Togetherness Geng's - 1

175 29 32
                                    

Bila dilihat dari jauh, terlihat tiga perempuan yang nelangsa sedang duduk dengan pemikiran masing masing. Duduk dan nonkrong di cafe trendi, tidak membuat mereka melepaskan kerisauan mereka.

BRAK!

Satu gebrakan berhasil dibuat cewek berambut sebahu dengan bando merah dikepalanya. Lieca dan Rista yang bernotaben -sahabatnya. Hanya melengos, tidak memperdulikan teman nya yang memang suka semangat sendiri.

"Kita harus bikin trobosan!!! Kita udah mau lulus coyyy!! Masa gini gini aja??!!" ucap cewek itu, bernamakan Nabella. Dengan segala antusias dan semangatnya yang tak pernah pudar walau Belanda kembali menjajah negri dengan banyak pulau ini.

Nabella Liadenna, cewek yang mengagumi sastra ini. Memang paling semangat dengan segala hal yang berbau -baru- walaupun kadang ide nya tak masuk akal, termasuk si pencetus nama Geng mereka.

"Bikin trobosan apa lagi si? Lo kira kita pabrik makanan bikin trobosan? Basi." ucap Lieca. Kembali menyeruput lemon tea nya, tanpa mau melihat binar semangat dari teman sebangku nya-Nabella.

Lieca Arskynata, cewek yang paling santai dan cuek ini. Sering sekali, menentang ide gila Nabella. Nabella selalu saja, membuat ide yang membuat mereka kembali dihujat teman sekolah. Jadi, mendiamkan Nabella adalah jalan terbaik.

"Jangan gitu dong!! Elaaaah masa Geng kita mau gini gini aja??" protes Nabella lagi. Tak merubah posisinya, tetap berdiri dan berkacak pinggang.

Respon Lieca hanya memutar bola matanya, malas. Nabella mendengus, lalu melirik teman nya yang lain. Rista. Yang masih setia merenungi segala nilai nya.

"Rista!! Lo dukung gue kek!!" Nabella kembali menyerukan suaranya, tak peduli lagi dengan penghuni cafe yang sesekali melirik mereka dan menggeleng geleng kepala.

"Apasi? Gue masih shock sama nilai gue!!! Turun semua!!!!!!!! Lagian baru juga pengambilan raport kemarin!! Baru juga naik kelas! Lulus masih lama. " protes Rista, respon nya malah lebih mengerikan dari Nabella.

Rista Ferania, cewek yang hobby Fisika ini memang paling pintar diantara Lieca dan Nabella. Lebih tepatnya, Nabella lah yang paling bodoh atau bisa dibilang lemot.

"Kok jadi galakan lo sih Ris.." ucap Nabella merendahkan suaranya, sadar kalau Rista yang memang sering marah ini menunjukan sifat Nenek lampirnya.

"Lagian gue lagi bingung nih, bilang ke nyokap gue gimana." serakang, Rista telah membenamkan wajah nya di tas hijau toska miliknya.

"Gue nanti yang bilang Ris!! Tenang aja, kita kan tetanggaan." Nabella nyengir kuda, tanpa rasa takut menghadapi Ibunda Rista yang memang terkenal galak dan mengerikan dari Rista sendiri.

Anaknya aja galak, apalagi Ibunya.

"Jangan!!! Lo mau bunuh gue??!! Gue gamau insiden nya kaya waktu tahun kemaren. Lo kirimin Nyokap gue bunga mawar padahal dia gak suka bunga!! Lo bikin gue mau mati saat itu juga Bell!!" bentak Rista, berapi api. Kalau di komik, mungkin rambut Rista yang hitam lebat ini telah terbakar saking marahnya.

Nabella meringis. Sadar kalau tahun kemarin Nabella mengirim sebuket bunga mawar, untuk Ibunda Rista. Alhasil, Rista yang kena getah nya.

"Lagian nyokap lo aneh. Masa ga suka bunga?? Jadi, gimana bokap lo bujuk kalo lagi marahan sama nyokap lo??" Nabella menimang nimang, wajahnya terlihat berfikir.

"Lo kira Bokap Nyokap gue anak labil apa? Marahan pake segala ngasih bunga?!!" ucap Rista. Nada nya masih protes.

"Yaaa... Bokap nyokap Caca aja gitu, lagi marahan Bokapnya ngajak Dinner.." Nabella melirik Lieca, yang mulai mengalihkan pandangan karena namanya disebut. Lebih tepatnya, Caca adalah panggilan untuk Lieca. Panggilan terbaik. Setelah semua orang bingung memanggil dia apa.

Three IdiotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang