasang manusia yang sedang berbincang sontak menoleh ketika ada sebuah motor Ducati hitam yang hendak masuk ke rumah tersebut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sang lelaki membukakan pagar rumah untuk mempersilahkan si pemilik motor masuk.
Tak lama, si pengendara turun dan membuka helmnya.
"Dimas?"
"Eh? Anjing, jadi ganteng lu ya!" Dimas menghampiri orang tersebut.
"Tai, dari dulu juga udah ganteng gua mah! Lo masih suka pake boxer spiderman gak? Hahahahaha!"
"Berisik, setan. Miss u, old friend!!!" Dimas memeluk lawan bicaranya. Bukan meluk kaya ke cewek ya, Dimas masih normal. Bukan LGBT. Dimas meluk ala-ala cowok gitu, deh.
"Asik banget ya reunian masa kecilnya, sampe gasadar gue masih di sini." Alsya sudah menyenderkan tubuhnya pada tembok terdekat. Ia mengedarkan pandangannya, seakan ia berbicara kepada angin lalu.
"Lo ngapain disini? Nganterin adik gue balik?"
"Ngga. Gue lagi jadi salesman. Yaiyalah gue nganterin adik lo, apa lagi?" Dimas memutarkan bola matanya.
"Pacaran yaaaaaa?"
"Pacaran palalu peang." Alsya menoyor kepala kakaknya.
"Masih on the way nih, doain ya!" Dimas mengeluarkan smirk andalannya.
Alsya terlalu malas untuk membicarakan ini.
"Ayo, ah masuk."
Alsya mendahului cowok-cowok di belakangnya yang masih sibuk membicarakan tentang masa kecil mereka. Pas mereka manjat pohon lah, dikejar anjing lah, mencet-mencetin bel rumah tetangga lah, macem-macem emang mereka itu.
Ketika Alsya mulai menaiki tangga untuk ke kamarnya, seseorang memanggil namanya.
"Apa?"
"Mau kemana lo?"
"Kamar lah."
"Bego ya jangan dipelihara lah, Al. Ini kan masih ada Dimas yang nganterin lo pulang, kok lo malah ke kamar?"