Banyak hal yang terjadi di sekolah. Ven yang baru saja kembali dari olimpiade merasakan aura yang berbeda di sekitar sekolah. Aura ketakutan, ketegangan dan suram. Ven berjalan cepat ke depan dan menatap beberapa murid yang bergerombol.
Ketika hampir sampai di ujung koridor. Ven tidak sengaja mendengar percakapan di antara mereka.
"Hey, kalian tahu Gerry kakak kelas yang tampang nya naujubillah ganteng banget itu!" ucap gadis berambut pendek pada teman-temannya dan mereka menganguk setuju.
"Kemarin dia di ketemukan dalam keadaan tewas mengenaskan!" ucap salah satu nya lagi dengan tampang ketakutan.
"Iya kabarnya ada beberapa luka cambuk dan irisan benda tajam di tubuhnya!" ucap gadis berambut sebahu itu dengan berbisik.
Gerry meninggal? Mana mungkin!. Dengan cepat Ven menaiki anak tangga menuju kelasnya. Yogi dia harus bertemu dengan Yogi. Ini semua hanya kabar burung antar siswa.
"Yogi!!!" teriakan Ven menggema di seluruh lantai tiga. Deru napas nya yang terlihat kesusahan. Dengan cepat dia melangkah pada Yogi yang terlihat sedih.
"Ven, Gerry.." ucapan Yogi terhenti dengan tetesan air mata yang terus turun. Ven memeluk sahabatnya itu dan menepuk punggungnya dengan sabar.
Gerry adalah teman yang baik bagi mereka berdua. Otaknya juga pintar untuk jurusan Bisnis. Gerry memang berbeda jurusan dengan Yogi dan Ven. Mereka sahabat dari SMP.
"Gerry... Gerry... Dia meninggal dengan banyak luka Ven!" ucap Yogi terbata. Ven hanya mampu merendam emosinya saat ini. Ven merasa sangat kehilangan untuk saat ini. Gerry anak yang baik. Tapi siapa yang tega melakukan hal ini pada nya.
"Tenang lah, ayo kita bolos! Aku ingin melihat Gerry." ucap Ven dengan air mata yang menetes.
Dapat kah kita tau, saat dimana kita bersama saat itu adalah hal terakhir?. Saat dimana kamu dan kita bersama. Tawa mu masih jelas di ingatanku. Candamu masih tergiang di telingaku. Sahabatku, semoga kamu tenang disana.
***
Saat ini mereka tengah duduk di antara bebatuan. Batu itu bertuliskan dengan jelas nama sang sahabat. Nama yang harusnya dia cari sewaktu hilang.
Gerry Nauval..
Aku akan mencari siapa pelaku nya. Tak perduli itu dengan nyawa ku. Aku hanya ingin tau apa salah mu kenapa ini terjadi pada mu. Maafkan aku yang meninggalkanmu demi beasiswaku.
"Gi, Gerry di temukan dimana?" tanya Ven dengan pandangan mata kosong yang sulit di mengerti.
"Lab komputer!" ucap Yogi sambil membersihkan tangannya dari kelopak bunga.
"Aku pulang duluan, ada urusan!" ucap Ven dengan senyum yang di paksa kan.
"Ada apa?" tanya Yogi bingung. Namun Ven hanya mampu menggeleng dan tersenyum.
Ven meninggalkan Yogi yang terduduk di batu nisan Gerry. Yogi memandangi punggung kecil yang menjauh saat ini.
"Ger, biar aku yang jaga Ven. Aku akan memberi kan nyawa ku pada Ven. Harusnya kamu menyatakan cintamu saat itu, bukan malah pergi seperti ini!" ucap Yogi dengan mata tertutup.
"Aku pergi, semoga kamu tenang disana.." ucap Yogi dan pergi dari makam Gerry. Meninggalkan sepucuk surat di atas makam itu. Surat terakhir Gerry.
***
Lab Komputer saat ini terlihat menyeramkan. Sebenarnya ada garis kuning yang bertanda di larang masuk. Tapi bukan Veneria nama nya jika tidak melanggar aturan. Saat ini Ven sedang melihat-lihat beberapa fasilitas di lab komputer ini. Hingga di satu titik. Sepertinya pihak kepolisian melawatkan sesuatu. Tanpa keraguan Ven mendekati dinding yang terlihat darah yang muncrat dan beberapa serpihan papan.
Dia terus mendekati dinding itu dan mencium bau busuk yang menyengat. Ven menunduk dan melihat genangan darah di lantai. Tanpa sengaja tangan Ven menyentuh ujung dinding yang mengakibatkan lemari di sebelah dinding itu bergeser. Di ambilnya ponsel di saku nya dan membuka aplikasi senter. Ruangan itu sangat gelap. Ven memasuki ruangan itu dan menemukan tangga yang mengarah ke atas, di ikutinya alur tangga itu dengan hati-hati. Di beberapa bagian tangga masih ada bercak darah. Jalanan ini semakin lama semakin mengecil.
"Ugh!" lagi-lagi bau busuk menyengat hidung kecil Ven. Hingga tiba di ujung tangga terdapat pintu yang kemungkinan sama dengan pintu di lab komputer tadi. Seharusnya jika dugaan Ven benar, pintu ini menuju Lab administrasi perkantoran karena menuju ke atas. Di bukanya pintu itu. Namun ini bukan gedung sekolahnya! Sekali lihat saja Ven tau ini SMA Binkar!. Bagaimana bisa Lab komputer sekolah nya tembus ke gedung inti SMA Binkar?. Ven melihat beberapa murid yang masih berada di sekolah. Baru saja dia ingin. Menuruni anak tangga di sebelah tandon besar namun gagal. Di hadapannya kini berdiri seorang pria tampan dengan kerah baju yang tak terkancing.
"Ada apa?" tanya pria itu dengan bingung menatap Ven yang pucat saat ini.
"Bagaimana bisa kamu ada di gedung inti? Satpam melarang sekolah lain memasuki gedung inti!" ucap pria itu sambil menarik tangan Ven untuk bersembunyi di belakang tandon.
"Zen...." ucap Ven memastikan. Zen mengerutkan keningnya dan menatap Ven dengan bingung.
"Sahabatku, meninggal" ucap Ven sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan kecilnya. Zen pun mengelus puncak kepala Ven dengan lembut. Zen tau Ven pasti merasa bersalah saat ini. Kalau saja dia tidak mengikuti olimpiade kemaren, dia pasti akan mencari Gerry.
"Tenanglah, kamu harus belajar mengikhlaskannya saat ini. Sekarang dia pasti ingin kamu baik-baik saja. Dan dia pasti bangga padamu!" ucap Zen berusaha membujuk Ven.
"Dia meninggal dengan tidak wajar, menghilang selama tujuh hari dan di ketemukan dalam keadaan mengenaskan. Gerry anak baik dia tidak seperti ku!" ucap Ven masih dengan sesugukan. Zen diam dan memeluk Ven. Zen tau saat ini yang di butuhkan Ven bukan kata-kata tapi ketenangan.
"Banyak luka cambukan dan benda tajam. Belum lagi bagian perutnya terbelah, kata Yogi kemungkinan ginjalnya hilang" ucap Ven dengan tangis yang tak kunjung berhenti.
Ginjal?
"Apa hasil autopsi (otopsi) nya sudah keluar?" tanya Zen dengan hati-hati. Ven mengedipkan mata nya dengan lucu membuat Zen terkekeh.
"Belum, harusnya besok siang hasilnya keluar. Sebentar aku melupakan satu hal!" ucap Ven menatap Zen, membuat Zen menatap Ven dengan alis terangkat.
"Ada apa? Apa yang kamu lupakan?" tanya Zen dengan penasaran.
"Aku tadi lewat Lab komputer!" ucap Ven. Lagi Zen di buat bingung olehnya.
"Jangan bercanda! Lab komputer sekolahmu berada di ujung dari tempat ini!" ucap Zen dengan gelengan kepala.
"Tidak! Aku memang lewat Lab! Dan tembus di balik dinding itu!" pekik Ven sambil menunjuk ring basket di dekat tandon. Zen menatap ring itu dengan dingin.
"Itu ring di pasang sama Terdi jadi gak mungkin lah!" ucap Zen dengan mengibaskan tangan.
"Lagian Ferana juga di temukan dalam keadaan yang lebih mengenaskan!" ucap Zen membuat Ven menatapnya.
"Ferana, gadis satu kelompok denganku. Dia juga menghilang bersamaan dengan hilangnya Gerry saat itu...." ucapan Zen terhenti membuat Ven menatapnya bingung.
"Ferana juga mengalami hal yang sama seperti Gerry! Hanya saja banyak bekas pemerkosaan ditubuhnya!" ucap Zen seperti mendapat undian.
****
Maafkan cerita ini yang sempat di unpublish ya. dan maaf kalo garing.
Selamat Membaca!
KAMU SEDANG MEMBACA
DEATH LOVE
Teen FictionDua anak manusia yang memiliki kecerdasan diatas rata - rata dan memiliki karakter berbeda. Seperti, Air dan Api yang tak bisa bersatu. Zen dengan ketenangan dan kecerdasannya. Sedangkan, Ven dengan emosinya yang tak dapat di tahan dan daya ingat ya...
