Azalaea’s POV
Hari Rabu, 15 Maret 2011. Hari dimana aku dan Kak Candra resmi menjadi sepasang kekasih dan tak terasa sekarang telah lebib dari sebulan aku menjalin hubungan dengan Kak Candra. Layaknya pasangan lain, kami sering mendapat masalah. Dan kebanyakan masalah yang menimpa kami adalah masalah sepele. Oleh karenanya, kami tak pernah benar-benar bertengkar karena masalah yang menimpa kami.
“Bener nih uda berani ketemu Mama aku?” tanya Kak Candra kepadaku.
Saat ini kami berada di kantin kelas sepuluh. Dan Kak Candra merupakan orang yang menonjol di antara orang-orang yang ada di kantin ini. Karena bedge kuning dengan lambang kelas sebelas yang melekat pada seragam putihnya di bagian lengan kanan atas. Sedangkan di kantin ini, badge hijaulah yang mendominasi karena ini memang kantin untuk kelas sepuluh yang menggunakan badge hijau.
Namun, Kak Candra tak pernah mempedulikan itu. Ia tak pernah malu jika berada di antara juniornya. Bahkan Kak Candra mengatakan lebih suka berada di antara juniornya dari pada seniornya. Well, aku masih mempunyai satu angkatan senior lagi. Yaitu kelas dua belas. Yang menurut siswa junior merupakan siswa paling menyeramkan di sekolah.
“Kayaknya sih udah.” Jawabku sedikit ragu. “Tapi nanti Tante Selvi ada di rumah kan?”
Kak Candra menjawab pertanyaanku dengan sebuah anggukan. Lagi-lagi aku menemani Kak Candra menyantap makan paginya di kantin saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Saat dimana siswa menghamburkan dirinya di kantin untuk membeli makanan agar tak kelaparan karena akan mengikuti beberapa jam pelajaran lagi.
Hari ini untuk yang kesekian kalinya Kak Candra berencana untuk mengajakku ke rumahnya untuk bertemu kedua orang tua Kak Candra. Bertambahnya Kak Candra mengajakku ke rumahnya, bertambah juga tolakan yang kuberikan kepada Kak Candra. Aku tak pernah siap saat Kak Candra mengajakku untuk ke rumahnya. Namun, kali ini kubulatkan tekadku untuk tak lagi menolak ajakan Kak Candra, oleh karena itu aku mengiyakan ajakannya hari ini.
“Kenapa nggak sarapan di rumah? Kan seru kumpul bareng keluarga?”
Aku sendiri tak begitu paham mengapa Kak Candra tak pernah menyantap sarapan di rumah dan lebih memilih sarapan di kantin ditemani olehku.
“Nggak sempat.” Jawab Kak Candra pendek.
Jika ditanya, jawaban yang diberikan Kak Candra selalu sama. Tak sempat. Aku rasa Kak Candra mengalami masalah saat bangun, jadi ia bangunnya kesiangan dan tak sempat menyantap sarapan di rumah bersama keluarganya. Padahal di keluargaku sarapan dan makan malam sangat penting. Saat dimana anggota keluarga berkumpul sebelum dan sesudah beraktifitas. Walaupun ada yang tak ingin menyantap makanan karena suatu alasan yang bahkan tak masuk akal, kami tetap berkumpul di meja makan.
Aku memperhatikan Kak Candra dengan sesekali mengaduk-aduk jus stoberiku dengan sedotannya. Aku tak pernah menemani Kak Candra menyantap makanannya dengan tangan kosong. Karena Kak Candra selalu mengancamku denan mengatakan ia akan mewurungkan niatnya untuk menyantap makanan di kantin walaupun telah ia pesan, bahkan telah ia bayar.
Terkadang aku suka tersenyum bahka tertawa sendiri menyaksikan tingkah Kak Candra yang sedang makan yang hampir sama dengan anak kecil. Belepotan.
Kak Candra mengangkat kepalanya, menjadikan wajahnya yang sedari tadi menatap piring nadi goreng bisa aku lihat. Dan tawaku tak bisa ditahan lagi menyadari satu hal yang lucu pada Kak Candra.
“Ngetawain apa sih?” tanya Kak Candra setelah menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Ku tunjuk sudut bibirnya yang benar-benar belepotan menggunakan pandangan mataku tanpa menghilangi tawa kecilku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Senior
FanfictieTak ada yang tau bagaimana kehidupan membawaku pada kata hidup seperti yang selama ini aku impikan. Aku juga tak pernah menyangka, pertemuanku denganmu akan membawa sebuah perubahan yang berarti dalam hidupku. Kau berarti untukku. Kalimat itu begitu...
