Malam itu juga, setelah kejadian yang membuatku benar-benar terguncang, entah apa rasanya, semua tercampur aduk. Rasa takut, marah, bahagia, bersalah, sedih, namun satu yang dominan, menakutkan. Aku sudah coba menenangkan diri, duduk di dalam rumahku sesantai mungkin, tapi tanganku masih gemetar setelah kejadian itu, sesekali ibuku datang dan menggenggam, gemetar itu pun berkurang, tetap saja tanganku masih gemetar walau tidak separah awal kejadian.
"Masih tidak bisa mengendalikannya bud?"
Oh, Rizal yang menyapa.
"Iya, entah kenapa, padahal sudah dibantu beberapa kali, tetap saja-"
"Karena yang bergetar bukan tangan tapi pikiran dan hatimu."
Eh? Bicara apa dia?
"Pikiranmu mungkin lebih tenang dari tadi, tapi hatimu. Apa kamu masih ragu dengan tindakanmu?"
"Aku tidak ragu tapi... aku belum yakin dengan omonganmu."
Rizal, keheranan sekejap dengan mengangkat alis sebelah.
"... Oh ya! Maaf-maaf, baik aku ceritakan, sebentar mungkin ini akan memakan waktu yang lama."
Rizal pergi ke dapur, tak lama dia kembali dengan secangkir teh dan memberikanya kepadaku.
"Selama ini aku bukannya berbohong, hanya tidak terus terang. Semua yang aku katakan itu benar. Kuncoro. Dia adalah salah satu ketua kelompok bandit yang cukup besar cakupan wilayahnya. Dan sayangnya dulu ketika kami masih bersama kami pernah bertempur sengit dan mereka kabur."
"Kami? Jadi kamu tidak sendiri?"
"Yap, oke jangan menyela dulu. Akan kujelaskan satu-persatu."
Baiklah, aku akan menyimpan semua pertanyaan dulu.
"Tidak kusangka Kuncoro masih ingat dengan wajahku, dia mengejarku sudah sepanjang 3 hari, dan ketika aku berhasil lolos dari pandanganya aku menemukan builder hut, tempat yang tak lain berpenghuni warga sini juga. Setelah aku di percaya oleh mereka, aku disuruh datang kesini. Dan yang pasti dengan syarat tertentu."
"Apa itu?"
"merahasiakan semua hal yang berada diluar desa. Dan ini pula alasan peraturan desa di buat seketat mungkin."
Rizal menghela nafas dalam-dalam, kemudian memasang muka serius dan menatapku.
"Perang sedang berkecambuk diluar sana. Dan di daerah sini, perang kekuasaan dengan para bandit, goblin, dan kita manusia. Sudah tidak ada batas ras dan jenis, bahkan sesama mahluknyapun kadang saling menghancurkan. Dan kabar baiknya adalah peperangan ini mulai berkurang jumlahnya".
Kabar baik apanya, itu hanya berkurang.
"Hemm... lalu tidak ada sudut baik dan buruk? Termasuk kamu?"
"Dulu, mungkin... Tapi sekarang baik dan buruk mulai terlihat jelas. Dan aku tak perlu menjelaskan berada di sudut mana kan?"
"Bagiku, itu belum cukup."
"Aduh kamu ini, lalu harus seperti apa agar kamu percaya?"
Rizal merasa lesu, terlihat jelas di wajahnya. Meminum habis teh yang kupunya untuk menjernihkan pikiran. Aku pun mulai berfikir. Aku mulai mencari akal, sesuatu yang sekali membuatku yakin hah... Ini mungkin gila tapi aku akan mencobanya.
"Bagaimana kalau aku ikut bersamamu keluar desa?"
"Eh? Bukanya itu terlalu mudah?"
"Dan..."
"Dan...?"
"Mengajariku, bukan desa ini cara bertarung yang terkuat. Bahkan para penjaga desa ini tidak bisa menahan Kuncoro bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Light Stone : Wanderer Stone
AdventureAlternative title : Batu Cahaya : Batu Pengelana -CERITA INI JADI DRAFT, jd nulisnya berantakan. Terkendala ksibukkan n blocking. Mohon maaf s besar"nya- ~(Rincianya update terus)~ Kisah ini menceritakan bagian hidup perjalanan Budi Pratama. Sebuah...
