Chappie 11: Everything is Gonna be Fine (a)

2.3K 127 19
                                        

Chappie 11: Everything is Gonna be Fine (a)

Dandelion baru saja terbangun dari tidur lelapnya, namun tubuhnya terasa masih lelah dan tak bertenaga. Ia terus menatap langit-langit kamarnya dan terus menghela nafas secara berulang-ulang.

Terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. "Deli, ayo turun ke bawah untuk sarapan bersama." Terdengar suara Kaka perempuannya.

Dandelion tak menjawab namun ia langsung bangun dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan diri, Dandelion keluar dari kamar lalu berjalan turun ke bawah untuk menuju ruang makan.

Terlihat semua anggota keluarga sudah duduk di kursi masing-masing, Dandelion segera duduk di kursinya.

"Selamat pagi, Dandelion sayang." Papa menyapa anak perempuannya yang kedua.

"Pagi, Pa." Balas Dandelion dengan suara pelan.

Setelah selesai sarapan, Papa meminta semuanya untuk beralih menuju ruang tengah.

Semuanya sudah duduk di sofa yang ada di ruang tengah. "Dandelion sayang, apa ada yang ingin kamu bicarakan mengenai hal yang mengganggumu?" Papa bertanya dengan nada yang sangat lembut.

Dandelion menggeleng pelan. "Tidak ada, Pa."

Papa beralih pada Mama yang duduk di sampingnya. "Apa ada yang ingin Mama bicarakan?"

Mama mengatur nafas lalu mulai berbicara. "Dandelion sayang, Mama ingin meminta maaf karena Mama menuduhmu melakukan hal yang sebenarnya tidak kamu lakukan. Mama menuduhmu tanpa bertanya terlebih dahulu padamu. Mama mengaku salah dan Mama benar-benar meminta maaf padamu, sayang." Terlihat mata Mama mulai berkaca-kaca.

Dandelion seakan disentil karena mendengar tuturan Mama. "Aku mengerti Ma, sebenarnya aku juga yang salah karena tidak memberitahukan Mama mengenai kemana uang janjan milikku selama ini aku berikan. Aku juga ingin meminta maaf pada Mama."

Mama tak bisa menahan air matanya untuk jatuh, karena mendengar ucapan anak perempuan keduanya yang terdengar sangat lembut dan tidak ada nada kesal ataupun marah sedikitpun yang ditujukannya.

Mama langsung berdiri dan berjalan mendekati Dandelion lalu duduk di sebelahnya untuk memeluk erat tubuh anak perempuannya itu. "Maafkan Mama, karena ucapan Mama waktu itu yang terdengar untuk memintamu agar bisa seperti Kaka ataupun Adikmu. Mama tak berniat untuk membandingkan kalian, Mama tak berniat untuk membedakanmu dengan anak-anak Mama yang lain. Kamu adalah Dandelion, anak Mama yang sangat cantik, baik, mandiri, dan sangat membanggakan. Mama sangat sangat menyanyangimu, Dandelion sayang. Maafkan Mama, sayang. Maafkan Mama."

Kamu adalah Dandelion, anak Mama yang sangat cantik, baik, mandiri, dan sangat membanggakan.

Mama sangat sangat menyanyangimu.

I'm gonna play those words in my mind every single day.

Dandelion membalas memeluk tubuh Mama. "Iya aku memaafkan Mama walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu dimaafkan, tapi aku senang dan lega karena kita membicarakan hal ini dan aku juga senang mengetahui kalau Mama bangga padaku. Aku juga sangat sangat menyayangi Mama."

Papa, Clover, dan Enzo yang menyaksikan apa yang sedang terjadi hanya bisa tersenyum lega karena kedua perempuan yang mereka sayangi sudah berhasil menyelesaikan dan membicarakan apa yang mengganggu pikiran mereka.

Setelah selesai adegan mengharukan antara Mama dan Dandelion, Papa harus berangkat kerja, Clover juga harus berangkat kerja, Mama memilih untuk membuat cupcakes katanya sih agar hari ini menjadi tambah manis, sedangkan Dandelion dan Enzo memilih bersantai di halaman belakang karena mereka berdua hari ini libur.

ImperfectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang