Setelah kejadian semalam semua fikiran dan benakku serasa hancur tak tersisa. Beribu kali aku mencoba untuk meluruskan fikirku hasilnya selalu sama.
Tiba tiba pintu kamarku terbuka dan ratu serta ibu suri berjalan dengan wajah serius.
"Puteri! Aku tau jika selama ini kau tidak bahagia disini, tapi ini...
Ini sudah keterlaluan!" Ucap ratu sambil melempar sebuah majalah yang memuat beritaku.
'Kencan Rahasia Puteri Mahkota Dengan Teman Sekelasnya'
Seketika itu juga mataku membulat melihat fotoku dan Raven saat kami dikincir.
"Puteri..."
"Ibu suri...
Maksudku nenek... itu tidak, kami hanya! Dia itu sahabatku!"
"Kau harus datang kepertemuan nanti puteri, jelaskan alasanmu disana!"
Aku hanya bisa diam saat ratu dan ibu suri meninggalkan kamarku, terduduk lemah dikasurku sembari menatap majalah yang memuat beritaku itu.
"Kapan semua ini berakhir...?"
Yah ini mungkin adalah skandal pertama bagiku, dan dampak terburuknya aku mungkin harus meninggalkan istana.
Itu tak masalah, tapi bagaimana dengan keluargaku. Tak masalah bagiku jika bahkan harus meninggalkan negeri ini, tapi kedua orangtuaku, haruskah aku membuat mereka menderita hanya karna sebuah kesalahpahaman.
•
°
Aku terduduk sambil menduk ketika telah berada dihadapan para tetua istana, bahkan Nathan pun kini juga beraa dismpingku meski pandangan dan sikapnya persis sepertiku.
"Puteri... sebenarnya apa yang terjadi, aku yakin semua itu tidak benar!" Ucap kakek kepala namun aku masih diam.
Jujur sikap diamku ini bukan saja karena takut, aku juga merasa marah dan kesal lantaran kesalahapahaman bisa mennjadi sebuah masalah sebesar ini.
"Puteri kakek kepala bertanya padamu, jawablah!" Ucap ratu tegas dan akhirnya akupun menengadahkan wajahku.
"Lelaki itu adalah Raven, sahabatku juga cinta pertamaku! Tapi salah jika para para wartawan menulis dia adalah kekasihku, padahal jelas jika statusku adalah puteri mahkota, istri sah pangeran!" Ucapku tak kalah tegas, jujur aku tak berniat diperintah disini, tak salah bukan bagiku untuk bertemu sahabatku.
"Puteru bagaimana bisa kau bersikap lancang seperti itu?" Ucap ratu tegas atau lebih epatnya marah.
"Bagaimana bisa reuny dengan seorang sahabat yang tak dijumpai selama lebih dari 5 tahun dikatakan sebagai kencan, bahkan anak usia 7 tahun pun dapat membedakannya!" Ucapku tak jalah kesal.
"Puteri bukannya menyesali perbuatanmu kau justru berucap sedemikian kasarnya dan membentak ratu!" Kali ini raja yang membentakku.
Akupun menunduk, sebulir airmata menetes dari sudut mataku dan mengalir sendu hingga m3netes kepermukaan gaunku.
"Maaf puteri tapi berita ini terlalu cepat menyebar, dan rakyat meminta pengasinganmu!" Ucap kakek kepala dan saat itu juga aku mendongak dan melihat tatapan sedih kakek kepala sementara nenek telah menangis disampingnya.
Aku terdiam, aku pernah menjalani pengasingan namun waktu itu atas keinginanku sendiri dan bukan merupakan hukuman.
Saat iulah kulihat raja dan ratu memmbuang tatapan sedih mereka dariku, aku tau ini sebuah kesalahan.
"Kalau begitu maafkan aku, aku akan ke Glass Castle dan membereskan barangku!" Ucapku datar lalu beranjak dari tempatku.
Tidak aku tidak pergi, maksudku tidak benar benar, ketika telah k3luar ruangan itu aku bersandar lemah dipintu dengan tangisan yang sejak tadi terus kutahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE YOU PRINCE
RandomEntah hal seperti apa yang diinginkan gadis seusiaku pada umumnya, benarkah kecantikan, kekayaan, status atau cinta...? Leona Lorald Helen, begitulah kiranya kedua orangtuaku memberiku nama, aku bukanlah gadis dengan segala kriteria diatas, aku han...
